Tampilkan postingan dengan label Kyai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kyai. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 November 2016

Mulutmu Adalah Wudhumu

Saya pernah membuat status di FB sebagai berikut:

Ingat dengan ungkapan seorang teman Almarhum Bapak :

" Selama manusia sadar dirinya mempunyai mulut maka masalah dapat terselesaikan. Apalagi manusia yang mengerti bagaimana membersihkan mulut dengan WUDHU secara baik dan benar maka masalah lebih cepat lagi terselesaikan dengan senyum dan damai "

Nah berkaitan dengan Wudhu, saya sempat mengenal seorang Kyai yang selalu ingin disebut ustad walaupun beberapa kyai di wilayahnya selalu minta nasehat kepada beliau.

Namanya KH Ali Hasan. Beliau meninggal dunia pada tahun 2013 pada usia 96 tahun. Beliau adalah pendiri pondok pesantren Mamba'ul Ulum Dusun Jetak Desa Benda Kec. Bumiayu Kab. Brebes Jawa Tengah. Beberapa orang menyebutnya ahli wirid karena kalau wirid lama sekali.

Selama beberapa tahun mengenal beliau, saya mengenalnya sebagai orang yang tidak pernah lepas dari Wudhu. Apabila merasa batal wudhunya maka beliau selalu berwudhu kembali. Beliau sangat rendah hati. Saat berbicara dengan seseorang, beliau selalu menunduk penuh penghormatan.

Walaupun banyak santrinya, saat makan bersama tamunya maka beliaulah yang menyediakan nasi dan lauk pauknya bahkan menuangkan air teh satu per satu kepada tamunya. Saat ngobrol dan tahu tamunya kehabisan rokok, beliau mohon pamit sebentar. Ternyata beliau beli rokok untuk tamunya dan uniknya merk rokoknya disesuaikan dengan apa yang dihisap oleh tamunya. Beliau tidak merokok tapi untuk menghormati tamunya beliau sering ambil satu batang rokok dan ditempelkan ke mulutnya tapi tidak dinyalakan rokoknya.

Beliau sepertinya tahu kalau tamunya kekurangan uang untuk pulang ke rumah maka itu beliau sering memberi sangu berupa uang untuk ongkos pulang. Itupun saya alami bahkan setiap saya ke pesantrennya maka selalu diberi sangu karena beliau tahu saat itu saya sedang susah. Walaupun kadang beliau bercanda dengan memberi sangu berupa satu batang rokok yang ternyata dalam lintingan rokok tersebut ada uang 100 rb rupiah padahal lintingan rokok tersebut baru dibuka kemasannya.

Saya pernah bertanya kepada beliau

" Pak Kyai, saya sering perhatikan dalam satu hari Pak Kyai sering kali berwudhu. Apa tidak capek ? Mengapa harus demikian ? "

" Hehehe kamu perhatiin banget. Berwudhu bagi saya adalah cara untuk membersihkan diri mulai dari pikiran, pendengaran, ucapan, hati, langkah dan perilaku agar terhindar dari godaan syetan dan nafsu yang ada dalam diri manusia sehingga terjaga diri ini. Jadi sama halnya dengan syahadat . Jangan sampai batal syahadat kita. Maka itu harus selalu dijaga dengan benar. "

" Oh gitu. Tapi apa ga capek, Pak Kyai? "

" Hehe maka itu supaya tidak capek, jagalah wudhunya seharian penuh sebisanya. Kalaupun batal segeralah berwudhu. Ketenangan akal pikir, hati dan perbuatan akan diperoleh sehingga kita tidak sembarangan berpikir, berbicara dan berbuat. Semuanya terasa indah dan damai hidup di dunia ini."

Benar juga dalam hati saya. Setiap ada masalah maka dengan berwudhu hati jadi tenang dan masalah jadi ringan serta emosi terjaga. Saya pikir boleh juga tuh dijalankan apabila kita ingin melakukan sesuatu sebaiknya berwudhu contohnya saat ber-medsos ria sehingga status, share info dan sebagainya terhindar dari perbuatan fitnah, hoax dan caci maki.

Ya gitu aja untuk pagi ini karena saatnys isi air ke dalam gentong, siapa tahu ada yang membutuhkan untuk berwudhu.

Rabu, 01 September 2010

Jadi Kyai Itu Harus "Kaya"

Kiai semar (wayangprabu.com)

Sekitar 8 tahun yang lalu, saya berkunjung ke sebuah pesantren di Jawa Tengah. Kebetulan orang tuanya Pak Kyai yang memimpin pesantren tersebut adalah teman kakek buyut saya yang juga Kyai. Selain silaturahim, saya dan kakak mempunyai kebiasaan berkunjung ke pesantren tersebut setiap tahunnya terutama menjelang puasa bulan Ramadhan.

Kebetulan saat itu saya sedang menjalani puasa 100 hari. Puasa ini dilakukan karena saran dari Uyut di Sumedang untuk membersihkan diri dari segala penyakit baik fisik maupun non fisik dan juga untuk melatih kepekaan diri terhadap lingkungan. Kedatangan saya dan kakak sebetulnya terlalu cepat yaitu 1 bulan sebelum puasa bulan Ramadhan. Tetapi hanya saat itu saja saya mempunyai waktu luang untuk bepergian kemana saja.

Tepat pukul 10.32 WIB, saya tiba di pesantren tersebut. Dalam kondisi puasa dan perjalanan menggunakan kendaraan umum serta menempuh waktu 3 jam maka cukup membuat kondisi tubuh ini lemah atau keletihan. Setibanya di pesantren, saya melihat di ruang tamu banyak sekali tamu yang datang. Hal ini membuat saya dan kakak harus menunggu di luar. Tepatnya di tangga mesjid. Beberapa orang santri Pak Kyai sempat saya tanyakan tentang keberadaan Pak Kyai. Karena bagi saya suasana saat itu di luar kebiasaan. Biasanya Pak Kyai sudah berada di ruangannya dan menerima tamu. Tetapi saat itu belum ada satupun tamu yang diterima.

Selidik punya selidik ternyata sejak subuh Pak Kyai melakukan tirakat di dalam kamarnya dan belum selesai sampai waktu menjelang siang. Saya langsung berpikir mungkin akan menunggu lama agar bisa ketemu Pak Kyai. Lagipula tidak mungkin juga, kami berdua diterima duluan oleh Pak Kyai karena yang pertama datang itulah yang diprioritaskan.

Sambil menahan lapar, haus dan godaan nafsu seperti melihat orang makan dan minum di depan saya termasuk apa yang dilakukan oleh kakak dan ditambah dengan wajah-wajah bening santriwatinya Pak Kyai membuat saya harus menjaga sikap dan mengendalikan nafsu yang bergejolak di dalam diri. SEbetulnya kedatangan kami hanyalah untuk meminta doa restu dan permohonan maaf kepada Pak Kyai agar ibadah puasa kami di bulan Ramadhan diterima oleh Allah. Sekaligus mengantarkan kami berziarah ke makam orang tua Pak Kyai yang terkenal sebagai Kyai Sepuh di daerah tersebut.

Saat saya sedang menunggu, tiba-tiba perhatian saya tertuju ke dalam ruangan tamu. Terdengar suara orang yang sedang berdiskusi dan bisik-bisik. Ada apa gerangan yang terjadi di dalam ? Disamping itu ada juga beberapa orang yang bolak-balik membawa kertas seperti amplop. Buat apakah amplop tersebut ?

Karena tertarik dengan apa yang saya lihat itu maka sayapun bergegas ke dalam ruangan tamu. Setelah duduk dan mendengarkan pembicara para tamu di dalam, akhirnya saya baru mengerti apa saja yang dibicarakan di dalam ruangan tersebut. Sekali saya melihat beberapa orang dengan tingkah lucu karena seperti menyembunyikan sesuatu dengan membalikkan badan. Rupanya mereka sedang memasukkan benda ke dalam amplop. Tiba-tiba ada seorang bapak yang menurut perkiraan saya berusia 60 tahun.

" Maaf, mas sudah lama menunggu Pak Kyai ? "

" Oh tidak Pak. Saya baru menunggu sekitar 20 menit kok "

" Omong-omong Mas dari mana ? "

" Saya dari Jakarta Pak. Kalau Bapak ? "

" Saya dari Pekalongan Mas. Sudah sering kemari Mas "

" Sering sih nggak. Kebetulan saja saya diajak olh kakak saya. Tuh orangnya lagi ngobrol dengan anaknya Pak Kyai dekat tangga mesjid "

" Iya ya... Mas boleh saya tanya ? "

" Tapi tunggu dulu Bapak sudah sering kemari juga ? "

" Saya baru kali ini mas. Kami rombongan dari Pekalongan. Yang di ruangan ini sebagian dari rombongan kami. Hanya beberapa orang saja yang berasal dari daerah sekitar pesantren. "

" Oh gitu, terus bapak mau menanyakan apa ? "

" Begini Mas, kalau datang ke sini dan konsultasi dengan Pak Kyai biasanya pakai itu nggak Mas ? "

" Itu apa, Pak ? "

" Ah jadi malu hehehe " Tampak beberapa orang menyimak apa yang akan saya ucapkan.

" Kok malu !!! Itu apa pak ? Terus terang saja. Tidak apa-apa kok "

" Biasanya kalau konsultasi tamu memberikan sejumlah uang ala kadarnya buat posantren melalui Pak Kyai "

" Oh yang dimaksud bapak itu.... uang toh " suara saya terdengar lantang dan membuat orang kaget terkesima.

" Benar Mas... Enaknya dikasih berapa ya ? Biasanya Mas kasih berapa ? "

" hahahahahaha bapak bikin saya tertawa ngakak hahahaaha "

" Memangnya ada kata saya yang salah ?! "

" Nggak Pak. Baoak nggak salah kok. hahahaha cuma membuat saya geli saja hahahaaha "

" Mas kok malah tambah tertawanya "

' Begini Pak hehehe Tahu nggak Bapak-bapak...ibu-ibu " saya mulai berceramah di hadapan para tamu Pak Kyai.

" Ya Massssss " suara para tamu bersamaan.

" Tahu nggak Bapak-ibu sekalian. Yang namanya Kyai itu adalah pemimpin umat. Karena pemimpin umat maka bisa dianggap sebagai orang tuanya para umat. Disamping itu, yang namanya pemimpin khan harus mengerti dengan kondisi umat.... " penjelasan saya dengan lantangnya.

" Nggih Mas... "

" Maka itu untuk menjadi Kyai tidak mudah apalagi dianggap sebagai pemimpin atau orang tuanya umat. Jadi untuk menjadi Kyai haruslah kaya. Bukan hanya kaya harta, kaya ilmu, kaya amal, kaya iman, kaya kesabaran dan lain-lain Pokoknya harus kaya. Kenapa harus kaya ??? Hayo jawab bapak-ibu sekalian "

" Nggak ngerti Mas... kenapa Mas ? "

" Karena selain harus mengerti tentang kondisi umat, dia juga harus menyantuni umat yang sedang kesusahan. Misalnya bapak kurang mengerti tentang ilmu agama maka bapak bisa minta kepada Pak Kyai untuk mengajarkannya. Ada umat yang sedang kelaparan maka Kyai harus mencari cara atau membantu untuk menyediakan makanan baginya. Terus ada umat yang kesulitan mencari kerja maka Pak Kyai harus membantu dan mencarikan pekerjaan kepada umatnya yang sedang menganggur. Apa lagi yaaaa.... "

" Kalau ada umat yang nggak punya uang bagaimana Mas ? "

" Nah itu yang penting, betul Pak. Saya baru ingat. Kalau ada umat yang tidak punya uang maka Pak Kyai harus berusaha mencari jalan atau memberikan uang yang dipunyainya kepada umatnya yang tidak punya uang. Saya jadi teringat dengan seorang Habib di daerah Bogor dimana hampir tiap hatri Juma'at selalu membagi-bagikan uang yang ada di kantongnya. Tetapi anehnya uangnya tidak pernah habis dan setiap orang mendapatkan sejumlah uang yang berbeda. Habib tersebut tidak akan berhenti mengambil uang yang ada di kantong bajunya sampai umatnya yang terakhir meminta. Pertanyaannya darimana ya datangnya uang tersebut ? "

" Waduh nggak tahu Mas "

" Itu datangnya dari Allah. Itu bisa terjadi karena kedekatan seorang ulama dengan Allah SWT sehingga Allah tahu apa yang diminta oleh seorang ulama yang sangat mumpuni ilmu agamanya. Jadi bapak-ibu yang dari tadi menyelipkan uangnya ke dalam amplop secara sembunyi-sembunyi lebih baik disimpan kembali ke dalam tas. "

" Kenapa bisa begitu ? "

" Lha khan sudah seharusnya Kyai yang memberikan uang kepada umatnya bukan umatnya yang memberikan uang kepada Pak Kyai. "

" Tetapi Pak ... "

" Udah jangan tapi-tapi. Ikuti saja apa kata saya. Bagaimana ??? "

Semua tamu terdiam dan tertunduk.

" Bapak-ibu mengerti khan maksud saya... Lho kok pada diam semua "

Tiba-tiba terdengar suara mendehem seorang pria tua dengan kerasnya di belakang saya.
" Ehemmmmm Assalamualaikum Cech "

Saya langsung berbalik badan, tertanya yang memberikan salam tersebut adalah Pak Kyai, pimpinan pesantren.

" Wa aaaaalaikum salam Pak Kyai. Aaaapa kaaabar Pak Kyai ? hehehe " nada suara saya berubah.

" Bagus juga kamu ceramah ya Cech "

" Hehehehe khan Pak Kyai yang mngajarkan hehehehe "

Mata pak Kyai melototi saya. Kemudian Pak Kyai langsung menyuruh santrinya mengatur tamu yang datang untuk konsultasi secara bergiliran. Sialnya saya dan kakak dipanggil paling terakhir. Setelah menunggu selama 2 jam lebih, akhirnya kami dipanggil ke dalam ruangan khusus Pak Kyai. Kami berdua langsung mencium tangan Pak Kyai.

" Bagaimana kabarnya kalian ? "

" Baik Pak Kyai "

" Kamu masih puasa khan Cech. Sudah berapa hari ? "

" Kalau dihitung-hitung tinggal 27 hari lagi. "

" Bagus...bagus...kuat juga kamu ya hehehe. Oh ya kebetulan pas makan siang, jadi maaf ya Cech kami mau makan dulu. Silahkan kamu mau duduk disini atau di luar "

" Ya disini ajalah Pak Kyai. Saya nikmati kok puasa saya. "

Ternyata Pak Kyai benar-benar ngerjai saya. Hidangan makan siang hari itu sungguh lezat dan nikmat. Sate kambing, sate ayam, sop kambing, ikan asin, es jeruk dan masih banyak lagi. Uedan dalam hati saya tetapi saya harus berusaha menahan diri walaupun sempat menelan air liur saat melihat kakak dan Pak Kyai sungguh menikmati makan siang hari itu.

Setelah makan siang selesai, kamipun melanjutkan obrolan dan melakukan ziarah ke makam Kyai Sepuh. Menjelang sore kami pun meminta pamit kepada Pak Kyai. Tetapi sebelum pamit, Pak Kyai sempat berbicara dengan saya.

" Cech, punya uang nggak untuk pulang. Oh ya kapan kamu pulang ke Jakarta ? "

" He he he he saya tidak punya uang Pak Kyai. Ini aja setelah dari sini mau minjam ke saudara biar bisa pulang ke Jakarta "

" Aduh kasihan benar cucunya kyai sepuh. Kamu sich tadi komporin para tamu agar tidak memberikan uang kepada Kyai. Jadinya hari ini tidak ada tamu yang memberikan uang kepada saya. "

" Ahh nggak apa-apa Pak Kyai... "

" Saya nggak bisa kasih uang tapi saya hanya bisa memberikan 2 batang rokok kretek ini. "

" Terima kasih Pak Kyai lumayanlah buat rokok nanti pas buka "

" Apa ??? 2 batang rokok kretek ini ingin kamu pakai buat ngerokok ??? "

" Emangnya kenapa ??? "

" Coba kamu perhatikan baik-baik apa yang ada di dalam lintingan rokok kretek tersebut. "

" Ihhh apa nich. Kelihatannya... hehehe bagaimana bisa ... Pak Kyai. Aduh terima kasih ya Pak Kyai "

" Sudahlah kamu pulang ya. Cukuplah buat pulang ke Jakarta. Salam ya buat Bapak dan Ibu di Jakarta "

" Iya Pak Kyai. Nanti salam Pak Kyai akan disampaikan ke bapak dan ibu. Assalamualaikum "

" Wa alaikumussalam... hati-hati di jalan "

" Terima kasih "

Tahukah benda apa yang ada di dalam lintingan rokok kretek 234 tersebut. Ternyata tiap lintingan rokok tersebut setelah dibuka atau dibuang tembakaunya terdapat uang senilai 100 ribu rupiah. Karena dua linting rokok maka hari itu saya mendapatkan uang dari Pak kyai sebesar 200 ribu rupiah. Lumayanlah buat ongkos kendaraan dan jajan di jalan besok. Ini baru Kyai dalam hati saya. Iya kalau ngasih uang, kalau nggak ngasih sih bukan Kyai hahahaha

Senin, 23 Agustus 2010

SOSOK KYAI BERSAHAJA

Sudah hampir sepuluh tahun saya mengenal seorang Kyai yang sangat bersahaja ini. Sosok sederhana ini mempunyai sebuah pesantren di daerah terpencil sekitar Bumiayu Brebes Jawa Tengah. Pesantren yang dikelolanya dikhususkan kepada anak-anak yatim piatu dan dibiayai sendiri oleh Beliau baik kebutuhan pangan, papan, sandang, gaji pengajar dan lain-lain. Pada mulanya pesantren ini berdiri di atas tanah warisan keluarga Beliau. tetapi dalam perkembangannya pesantren ini semakin luas dan semua itu terjadi karena usaha dan daya upaya Beliau yang menginginkan pesantren ini berkembang dengan swadana walaupun ada juga orang-orang yang bersimpati dengan Beliau sehingga ikut menyumbang uang untuk keperluan pesantren ini.

Pertama kali kenal, Beliau berumur 79 tahun tetapi masih kelihatan enerjik, semangat, penuh ikhtiar, optimis dan pantang menyerah. Beliau bukanlah termasuk yang terkenal dalam kancah ulama nasional bahkan Beliaupun tidak terlalu terkenal dibanding dengan ulama-ulama di daerah sekitarnya yang mempunyai pondok pesantren yang mungkin 2 atau 3 kali  lebih besar dari yang dimiliki oleh Beliau. Memang Beliau tidak ingin disebut Kyai tetapi lebih senang disebut "ustad". Tetapi Beliau sering kali dimintai tolong oleh Kyai-kyai di sekitar lingkungan Beliau, baik masalah ilmu agama, keluarga maupun masalah-masalah lainnya. Nah ini herannya, masalah-masalah yang datang selalu dapat diselesaikan oleh Beliau dengan baik. Tetapi tetap saja Beliau bersikap sederhana dan tidak menonjolkan diri atau sombong. Lucunya orang-orang di sekitar daerah itu hanya tahu namanya tetapi tidak tahu siapa orangnya.


Berikut adalah pelajaran-pelajaran yang saya dapat dari Beliau berdasarkan tingkah laku Beliau yang selalu saya amati:

Saya menganggap Beliau sebagai orang yang sangat alim. Kenapa? Pertama kali saya mengenal beliau sampai sekarang., kalau berbicara dengan orang selalu menunduk dan jarang menatap wajah lawan bicaranya. Tetapi Beliau tahu apa yang dibicarakan dan kalau ada yang salah maka Beliau akan mengoreksinya dengan cara yang halus dan tidak menyinggung perasaan. Beliau sangat rendah hati dan tidak ingin menunjukkan betapa luasnya ilmu yang dimiliki.

Saya kagum dengan cara Beliau melayani tamu-tamu yang datang. Setiap tamu yang datang memang harus mendaftarkan diri sehari sebelumnya. Sewaktu saya bertemu dan mengenal pertama kali, sempat saya terkagum-kagum. Kenapa? Walaupun mempunyai santri yang banyak tetapi tetap Beliau yang menyediakan minuman, makanan sendiri dan menanyakan apa minuman kesukaan para tamunya, Apabila suka kopi panas maka disediakan kopi panas dan juga setoples gula pasir dan termos berisi air panas. Jadi kalau kurang manis tinggal menambahkan gula pasir. Kadang di ruang tamu sudah disediakan gelas, bubuk kopi, teh celup/serbuk teh, gula pasir dan setermos air panas sehingga tamu tinggal menyeduh sendiri. Dan saat makan siangpun Beliau yang menyediakan piring, nasi dan lauk-pauknya.

Saya pernah menanyakan kepada Beliau mengapa beliau melakukan itu semua sendiri tanpa dibantu oleh anak maupun santri yang lain. Beliau mengatakan kadang-kadang Beliau juga meminta tolong bantuan anak-anaknya dan santriwati. Tetapi setiap saya bertamu dan melihat tamu-tamu yang lain, Beliau sendiri yang selalu melayani. Tetapi Beliau mengatakan selama saya masih bisa melakukan sendiri maka akan dilakukan tanpa meminta tolong orang lain dan Beliau juga tidak ingin mengganggu santri-santrinya Kata beliau, “Biarlah mereka belajar dan mencari ilmu sebanyak-banyaknya lagipula hidup mereka sudah susah dan menderita (yatim piatu) jadi jangan mereka dibebani oleh hal-hal sepele dimana saya masih dapat mengerjakan sendiri” LUAR BIASA dalam hati saya dan mengingatkan saya kepada Rasulullah yang memberi penghormatan paling tinggi kepada siapa saja tamu yang datang ke rumahnya.

Beliau tidak banyak bicara, bicara seperlunya, kalau tidak ditanya Beliau akan diam tetapi Beliau selalu memperhatikan, mengamati dan mengikuti gerak-gerik tamunya. Contohnya adalah merokok? Beliau tidak merokok tetapi Beliau tidak melarang, menasehati, menyinggung dan menceramahi para tamunya. Bahkan ada peristiwa lucu yang pernah saya alami yaitu ketika asyik-asyiknya kami berbicara dengan Beliau dan kebetulan kami kehabisan rokok, tiba-tiba Beliau minta pamit untuk keluar sebentar. Saya pikir mungkin ada tamu penting yang datang.

Setelah 15 menit, Beliau datang sambil membawa beberapa bungkus rokok sesuai kesukaan kami dan menyilahkan kami merokok dan meneruskan pembicaraan sebelumnya. Kata Beliau, “kalau tidak ada rokok nanti malah kalian ceritanya melantur kemana-mana (tidak fokus) dan tidak klop, malah nanti saya yang bingung. Kalau kalian bingung tinggal cari rokok kalau saya bingung tidak tahu apa yang dicari hahahaha”. Itulah kecerdasan Beliau membaca (iqra) lingkungan sekitar tanpa disadari oleh orang di sekitarnya. Padahal beliau tidak menanyakan rokok-rokok kesukaan kami. Selain masalah rokok, Beliau juga tahu kalau tamunya punya uang atau tidak. Ini juga pernah saya alami, ketika akan pamitan pulang ke Jakarta, Beliau menitipkan uang untuk ongkos pulang walaupun saya merasa malu tetapi tetap beliau memaksakan saya untuk menerima karena tahu saat itu saya sedang kesusahan.

Pada awalnya pesantren Beliau kecil sekali dan hanya dapat menampung beberapa santri. Tetapi setiap saya datang bekunjung ke tempat Beliau selalu ada pembangunan gedung pesantren dan tanah pesantren bertambah luas. Saya pernah tanyakan bagaimana hal itu bisa terjadi. Beliau mengatakan kalau niat kita tulus, mulus dan lurus serta selalu berikhtiar maka Allah akan memudahkan jalan kita. Tetapi semua itu tergantung kepada bagaimana kita berdoa dan memohon kepada Allah. Kalau umat Islam mau melaksanakan  semua itu maka tidak akan ada orang minta-minta di jalan untuk sumbangan pembangunan mesjid atau pesantren.

Saya menganggap Beliau adalah ahli wirid. Beliau tidak pernah meninggalkan shalat sunnah maupun wajib. Beliau juga tidak pernah ketinggalan wudhunya, kalau menurut beliau merasa batal maka beliau akan kembali berwudhu walaupun itu bukan waktu shalat. Beliau selalu melakukan zikir dan wirid setiap saat, tempat, situasi kondisi dan ketemu siapapun. Saya sering kali mendengarkan asma Allah yang keluar dari mulutnya.

Saya pernah datang ke tempat Beliau tepat 15 menit sebelum azan Shalat Jum’at setalah hampir 2 hari 3 malam saya kurang tidur karena mengemudikan mobil bersama uyut sehabis perjalanan dari Surabaya dan mampir ke tempat Beliau.

Saat itu Beliau sedang berada di mesjid pesantren. Dalam kondisi mengantuk berat dan menunggu di ruangan tamu, tiba-tiba Beliau datang sambil membawa kasur dan bantal dengan mengatakan silakan tidur yang nyenyak. Kemudian Beliau pamitan untuk melakukan shalat Jum’at dimana Beliau sebagai khatibnya.
Kami tertidur sampai jam 5 sore. Ketika terbangun sudah tampak kedatangan Beliau. Beliau menanyakan bagaimana tidur kami, apakah suara azan, suara anak-anak mengaji mengganggu tidur kami dan meminta maaf atas ketidaknyamanan tidur kami. Coba bayangkan betapa rendah hati dan bersahajanya Beliau terhadap tamu-tamunya padahal itu di rumahnya sendiri tanpa pernah menunjukkan ketidaksukaan Beliau terhadap kami yang tidak melakukan sholat Jum’at malah bersikap sopan santun dan menghormati tamunya..

Ada satu hal yang membuat saya terkagum-kagum dan terheran-heran dengan sosok Beliau. Pada saat berkunjung ke tempat Beliau, tiba-tiba datang serombongan orang. Saya pikir mungkin mereka tamu biasa seperti saya. Setelah saya perhatikan, ternyata mereka bukan orang sembarangan terlihat dari pakaian dan gaya bicaranya. Dari logatnya tampak mereka berasal dari negara jiran berbahasa melayu. Mereka mengatakan ingin mengundang Ustad (panggilan kepada Pak Kyai) sebagai guru ngaji di tempat mereka seperti tradisi mereka tahun-tahun sebelumnya yang selalu mendatangkan Beliau ke negeri jiran. Yang membuat saya kaget adalah yang mengundang adalah orang nomor satu di negeri tersebut dan segala keperluannya sudah disiapkan secara matang dan lengkap dengan surat undangan dengan kop surat lambang negara tersebut.

Ketika saya menanyakan kepada Beliau mengenai bagaimana Beliau bisa mengenal orang-orang terkenal tersebut. Beliau hanya tersenyum dan mengatakan kebetulan saja mereka tersesat di jalan dan orang salah menunjukkan jalannya hingga ke tempat Beliau. Ah bisa aja Pak Kyai. Rupanya sudah banyak santri-santri beliau yang dikirim menjadi guru ngaji di negara-negara berbahasa melayu tersebut dan pada acara-acara tertentu Beliau selalu diundang.

Terima kasih Ya Allah Alhamdulillah Ya Rabbi telah diperkenalkan dengan orang-orang yang sholeh dan alim. Mudah-mudahan saya bisa mencapai tingkat keimanan seperti mereka Amin