Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 November 2016

Mulutmu Adalah Wudhumu

Saya pernah membuat status di FB sebagai berikut:

Ingat dengan ungkapan seorang teman Almarhum Bapak :

" Selama manusia sadar dirinya mempunyai mulut maka masalah dapat terselesaikan. Apalagi manusia yang mengerti bagaimana membersihkan mulut dengan WUDHU secara baik dan benar maka masalah lebih cepat lagi terselesaikan dengan senyum dan damai "

Nah berkaitan dengan Wudhu, saya sempat mengenal seorang Kyai yang selalu ingin disebut ustad walaupun beberapa kyai di wilayahnya selalu minta nasehat kepada beliau.

Namanya KH Ali Hasan. Beliau meninggal dunia pada tahun 2013 pada usia 96 tahun. Beliau adalah pendiri pondok pesantren Mamba'ul Ulum Dusun Jetak Desa Benda Kec. Bumiayu Kab. Brebes Jawa Tengah. Beberapa orang menyebutnya ahli wirid karena kalau wirid lama sekali.

Selama beberapa tahun mengenal beliau, saya mengenalnya sebagai orang yang tidak pernah lepas dari Wudhu. Apabila merasa batal wudhunya maka beliau selalu berwudhu kembali. Beliau sangat rendah hati. Saat berbicara dengan seseorang, beliau selalu menunduk penuh penghormatan.

Walaupun banyak santrinya, saat makan bersama tamunya maka beliaulah yang menyediakan nasi dan lauk pauknya bahkan menuangkan air teh satu per satu kepada tamunya. Saat ngobrol dan tahu tamunya kehabisan rokok, beliau mohon pamit sebentar. Ternyata beliau beli rokok untuk tamunya dan uniknya merk rokoknya disesuaikan dengan apa yang dihisap oleh tamunya. Beliau tidak merokok tapi untuk menghormati tamunya beliau sering ambil satu batang rokok dan ditempelkan ke mulutnya tapi tidak dinyalakan rokoknya.

Beliau sepertinya tahu kalau tamunya kekurangan uang untuk pulang ke rumah maka itu beliau sering memberi sangu berupa uang untuk ongkos pulang. Itupun saya alami bahkan setiap saya ke pesantrennya maka selalu diberi sangu karena beliau tahu saat itu saya sedang susah. Walaupun kadang beliau bercanda dengan memberi sangu berupa satu batang rokok yang ternyata dalam lintingan rokok tersebut ada uang 100 rb rupiah padahal lintingan rokok tersebut baru dibuka kemasannya.

Saya pernah bertanya kepada beliau

" Pak Kyai, saya sering perhatikan dalam satu hari Pak Kyai sering kali berwudhu. Apa tidak capek ? Mengapa harus demikian ? "

" Hehehe kamu perhatiin banget. Berwudhu bagi saya adalah cara untuk membersihkan diri mulai dari pikiran, pendengaran, ucapan, hati, langkah dan perilaku agar terhindar dari godaan syetan dan nafsu yang ada dalam diri manusia sehingga terjaga diri ini. Jadi sama halnya dengan syahadat . Jangan sampai batal syahadat kita. Maka itu harus selalu dijaga dengan benar. "

" Oh gitu. Tapi apa ga capek, Pak Kyai? "

" Hehe maka itu supaya tidak capek, jagalah wudhunya seharian penuh sebisanya. Kalaupun batal segeralah berwudhu. Ketenangan akal pikir, hati dan perbuatan akan diperoleh sehingga kita tidak sembarangan berpikir, berbicara dan berbuat. Semuanya terasa indah dan damai hidup di dunia ini."

Benar juga dalam hati saya. Setiap ada masalah maka dengan berwudhu hati jadi tenang dan masalah jadi ringan serta emosi terjaga. Saya pikir boleh juga tuh dijalankan apabila kita ingin melakukan sesuatu sebaiknya berwudhu contohnya saat ber-medsos ria sehingga status, share info dan sebagainya terhindar dari perbuatan fitnah, hoax dan caci maki.

Ya gitu aja untuk pagi ini karena saatnys isi air ke dalam gentong, siapa tahu ada yang membutuhkan untuk berwudhu.

Minggu, 20 November 2016

Ceramah Khotib Jumat Yang Membawa Perubahan

Pernahkan kalian shalat Jumat? Bagi Muslim pasti jawabannya pernah dong. Pertanyaan berikutnya adalah pernahkah mendengar Khatib Jumat membicarakan isu-isu yang menyentuh langsung kehidupan umat Islam di lingkungan sekitar mesjid? Maksudnya? Khatib yang dianggap mempunyai ilmu agama seharusnya rasa dan perasaannya lebih terasah dengan isu-isu sekitarnya sebagai makhluk sosial yang Rahmatan Lil Alamin.

Contohnya khotib yang sedang berceramah dimana mesjidnya berada di perumahan akan menyinggung isu-isu yang menjadi masalah di perumahan tersebut misalnya:

" Hai saudara-saudaraku seiman, kalian pasti melewati jalan A, banyak sekali sampah berserakan mari kita bersihkan bersama mulai dari RT, RW sampai masyarakat sekitar untuk bergotong royong membersihkannya. Perlu ada aksi bersama ya. Dan juga bersihkan selokan air atau gorong-gorong yang bahyak sampah dan sedimennya karena KEBERSIHAN ADALAH SEBAGIAN DARI IMAN. "

" Hai saudara-saudaraku seiman, apabila ada tetangga sakit dan tidak mampu harap dibantu. Laporkan kepada RT, RW sampai lurah dan diskusikan bersama masyarakat sekitar untuk segera menolongnya."

" Hai saudara-saudaraku seiman, mulai perhatikan dengan serius tentang pendidikan anak kita. Jangan sampai ada anak putus sekolah karena masalah biaya "

Apabila berceramah dimana mesjid berada di depan jalan raya.

" Hai saudara-saudaraku seiman, tertiblah berlalu lintas. Jangan serobot sana serobot sini karena membahayakan diri dan orang lain. Jangan jalan melawan arus karena membahayakan anda. Kalau keluar dari gang atau jalan kecil menuju jalan besar, harap kalian lihat kanan kiri jangan nyelonong aja karena membahayakan anda dan orang lain. Pakailah helm, bawa SIM dan STNK karena kita sebagai muslim harus taat dan tertib berlalu lintas sebagai perwujudan dari ibadah kita sebenarnya. Saat ibadah sholat, tertib dalam berwudhu, tertib rakaat dan bacaannya. Jadi tertib ya.. "

Dst. Masih banyak isu-isu yang bersinggungan langsung dengan masyarakat di suatu lingkungan yang dapat disampaikan oleh seorang khotib. Tanpa perlu menyinggung agama orang lain. Karena Umat Islam sendiri yang malu kalau kita tidak dapat menyelesaikan permasalahan umat di lingkungan terdekat.

Kalau teman-teman menemui khotib yang rajin menyinggung isu-isu di lingkungan mesjid tersebut, mohon diinfokan karena khotib seperti itulah yang mengerti tentang hakekat habluminallah wa habluminannas.

Udah ah cape bawa gentongnya...

Jumat, 18 November 2016

Saatnya Para Pemuka Agama Memikirkan Umat

Dulu saya sempat berpikir inilah saatnya umat Islam di Indonesia untuk bangkit dari ketertinggalan pendidikan, kesehatan dan ekonomi.

Pada masa apa ya? Masih ingat sekitar tahun 2000 an dimana nongol ulama/ustad/kyai dg muka-muka baru di media elektronik TV. Contohnya Aa Gym, Arifin Ilham, Yusuf Mansur sampai Alm. Udje.

Saat itu SCTV paling getol menyelenggarakan pengajian akbar live di Mesjid Istiqlal 2 minggu sekali. Pikir saya ada pencerahan bagi umat. Ulama mulai dianggap sebagai pemimpin umat yang sebenar-benarnya. Keluh kesah umat dalam hidupnya mendapatkan solusi dari pemimpinnya.

Tetapi apa yang terjadi ? Pengajian yang membosankan dan tetap saja umat bergulat sendiri dalam menyelesaikan masalahnya. Kemiskinan umat tidak menemukan solusinya. Kalau saja saat itu ustad-ustad yang sudah mendapatkan kepercayaan dari umat memanfaatkan momentum tersebut mungkin kita tidak perlu lagi curiga, iri, menuding, memaki kaum non muslim dan ras tertentu.
Maksudnya bagaimana ? Saat itu seharusnya ustad-ustad dapat dengan jernih tahu apa saja yang dibutuhkan demi kemaslahatan umat.

Contohnya adalah kemiskinan, pendidikan, dan kesehatan. Ustad-ustad tersebut seharusnya membentuk satu tim yg selalu mencari umat-umat yang membutuhkan pertolongan. 10 menit terakhir pengajian di media televisi, para ustad tersebut meminta peserta pengajian dan penonton di rumah untuk membantu saudara-saudara seimannya. Tampilkan 10 orang umat yang telah disurvei oleh tim sedang membutuhkan pertolongan.

"Saudara-saudara perkenalkan Si A sedang mengalami musibah anaknya sakit parah di rumah sakit tetapi tidak mempunyai dana untuk pengobatannya. Tolong dibantu... "

" Saudara-saudara perkenalkan si B baru saja di-PHK dan menganggur. Sebenarnya si B mempunyai keahlian ini. Mungkin ada saudara-saudara yang mempunyai info atau butuh tenaga bersangkutan. Tolong dibantu "

" Berikutnya si C hidupnya miskin dan rumahnya dah mau roboh. Tolong dibantu "

" Berikutnya si D punya anak yang putus sekolah karena tidsk ada biaya lagi. Tolong dibantu "

" Si E sedang membangun mesjid tapi dananya belum cukup. Mohon dibantu. "

" SI F membutuhkan bantuan dalam menjalankan Panti Asuhan Anak Yatim Piatu. Mohon dibantu"

Dst. Untuk lebih jelasnya dapat menghubungi tim kami. Saya yakin umat Islam di Indonesia maupun di luar Indonesia yang mampu akan berbondong-bondong membantu.

Kalau saja tiap 2 minggu, para ustad yg sudah mempunyai nama melakukan hal tersebut setiap 10 menit akhir pengajian maka itulah saatnya kebangkitan umat Islam. Karena saya yakin sekali umat Islam itu kaya asalkan dijalankan dengan benar dan amanah. Kekuatan umat Islam dalam perekonomian , pendidikan dan kesehatan akan menjadi kekuatan politik sendiri dan yang lain akan mengikutinya karena umat Islamlah penggerak perubahan di Indonesia.

Sayangnya hal itu tidak dilakukan, para ustad/ulama saat itu hanya memikirkan diri dan golongannya serta terlena dengan keselebritisannya. Jadi tidak usah kaget umatnya tetap jalan di tempat dan dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu.

Yang menariknya isu aseng selalu dihembuskan saat pilkada padahal justru asenglah yg banyak berbuat demi kemaslahatan umat baik muslim maupun non muslim. Ironis.

Sabtu, 04 September 2010

Bolehkah Saya Curhat ?

curhatrehatkopi-suse.blogspot.com

Dua hari ini saya selalu merasa ada sesuatu yang hilang dan hampa sekali. Kejenuhan melanda diri ini, sepertinya tidak ada harapan dan tujuan yang pasti. Mungkin hal ini disebabkan oleh banyak persoalan yang saya hadapi.
 
Tetapi hari ini saya banyak sekali mendapatkan banyak hal yang membuat saya bahagia. Bahagia ? Ya bahagia tetapi bahagia batin. Ada kepuasan tersendiri yang sulit untuk diungkapkan. Semuanya mengalir begitu saja.

Ada seorang teman yang mengatakan demikian " Emang dasar tukang merenung. Apa-apa selalu direnungkan dan selalu dikait-kaitkan dengan apa yang sedang terjadi baik yang ada di sekitar maupun di luar sana. " Mungkin inilah kelemahan saya selama ini yaitu semuanya harus direnungi dan dibaca apa maksud kejadian-kejadian yang sedang berlangsung. Tetapi bagi saya, semuanya adalah bagian dari "Iqro" saya. Baca dan bacalah, semuanya pasti mengandung makna dan mengapa hal tersebut bisa terjadi serta kejadian tersebut bukanlah sebuah kebetulan.

Hal pertama yang ingin saya sampaikan adalah sebuah kesejatian. Kesejatian diri yang digambarkan dengan Guru Sejati. Maka itu saya menulis tentang Puasa dan Guru Sejati. Tulisan tersebut merupakan hasil dari membaca saya menjelang 10 hari terakhir puasa di bulan Ramadhan dimana umat Islam selayaknya melakukan perenungan lewat I'tikaf untuk melakukan evaluasi kembali apakah puasa kita selama ini memang benar dan sesuai dengan perintah Allah SWT. Semuanya sudah saya jelaskan di tulisan tersebut.

Yang kedua adalah tadi menjelang buka puasa tiba-tiba terlintas kata-kata di pikiran saya tentang sebuah kesucian mata. Ternyata memang benar rusak atau tidaknya akhlak diri dimulai dari mata. Dari mata itulah menggerakkan seluruh organ tubuh untuk merespon apa yang dilihat. Apakah responnya baik atau tidak baik tergantung kepada keimanan dan kemampuan Iqro yang dimiliki.

Padahal sebelumnya tidak ada pikiran atau ide sama sekali. Semua suasana hati saya tuangkan di Facebook baik tulisan, musik dan sebagainya. Tetapi ada yang menarik setelah saya membaca status salah seorang Kompasianer yang merasa senang melihat iklan kartu telepon AXIS. Dia mengatakan kalau iklan tersebut lucu sekali dan menghibur serta kreatif. Tetapi yang saya baca bukan lucu atau kreatifnya. Rupanya Allah mengingatkan saya tentang makna sebuah keikhlasan dalam perbuatan sehari-hari walaupun sekecil apapun dampak yang diberikan kepada lingkingan sekitar.

Memang tidak mudah menjalankan dan melakukan dengan embel-embel "Ikhlas" sehingga bagi saya kata "Ikhlas" tidaklah mudah untuk didefinisikan dengan tulisan tetapi dengan perbuatan (laku lampah). Intinya adalah melakukan, melakukan dan melakukan. Lho kok ke situ-situ lagi ? Iya memang harus melakukan.

Contoh yang mudah adalah iklan Jarum 76 yang menceritakan tawar-menawar 2 jin dengan menjanjikan beberapa permintaan. Awalnya hanya satu saja tetapi karena diprovokasi oleh jin yang lain maka keluarlah tawar menawar yang sebetulnya hanyalah permainan antara manusia dengan jin. Ada kesepakatan yang terjadi. Coba saja kalau jin yang pertam mengerti dan tahu akan tugasnya yaitu hanya dialah yang diberikan tugas untuk menawarkan satu permintaan kepada manusia maka tidak akan kecolongan. Tetapi ini hanyalah iklan, lagipula mana ada jin melakukan tawar menawar selayaknya manusia. Intinya adalah yakinlah kepada yang satu dan mudah terprovokasi oleh yang lain atau mudah diiming-imingi karena sebenarnya kepuasan manusia sudah ada ukurannya. Jadi janganlah berlebihan dan disesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki.

Selanjutnya adalah dijadikannya saya sebagai teman oleh Tristan Lecomte di Facebook. Sungguh luar biasa dan di luar dugaan karena sejak saya mengajaknya berteman sekitar 1,5 bulan yang lalu, hari ini beliau memberikan konfirmasi dan sempat melakukan pembicaraan via mesej di FB. Banyak yang saya dapat dari pembicaraan tersebut yaitu keserhanaan diri dan cara berpikir beliau dalam memandang dunia yang katanya adalah tanggung jawab umat manusia di dunia untuk menjaga, merawat dan menjadikannya lebih baik. Saya sempat mengundangnya ke Indonesia untuk melihat industri kecil atau industri rumah tangga. Siapa tahu beliau tertarik untuk mengenalkan produk-produk khas Indonesia. Who knows ? jawab beliau. Kembali lagi saya melakukan perenungan apakah Allah sedang memberikan suatu petunjuk kepada saya dengan pertemuan tersebut ? Kembali kata kuncinya adalah melakukan, melakukan dan melakukan sesuai dengan Qudrat dan IradatNya. Jangan pikirkan apakah berhasil atau gagal, dosa atau pahala, surga atau neraka ? Pokoknya melakukan dengan keikhlasan atau tawadu. Semoga saja ketidakadilan bagi si kecil di Indonesia dapat diatasi dengan gaya perdagangan Fair Trade-nya Tristan Lecomte.

Yang lebih unik lagi adalah saat saya tanpa sengaja mendengarkan lagu Last Child yang berjudul "Diary Depresiku". Lagu ini menarik perhatian saya walaupun sepintas seperti tidak hubungannya dengan kegalauan diri saya selama 2 hari. Tetapi kalau kita menilik liriknya maka akan didapat makna kerinduan akan kedamaian diri dan keluarga. Ya keindahan perdamaian dan adanya keikhlasan untuk mengakui kesalahan-kesalahan yang diperbuat selama ini walaupun kesalahan tersebut akibat dari ketidakpuasan atas suasana rumah dan keluarga.

Nah lirik lagu tersebut bisa berkaitan erat dengan suasana negara kita saat ini yaitu suasana kebatinan yang kurang menguntungkan bagi rakyat untuk hidup bergairah dan penuh dengan konflik antar kita. Jadi dituntut adanya keikhlasan untuk bersabar dan bercermin diri. Apakah selama inikita memang sudah berbuat baik untuk diri dan banyak orang ? Kalau kita tidak ingin dikecilkan, dikucilkan ataupun diremehkan oleh orang lain maka itu kita harus mau rendah hati untuk terus berjuang dan mandiri serta yakin akan kemampuan yang dimiliki. Bukan hanya yakin saja tetapi haqqul yakin dengan melihat potensi yang dimiliki. Disinilah nikmat syukur yang harus dikedepankan atau dilakukan secara konsisten.

Itulah beberapa curhatan saya. Apakah yang saya alami hari ini merupakan sebagian hikmah puasa ? Ataukah ini yang dinamakan Nur Lailatul Qadar ? Saya haqqul yakin kalau Nur Lailatul Qadar telah datang dan hanya menghampiri orang-orang yang mau berpikir (Ulil Albab).

NB : berikut ini saya akan tuliskan lirik lagunya Last Child "Diary Depresiku". Mudah-mudahan dapat bermanfaat dan renungkanlah.

Malam ini hujan turun lagi
Bersama kenangan yang ungkit luka di hati
Luka yang harusnya dapat terobati
Yang ku harap tiada pernah terjadi

Ku ingat saat Ayah pergi, dan kami mulai kelaparan
Hal yang biasa buat aku, hidup di jalanan
Disaat ku belum mengerti, arti sebuah perceraian
Yang hancurkan semua hal indah, yang dulu pernah aku miliki

Wajar bila saat ini, ku iri pada kalian
Yang hidup bahagia berkat suasana indah dalam rumah
Hal yang selalu aku bandingkan dengan hidupku yang kelam
Tiada harga diri agar hidupku terus bertahan

Mungkin sejenak dapat aku lupakan
Dengan minuman keras yang saat ini ku genggam
Atau menggoreskan kaca di lenganku
Apapun kan ku lakukan, ku ingin lupakan

Namun bila ku mulai sadar, dari sisa mabuk semalam
Perihnya luka ini semakin dalam ku rasakan
Disaat ku telah mengerti, betapa indah dicintai
Hal yang tak pernah ku dapatkan, sejak aku hidup di jalanan

Wajar bila saat ini, ku iri pada kalian
Yang hidup bahagia berkat suasana indah dalam rumah
Hal yang selalu aku bandingkan dengan hidupku yang kelam
Tiada harga diri agar hidupku terus bertahan


Rabu, 01 September 2010

Lebaran Yang Harus Melebar Kemana-mana

Lebaran bagi bangsa Indonesia adalah budaya setelah menjalani puasa di bulan Ramadhan sebulan penuh. Dikatakan budaya karena di dalam Islam tidak dikenal dengan istilah lebaran. Dalam Islam yang dinamakan Hari Raya Akbar adalah Hari Raya Qurban atau Idul Adha. Sedangkan penamaan Lebaran dalam Islam dikenal dengan Idul Fitri.

Fitri bisa berrati suci atau kembali kepada fitrahnya sebagai manusia. Pertanyaannya adalah sudah berapa kali kita merayakan Lebaran ? Berapa kali kita mengalami fitrah kembali ? Apa yang dirasakan setelah puasa di ulan Ramadhan ? Bagaimana kualitas keimanan kita setelah puasa di bulan Ramadhan ? Apakah fitrah identitik dengan hura-hura atau perenungan ? Jawabannya hanya masing-masing individu yang bisa mengatakannya.

Alhamdulillah kalau sampai tahun ini kita bisa menikmati atau merayakan Lebaran atau Idul Fitri. Tandanya kita telah diberikan kesempatan oleh Allah untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas keimanan diri kepada Allah SWT, Sang Pencipta.

Bagaimana kita bisa melihat kualitas keimanan kita setelah puasa di bulan Ramadhan ? Apakah pada saat Lebaran ? Jawabannya adalah tidak. Peningkatan kualitas keimanan kita dilihat dan diimplementasikan pada 11 bulan ke depan.

Sesuai dengan kata "Lebaran", penulis berusaha untuk mengkaji kata "lebar" yang menyertai kata Lebaran. Lebar yang dimaksud adalah lebar segala-galanya. Lebar keimanannya yang diikuti oleh lebar kesabarannya, lebar kesederhanaannya, lebar pemikirannya, lebar hatinya, lebar kepandaiannya, dan lebar-lebar yang lain. Pokoknya lebar yang bisa diartikan luas seluas alam semesta ini.

Tetapi jangan sampai lebarnya lebaran hanya berupa main-main atau mainan seperti kata bonek-bonekaan, monyet-monyetan, mobil-mobilan dan lain-lain. Akhiran "an" dimaknai dengan hanya sekedar menyerupai atau semu belaka dan bukan nyata. Semuanya harus dinyatakan an dibuktikan dalam perbuatan sehari-hari sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh Nabi Muhammad SAW selama 23 tahun menuju kewaliannya. Rahmatin lil alamin benar-benar dijalankan dengan baik walaupun penuh dengan tantangan dan cobaan.

Dari sekian banyak peristiwa yang terjadi di negeri ini. Ada yang membuat miris hati ini dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kasus korupsi, bencana alam, musibah tabung gas meledak, naiknya harga-harga bahan pokok, listrik dan sebagainya sudah seharusnya para elit kekuasaan mulai melebarkan akal pikirannya agar segala kebijakannya hanya semata-mata demi rakyat dan bukan untuk golongannya terutama elit kekuasaan yang sebulan penuh menjalankan puasa di bulan Ramadhan. Mereka sendiri merasakan bagaimana susahnya rakyat di tingkat bawah yang masih berkutat pada urusan perut.

Sebetulnya Allah SWT banyak memberikan contoh pada saat umat Islam di Indonesia menjalankan puasa. Hikmah yang diperoleh adalah diam. Kenapa harus diam ? Coba diperhatikan bagi yang berpuasa maka orang yang berpuasa akan mengurangi pembicaraan yang tidak penting apalagi membicarakan orang. Lagipula kalau kita berbicara maka banyak energi yang keluar sehingga menguras energi orang yang berpuasa. Orang berpuasa secara tidak sengaja akan mendiamkan diri karena menahan hawa nafsu, makan dan minum.

Hikmah kedua adalah panas. Kenapa panas ? Orang yang berpuasa akan merasakan panas badan yang berbeda dengan panas badan pada saat berpuasa. Tandanya ada energi negatif yang sedang berperang melawan energi positif. Suasana perang itulah yang mengakibatkan panas tersebut. Bagi orang yang berhasil melewati waktu puasa dari saat subuh sampai maghrib maka panas tersebut lama kelamaan akan berkurang seiring dengan perjalanan waktu.

Hikmah ketiga adalah mengantuk. Hanya orang-orang yang tidak mau berpikirlah yang akan mengalami rasa kantuk karena otak tidak digunakan dengan sebaik-baiknya. Justru pada puasa itulah otak kita harus diasah karena ditunjang oleh kerja hati sehingga terasa ada kepuasaan lahir dan batin.

Dari ketiga hikmah tersebutlah maka kita bisa melebarkan apa yang dimiliki untuk lebih keras bekerja dan ibadah. Layaknya burung yang terbang, makin lebar sayapnya maka burung tersebut bisa terbang tinggi dan menjelajah dunia lebih jauh lagi.

Marilah kita melebarkan akal pikiran dan hati kita setelah Lebaran ini sehingga keimanan yang ada dalam diri benar-benar dapat dibuktikan dan dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari. Dan bukan melebarkan euforia lebaran dengan mengumbar uang, keriyaan, pakaian bagus dan tubuh sendiri. Karena semuanya itu adalah "penyakit" untuk 11 bulan ke depan.

Hikmah Puasa : Eat, Pray, Love

Eat, Pray, Love: One Woman's Search for Everything Across Italy, India and Indonesia (http://en.wikipedia.org/wiki/Eat,_Pray,_Love)
Sering kali Allah SWT memberikan karomahnya dalam berbagai macam peristiwa tanpa mengenal ruang dan waktu. Kebetulan sekali pada puasa ini saya mendapatkan satu hal yang menarik. Kejadiannya pada saat saya sedang menonton acara berita di TV yang menceritakan tentang peluncuran sebuah film Hollywood berjudul EAT, PRAY, LOVE. Apakah sebuah kesengajaan atau tidak dari produsernya, film ini diluncurkan bertepatan awal puasa bulan Ramadhan ini.

Sebuah film yang dibintangi oleh Julia Robert dan menceritakan kisah nyata perjalanan penulis Elizabeth Gilberth untuk mencari cinta sejati. Film ini sempat menggemparkan publik tanah air pada tahun lau karena mengambil syuting di Bali dimana aktris Julia Robert yang berperan sebagai Elizabeth Gilberth sempat menjadi sorotan dari para pencari berita dunia termasuk wartawan dalam negeri.

Film yang diadaptasi dari novel dengan judul yang sama ini telah membuka mata saya tentang makna hidup yang berkaitan dengan ibadah puasa yang dilakukan oleh umat Islam di seluruh dunia. Dalam tulisan ini saya tidak akan banyak mengupas film ini tetapi hanya mengambil hikmahnya saja.

Kalau kita membaca novel dan resensi film ini maka kita akan mengupas satu per satu arti kata EAT, PRAY, LOVE. Seorang penulis sukses dan kaya raya tetapi tidak bahagia dalam perkawinannya terutama kehidupan di dunianya memutuskan untuk berkeliling dunia dalam rangka mencari apa yang dinamakan cinta yang sejati. Selama 4 bulan, Liz Gilberth menetap di Italia dan kesehariannya hanya diisi dengan makan dan menikmati hidup (EAT). Kemudian selama 4 bulan, dia menetap di India dan menemukan kehidupan spiritualnya (PRAY). Setelah itu 4 bulan dia menghabiskan perjalanananya selama setahun di Bali. Nah di Bali inilah Liz Gilberth menemukan apa yang dinamakan keseimbangan hidup dan mendapatkan cintanya yang sejati.

Apakah ada hubungannya dengan ibadah puasa ? Coba perhatikan judul film tersebut. Selama sebelas bulan kita dibebaskan untuk menikmati hidup yaitu diperbolehkan "makan" selama 24 jam tanpa ada larangan apapun kecuali yang haram. Pengertian "makan" yang dimaksud adalah makanan jasmani dan rohani. Makanan jasmani disini adalah makan nasi dan lauk pauknya yang digunakan sebagai energi untuk aktivitas kita sehari-hari. Sedangkan makanan rohani seperti Sholat wajib 5 waktu, zikir dan wirid. Tetapi pada bulan Ramadhan ini, kita diajarkan untuk menyeimbangkan antara makan secara jasmani dan rohani. Semuanya diatur oleh ketentuan Allah yaitu ibadah puasa yang disertai dengan ibadah-ibadah lainnya seperti sholat Tarawih, Witir, pengajian dan sebagainya.

Mulai dari azan subuh, kita dianjurkan berpuasa dengan tujuan memberi kesempatan kepada organ tubuh mengembalikan performanya kembali sehingga terciptalah badan yang sehat. Dan dianjurkan untuk tidak makan berlebihan pada saat berbuka. Dengan adanya pengendalian nafsu makan tersebut dapat mendukung peningkatan kualitas spiritualitas diri sehingga dalam melakukan ibadah terutama sholat menjadi lebih khusu' dan terfokus kepada kebesaran Allah SWT.

Nah dari ibadah puasa itulah terjadi keseimbangan antara makan (EAT) dan spiritual (PRAY) sehingga menghasilkan yang namanya "CINTA" (LOVE). Cinta yang diselimuti oleh nilai kasih sayang (Rahman Rahim). Pada akhirnya kalau kita mau menyadari makna LOVE tersebut maka kita akan mendapatkan apa yang disebut Kesejatian Diri sebagai Manusia Seutuhnya. Disitulah letak Cinta Sejati atau Cinta Yang Hakiki yaitu cinta kepada Sang Pencipta.



NB : Menariknya adalah mengapa justru di Bali (salah satu propinsi di Indonesia). Elizabeth Gilberth menemukan kesejatian hidupnya ? Mengapa peluncuran filmnya bertepatan pada saat puasa di bulan Ramadhan ? Apakah sebuah kebetulan ? Silahkan kita mengasah Iqro-nya masing-masing. Semoga Allah SWT menurunkan Lailatul Qadarnya kepada orang-orang yang mau berpikir.

I feel part of the universe open up to meet me
My emotion so submerged, broken down to kneel in
Once listening, the voices they came
Had to somehow greet myself, read myself
Heard vibrations within my cells, in my cells
My love is safe for the universe
See me now, I'm bursting
On one planet, so many turns
Different worlds
Fill my heart with discipline
Put there for the teaching
In my head see clouds of stairs
Help me as I'm reaching
The future's paved with better days
Not running from something
I'm running towards the day
Wide awake
A whisper once quiet
Now rising to a scream
Right in me
I'm falling, free falling
Words calling me
Up off my knees
I'm soaring and, darling,
You'll be the one that I can need
Still be free
Our future's paved with better days



Jadi Kyai Itu Harus "Kaya"

Kiai semar (wayangprabu.com)

Sekitar 8 tahun yang lalu, saya berkunjung ke sebuah pesantren di Jawa Tengah. Kebetulan orang tuanya Pak Kyai yang memimpin pesantren tersebut adalah teman kakek buyut saya yang juga Kyai. Selain silaturahim, saya dan kakak mempunyai kebiasaan berkunjung ke pesantren tersebut setiap tahunnya terutama menjelang puasa bulan Ramadhan.

Kebetulan saat itu saya sedang menjalani puasa 100 hari. Puasa ini dilakukan karena saran dari Uyut di Sumedang untuk membersihkan diri dari segala penyakit baik fisik maupun non fisik dan juga untuk melatih kepekaan diri terhadap lingkungan. Kedatangan saya dan kakak sebetulnya terlalu cepat yaitu 1 bulan sebelum puasa bulan Ramadhan. Tetapi hanya saat itu saja saya mempunyai waktu luang untuk bepergian kemana saja.

Tepat pukul 10.32 WIB, saya tiba di pesantren tersebut. Dalam kondisi puasa dan perjalanan menggunakan kendaraan umum serta menempuh waktu 3 jam maka cukup membuat kondisi tubuh ini lemah atau keletihan. Setibanya di pesantren, saya melihat di ruang tamu banyak sekali tamu yang datang. Hal ini membuat saya dan kakak harus menunggu di luar. Tepatnya di tangga mesjid. Beberapa orang santri Pak Kyai sempat saya tanyakan tentang keberadaan Pak Kyai. Karena bagi saya suasana saat itu di luar kebiasaan. Biasanya Pak Kyai sudah berada di ruangannya dan menerima tamu. Tetapi saat itu belum ada satupun tamu yang diterima.

Selidik punya selidik ternyata sejak subuh Pak Kyai melakukan tirakat di dalam kamarnya dan belum selesai sampai waktu menjelang siang. Saya langsung berpikir mungkin akan menunggu lama agar bisa ketemu Pak Kyai. Lagipula tidak mungkin juga, kami berdua diterima duluan oleh Pak Kyai karena yang pertama datang itulah yang diprioritaskan.

Sambil menahan lapar, haus dan godaan nafsu seperti melihat orang makan dan minum di depan saya termasuk apa yang dilakukan oleh kakak dan ditambah dengan wajah-wajah bening santriwatinya Pak Kyai membuat saya harus menjaga sikap dan mengendalikan nafsu yang bergejolak di dalam diri. SEbetulnya kedatangan kami hanyalah untuk meminta doa restu dan permohonan maaf kepada Pak Kyai agar ibadah puasa kami di bulan Ramadhan diterima oleh Allah. Sekaligus mengantarkan kami berziarah ke makam orang tua Pak Kyai yang terkenal sebagai Kyai Sepuh di daerah tersebut.

Saat saya sedang menunggu, tiba-tiba perhatian saya tertuju ke dalam ruangan tamu. Terdengar suara orang yang sedang berdiskusi dan bisik-bisik. Ada apa gerangan yang terjadi di dalam ? Disamping itu ada juga beberapa orang yang bolak-balik membawa kertas seperti amplop. Buat apakah amplop tersebut ?

Karena tertarik dengan apa yang saya lihat itu maka sayapun bergegas ke dalam ruangan tamu. Setelah duduk dan mendengarkan pembicara para tamu di dalam, akhirnya saya baru mengerti apa saja yang dibicarakan di dalam ruangan tersebut. Sekali saya melihat beberapa orang dengan tingkah lucu karena seperti menyembunyikan sesuatu dengan membalikkan badan. Rupanya mereka sedang memasukkan benda ke dalam amplop. Tiba-tiba ada seorang bapak yang menurut perkiraan saya berusia 60 tahun.

" Maaf, mas sudah lama menunggu Pak Kyai ? "

" Oh tidak Pak. Saya baru menunggu sekitar 20 menit kok "

" Omong-omong Mas dari mana ? "

" Saya dari Jakarta Pak. Kalau Bapak ? "

" Saya dari Pekalongan Mas. Sudah sering kemari Mas "

" Sering sih nggak. Kebetulan saja saya diajak olh kakak saya. Tuh orangnya lagi ngobrol dengan anaknya Pak Kyai dekat tangga mesjid "

" Iya ya... Mas boleh saya tanya ? "

" Tapi tunggu dulu Bapak sudah sering kemari juga ? "

" Saya baru kali ini mas. Kami rombongan dari Pekalongan. Yang di ruangan ini sebagian dari rombongan kami. Hanya beberapa orang saja yang berasal dari daerah sekitar pesantren. "

" Oh gitu, terus bapak mau menanyakan apa ? "

" Begini Mas, kalau datang ke sini dan konsultasi dengan Pak Kyai biasanya pakai itu nggak Mas ? "

" Itu apa, Pak ? "

" Ah jadi malu hehehe " Tampak beberapa orang menyimak apa yang akan saya ucapkan.

" Kok malu !!! Itu apa pak ? Terus terang saja. Tidak apa-apa kok "

" Biasanya kalau konsultasi tamu memberikan sejumlah uang ala kadarnya buat posantren melalui Pak Kyai "

" Oh yang dimaksud bapak itu.... uang toh " suara saya terdengar lantang dan membuat orang kaget terkesima.

" Benar Mas... Enaknya dikasih berapa ya ? Biasanya Mas kasih berapa ? "

" hahahahahaha bapak bikin saya tertawa ngakak hahahaaha "

" Memangnya ada kata saya yang salah ?! "

" Nggak Pak. Baoak nggak salah kok. hahahaha cuma membuat saya geli saja hahahaaha "

" Mas kok malah tambah tertawanya "

' Begini Pak hehehe Tahu nggak Bapak-bapak...ibu-ibu " saya mulai berceramah di hadapan para tamu Pak Kyai.

" Ya Massssss " suara para tamu bersamaan.

" Tahu nggak Bapak-ibu sekalian. Yang namanya Kyai itu adalah pemimpin umat. Karena pemimpin umat maka bisa dianggap sebagai orang tuanya para umat. Disamping itu, yang namanya pemimpin khan harus mengerti dengan kondisi umat.... " penjelasan saya dengan lantangnya.

" Nggih Mas... "

" Maka itu untuk menjadi Kyai tidak mudah apalagi dianggap sebagai pemimpin atau orang tuanya umat. Jadi untuk menjadi Kyai haruslah kaya. Bukan hanya kaya harta, kaya ilmu, kaya amal, kaya iman, kaya kesabaran dan lain-lain Pokoknya harus kaya. Kenapa harus kaya ??? Hayo jawab bapak-ibu sekalian "

" Nggak ngerti Mas... kenapa Mas ? "

" Karena selain harus mengerti tentang kondisi umat, dia juga harus menyantuni umat yang sedang kesusahan. Misalnya bapak kurang mengerti tentang ilmu agama maka bapak bisa minta kepada Pak Kyai untuk mengajarkannya. Ada umat yang sedang kelaparan maka Kyai harus mencari cara atau membantu untuk menyediakan makanan baginya. Terus ada umat yang kesulitan mencari kerja maka Pak Kyai harus membantu dan mencarikan pekerjaan kepada umatnya yang sedang menganggur. Apa lagi yaaaa.... "

" Kalau ada umat yang nggak punya uang bagaimana Mas ? "

" Nah itu yang penting, betul Pak. Saya baru ingat. Kalau ada umat yang tidak punya uang maka Pak Kyai harus berusaha mencari jalan atau memberikan uang yang dipunyainya kepada umatnya yang tidak punya uang. Saya jadi teringat dengan seorang Habib di daerah Bogor dimana hampir tiap hatri Juma'at selalu membagi-bagikan uang yang ada di kantongnya. Tetapi anehnya uangnya tidak pernah habis dan setiap orang mendapatkan sejumlah uang yang berbeda. Habib tersebut tidak akan berhenti mengambil uang yang ada di kantong bajunya sampai umatnya yang terakhir meminta. Pertanyaannya darimana ya datangnya uang tersebut ? "

" Waduh nggak tahu Mas "

" Itu datangnya dari Allah. Itu bisa terjadi karena kedekatan seorang ulama dengan Allah SWT sehingga Allah tahu apa yang diminta oleh seorang ulama yang sangat mumpuni ilmu agamanya. Jadi bapak-ibu yang dari tadi menyelipkan uangnya ke dalam amplop secara sembunyi-sembunyi lebih baik disimpan kembali ke dalam tas. "

" Kenapa bisa begitu ? "

" Lha khan sudah seharusnya Kyai yang memberikan uang kepada umatnya bukan umatnya yang memberikan uang kepada Pak Kyai. "

" Tetapi Pak ... "

" Udah jangan tapi-tapi. Ikuti saja apa kata saya. Bagaimana ??? "

Semua tamu terdiam dan tertunduk.

" Bapak-ibu mengerti khan maksud saya... Lho kok pada diam semua "

Tiba-tiba terdengar suara mendehem seorang pria tua dengan kerasnya di belakang saya.
" Ehemmmmm Assalamualaikum Cech "

Saya langsung berbalik badan, tertanya yang memberikan salam tersebut adalah Pak Kyai, pimpinan pesantren.

" Wa aaaaalaikum salam Pak Kyai. Aaaapa kaaabar Pak Kyai ? hehehe " nada suara saya berubah.

" Bagus juga kamu ceramah ya Cech "

" Hehehehe khan Pak Kyai yang mngajarkan hehehehe "

Mata pak Kyai melototi saya. Kemudian Pak Kyai langsung menyuruh santrinya mengatur tamu yang datang untuk konsultasi secara bergiliran. Sialnya saya dan kakak dipanggil paling terakhir. Setelah menunggu selama 2 jam lebih, akhirnya kami dipanggil ke dalam ruangan khusus Pak Kyai. Kami berdua langsung mencium tangan Pak Kyai.

" Bagaimana kabarnya kalian ? "

" Baik Pak Kyai "

" Kamu masih puasa khan Cech. Sudah berapa hari ? "

" Kalau dihitung-hitung tinggal 27 hari lagi. "

" Bagus...bagus...kuat juga kamu ya hehehe. Oh ya kebetulan pas makan siang, jadi maaf ya Cech kami mau makan dulu. Silahkan kamu mau duduk disini atau di luar "

" Ya disini ajalah Pak Kyai. Saya nikmati kok puasa saya. "

Ternyata Pak Kyai benar-benar ngerjai saya. Hidangan makan siang hari itu sungguh lezat dan nikmat. Sate kambing, sate ayam, sop kambing, ikan asin, es jeruk dan masih banyak lagi. Uedan dalam hati saya tetapi saya harus berusaha menahan diri walaupun sempat menelan air liur saat melihat kakak dan Pak Kyai sungguh menikmati makan siang hari itu.

Setelah makan siang selesai, kamipun melanjutkan obrolan dan melakukan ziarah ke makam Kyai Sepuh. Menjelang sore kami pun meminta pamit kepada Pak Kyai. Tetapi sebelum pamit, Pak Kyai sempat berbicara dengan saya.

" Cech, punya uang nggak untuk pulang. Oh ya kapan kamu pulang ke Jakarta ? "

" He he he he saya tidak punya uang Pak Kyai. Ini aja setelah dari sini mau minjam ke saudara biar bisa pulang ke Jakarta "

" Aduh kasihan benar cucunya kyai sepuh. Kamu sich tadi komporin para tamu agar tidak memberikan uang kepada Kyai. Jadinya hari ini tidak ada tamu yang memberikan uang kepada saya. "

" Ahh nggak apa-apa Pak Kyai... "

" Saya nggak bisa kasih uang tapi saya hanya bisa memberikan 2 batang rokok kretek ini. "

" Terima kasih Pak Kyai lumayanlah buat rokok nanti pas buka "

" Apa ??? 2 batang rokok kretek ini ingin kamu pakai buat ngerokok ??? "

" Emangnya kenapa ??? "

" Coba kamu perhatikan baik-baik apa yang ada di dalam lintingan rokok kretek tersebut. "

" Ihhh apa nich. Kelihatannya... hehehe bagaimana bisa ... Pak Kyai. Aduh terima kasih ya Pak Kyai "

" Sudahlah kamu pulang ya. Cukuplah buat pulang ke Jakarta. Salam ya buat Bapak dan Ibu di Jakarta "

" Iya Pak Kyai. Nanti salam Pak Kyai akan disampaikan ke bapak dan ibu. Assalamualaikum "

" Wa alaikumussalam... hati-hati di jalan "

" Terima kasih "

Tahukah benda apa yang ada di dalam lintingan rokok kretek 234 tersebut. Ternyata tiap lintingan rokok tersebut setelah dibuka atau dibuang tembakaunya terdapat uang senilai 100 ribu rupiah. Karena dua linting rokok maka hari itu saya mendapatkan uang dari Pak kyai sebesar 200 ribu rupiah. Lumayanlah buat ongkos kendaraan dan jajan di jalan besok. Ini baru Kyai dalam hati saya. Iya kalau ngasih uang, kalau nggak ngasih sih bukan Kyai hahahaha

Minggu, 29 Agustus 2010

Menggenggam Qur’an

Al Quran (almakkiyat.wordpress.com)



" Tahukah kamu, apa itu Al Qur'an "

" Eyang ini bagaimana, jelas tahulah "

" Ya, apa ??? "

" Kitab suci umat Islam. Agama yang saya peluk "

" Hanya itu saja ?! "

" Tidak dong Yang. Al Qur'an menjadi pegangan dalam hidup kita di dunia "

" Bagus !!! Terus... "

" Al Qur'an merupakan petunjuk bagi umat Islam sampai akhir jaman. Terdiri dari 30 juz, 114 surat dan 6666 ayat "

" Hehehehe pintar kamu, Cech "

" Ahhh biasa saja Yang "

" Tidak dong. Bukan biasa tapi luar biasa "

" Saya jadi ge er nich hehehehe "

" Nanti dulu ge er-nya. Kalau sudah hafal dan mengerti tentang isi Al Qur'an dong "

" Ya sedikit-sedikit Yang "

" Kok sedikit-sedikit ?! "

" Habisnya saya malas dan tidak intens membacanya "

" Hahahaaha jadi biasa lagi dech statusnya "

" Jadi malu hehehe "

" Saya mendengar kamu dulu pernah mengkhatam Al Quran "

" Iya tapi dulu waktu masih kuliah. Kalau sekarang mah jarang Yang "

" Saya sudah tahu kok hehehe. Omong-omong dulu sudah berapa kali khatam Al Quran "

" Waduh berapa ya ?! kayaknya sudah 8 kali dech. "

Jumat, 27 Agustus 2010

Menggenggam Sajadah

sagalarupiaya.wordpress.com




 " Sudahkah kamu sholat "

" Sudah, Yut ? "

" Apa yang kau dapatkan dari sholatmu ? "

" Susah untuk diungkapkan tapi saya merasakan ketenangan batin "

" Hanya itu saja "

" Banyak tapi ... "

" Stop stop stopppp saya sudah tahu "

Begitulah pertanyaan pertama kali ketika saya bercerita tentang sholat. Hanya itu saja. Eits !!! Nanti dulu, bagaimana dengan sajadahnya. Sajadah ? Iya sajadah, sudahkah kau genggam sajadah dimana kau berdiri, sujud dan duduk di atasnya. Apa maksudnya ? Carilah jawabannya. Tetapi bagaimana ? Yang penting khan kita telah menjalankannya sesuai dengan rukun dan sunnahnya. Sholat merupakan tiang agama dan sudah menjadi kewajiban bahkan kebutuhan hidup. Tapi yakinkah Sholatnya diterima oleh Allah SWT ? Apa hubungannya dengan sajadah ? Bagaimana dengan amar ma'ruf nahi munkar ?

Sabtu, 22 Agustus 2009

Ku Tak Mengejar Karomah, Yang Kukejar Istiqomah




" Salut gw ama loe, masih mau mengurus nyokap loe. Lihat saja nanti banyak karomah yang akan loe dapatkan karena anak yang mau mengurus atau merawat orang tuanya yang sudah renta akan mendapatkan banyak barokah dan karomah dari Allah SWT ".

Begitulah kalimat-kalimat sering diucapkan oleh orang-orang mengenal saya. Yang saya lakukan hanya menjawab "Amin" dengan sambil tersenyum-senyum. Kok tersenyum-senyum ? Apakah ada yang salah dengan kalimat-kalimat diatas ?

Tidak ada yang salah dengan kalimat-kalimat diatas, hanya saja saya melihatnya dari perspektif yang berbeda. Berbeda? Ya berbeda dan mungkin dianggap terlalu naif ataupun idealis. Perspektif yang ingin saya sampaikan mudah-mudahan dapat memberikan manfaat atau mungkin pencerahan (walaupun saya bukan ulama ataupun pemuka agama).

Saya selalu menjawab demikian, "saya tidak pernah mengharapkan, memikirkan, mencita-citakan apalagi merencanakan karomah/barokah yang diberikan oleh Allah SWT. Biarkan karomah/barokah itu menjadi urusan Allah SWT melalui malaikat-malaikat-Nya. Yang terpenting adalah saya telah beristiqamah sebagai seorang anak untuk berbakti kepada orang tua. Semua itu dilandasi oleh nilai-nilai Kasih Sayang (Rahman Rahiim). Layaknya Rahman-Rahiim Allah SWT kepada Umat Manusia dan begitu juga Rahman Rahiimnya orang tua terhadap anak ataupun anak terhadap orang tua. Semua itu tidak bisa dinilai dengan apapun sekalipun yang namanya karomah karena yakin Allah tahu apa yang terbaik buat seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya (maaf kata berbakti bukan suatu hal yang bersifat riya tapi sudah menjadi naluri seorang manusia yang sangat menghormati orang tua). Nah istiqomah itulah yang menjadi lokomotifnya.

Saya banyak mendengarkan curhat teman yang merasa menyesal karena tidak dapat menyenangkan orang tuanya karena orang tuanya sudah meninggal dunia atau salah satunya sudah meninggal dunia. Menyenangkan disini bukan sekedar memberikan materi yang berlebih tapi kasih sayang yang tulus. Dengan meneteskan air mata, mereka mengungkapkan rasa penyesalannya. Memang benar penyesalan datangnya belakangan tapi itu tidak membuat rasa kasih sayang mereka terhadap orang tua berhenti sampai disitu. Kasih sayang akan terus berlanjut dan dapat diungkapkan dengan doa kepada orang tua ataupun para leluhur yang telah meninggalkan kita dan kasih sayang juga bisa diwujudkan dengan menceritakan kembali hal-hal yang baik tentang orang tua kita kepada anak-anak kita agar ini bisa menjadi tradisi turun temurun dan menjadi kebanggaan generasi berikutnya. Inilah yang menurut saya bisa dianggap anak yang soleh.

Hari Pahlawan ini dapat menjadi momentum bagi semua untuk menunjukkan kepada orang tua-orang tua kita pendiri bangsa tentang makna kesolehan (anak yang soleh). Saat ini banyak yang berpikir setelah manusia meninggal dunia maka selesailah ceritanya, Padahal peribahasa kita mengatakan Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan kebaikan. Atau paribahasa jawanya mikul duwur mendem jero. Padahal banyak cerita yang bagus tentang keheroikan para orang tua terutama tentang nilai-nilai pengorbanan, kejujuran, kebenaran, budaya sopan santun, dan ketauhidan yang sepertinya sudah mulai jarang kita dengar, baca, tumbuh kembangkan dan sebagainya pada saat ini. Jadi teruslah beristiqomah dalam kebaikan, kebenaran, kesolehan dan ketauhidan dalam kehidupan di dunia. Yakinlah Allah akan memberikan yang terbaik bagi kita bangsa Indonesia dan yakinlah bencana, musibah atau apapun yang berdampak negatif akan menjauh ataupun enggan mendekat.

Renungkan dan mudah-mudahan bermanfaat.