Tampilkan postingan dengan label Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kehidupan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 November 2016

Saatnya Para Pemuka Agama Memikirkan Umat

Dulu saya sempat berpikir inilah saatnya umat Islam di Indonesia untuk bangkit dari ketertinggalan pendidikan, kesehatan dan ekonomi.

Pada masa apa ya? Masih ingat sekitar tahun 2000 an dimana nongol ulama/ustad/kyai dg muka-muka baru di media elektronik TV. Contohnya Aa Gym, Arifin Ilham, Yusuf Mansur sampai Alm. Udje.

Saat itu SCTV paling getol menyelenggarakan pengajian akbar live di Mesjid Istiqlal 2 minggu sekali. Pikir saya ada pencerahan bagi umat. Ulama mulai dianggap sebagai pemimpin umat yang sebenar-benarnya. Keluh kesah umat dalam hidupnya mendapatkan solusi dari pemimpinnya.

Tetapi apa yang terjadi ? Pengajian yang membosankan dan tetap saja umat bergulat sendiri dalam menyelesaikan masalahnya. Kemiskinan umat tidak menemukan solusinya. Kalau saja saat itu ustad-ustad yang sudah mendapatkan kepercayaan dari umat memanfaatkan momentum tersebut mungkin kita tidak perlu lagi curiga, iri, menuding, memaki kaum non muslim dan ras tertentu.
Maksudnya bagaimana ? Saat itu seharusnya ustad-ustad dapat dengan jernih tahu apa saja yang dibutuhkan demi kemaslahatan umat.

Contohnya adalah kemiskinan, pendidikan, dan kesehatan. Ustad-ustad tersebut seharusnya membentuk satu tim yg selalu mencari umat-umat yang membutuhkan pertolongan. 10 menit terakhir pengajian di media televisi, para ustad tersebut meminta peserta pengajian dan penonton di rumah untuk membantu saudara-saudara seimannya. Tampilkan 10 orang umat yang telah disurvei oleh tim sedang membutuhkan pertolongan.

"Saudara-saudara perkenalkan Si A sedang mengalami musibah anaknya sakit parah di rumah sakit tetapi tidak mempunyai dana untuk pengobatannya. Tolong dibantu... "

" Saudara-saudara perkenalkan si B baru saja di-PHK dan menganggur. Sebenarnya si B mempunyai keahlian ini. Mungkin ada saudara-saudara yang mempunyai info atau butuh tenaga bersangkutan. Tolong dibantu "

" Berikutnya si C hidupnya miskin dan rumahnya dah mau roboh. Tolong dibantu "

" Berikutnya si D punya anak yang putus sekolah karena tidsk ada biaya lagi. Tolong dibantu "

" Si E sedang membangun mesjid tapi dananya belum cukup. Mohon dibantu. "

" SI F membutuhkan bantuan dalam menjalankan Panti Asuhan Anak Yatim Piatu. Mohon dibantu"

Dst. Untuk lebih jelasnya dapat menghubungi tim kami. Saya yakin umat Islam di Indonesia maupun di luar Indonesia yang mampu akan berbondong-bondong membantu.

Kalau saja tiap 2 minggu, para ustad yg sudah mempunyai nama melakukan hal tersebut setiap 10 menit akhir pengajian maka itulah saatnya kebangkitan umat Islam. Karena saya yakin sekali umat Islam itu kaya asalkan dijalankan dengan benar dan amanah. Kekuatan umat Islam dalam perekonomian , pendidikan dan kesehatan akan menjadi kekuatan politik sendiri dan yang lain akan mengikutinya karena umat Islamlah penggerak perubahan di Indonesia.

Sayangnya hal itu tidak dilakukan, para ustad/ulama saat itu hanya memikirkan diri dan golongannya serta terlena dengan keselebritisannya. Jadi tidak usah kaget umatnya tetap jalan di tempat dan dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu.

Yang menariknya isu aseng selalu dihembuskan saat pilkada padahal justru asenglah yg banyak berbuat demi kemaslahatan umat baik muslim maupun non muslim. Ironis.

Kamis, 01 September 2011

Menangkap Esensi Kehidupan



Saya yakin sudah banyak tulisan yang menceritakan pernak pernik kehidupan. Tapi ada satu yang menarik dari kehidupan yaitu pengalaman kehidupan orang. Ujung-ujungnya bicara tentang cinta. Cinta asmara, cinta keluarga, cinta saudara, cinta teman, cinta tanah air, cinta manusia sampai cinta terlarang. Cinta menjadi rumit apabila manusia belum mampu menangkap esensi kehidupan.


Esensi? Ya, begitulah saya menamainya atau mungkin juga bisa dipakai kata inti. Rahmatan lil alamin, itulah yang diajarkan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Atau bahasa kerennya PEACEFUL LIFE. Sebenarnya kalau kita pelajari lagi lebih dalam maka ada keterkaitan dengan 10 Perintah Tuhan-nya Nabi Musa. Ini juga berkaitan dengan keadilan. Keadilan versi Nabi Musa memang agak berbeda dan rasanya berat untuk dijalankan oleh manusia saat ini. BERSEDIA MENDERITA DEMI KEBAHAGIAAN ORANG LAIN. Menarik dan butuh perenungan untuk memahami kalimat di atas.



Pada akhirnya kita menyadari, kalau esensi kehidupan bukan hanya mempelajari kitab-kitab suci sampai ngelotok tetapi kuncinya adalah istiqomah atau terus melakukan atau just do it sesuai aturan yang diperintahkan Tuhan dengan keyakinan penuh atau haqqul yaqin. Kembali lagi ujungnya adalah WHAT YOU HAVE DONE. Kalau sudah begitu kebenciaan terhadap sesama, sekelompok atau seluruh manusia dapat dihindari. Semua tergantung kepada manusianya.


Mau ke kiri atau ke kanan, atas atau bawah, surga atau neraka, senang atau susah dan seterusnya. Benturan-benturan terjadi karena merasa "ter" atau mengagungkan egosentrisme atau tertutupnya empati dan simpati atau masa bodo dengan situasi kondisi orang di sekitarnya. Yang penting saya senang. Kalau hal tersebut tidak bisa terkontrol maka akan ada "kitab suci" baru versi manusia yang lupa keberadaannya di dunia. Ayat-ayat bisa dibuat seenak udelnya sampai mengabaikan esensi kehidupan yang hakiki. Tidak mau tahu dengan apa yang telah Tuhan perintahkan. Nilai-nilai ibadah ritual dan sosial diabaikan demi kepentingan pribadi. Ketakutan dan keserakahan menjadi sesembahan. Ketakutan akan kehilangan kekuasaan, harta dan "miliknya". Keserakahan yang merajalela karena tidak pernah puas dengan apa yang dimiliki atau lebih tepatnya tidak pernah bersyukur. Keegoan, emosi, spiritualitas harus terukur dan terjaga agar mengerti makna kehidupan, MENGERTI DIMANA POSISINYA DAN BERAPA PORSINYA.


Di negeri kita sudah banyak orang "pintar" dan menduduki tempat empuk. Menariknya umur mereka muda-muda tetapi secara mental dan spiritual mereka rendah atau nol. Yang terjadi kesemena-menaan, nilai menghormati-menghargai antara yang tua dan muda terabaikan, rasa sopan santun hanya kata di mulut tanpa perbuatan sehingga yang ada kenaifan dan omong kosong belaka. EGP dan DL menjadi tren. Berbeda dengan orang tua kita dulu yang ditempa dan terasah intelektual, emosi dan spiritualnya melalui kawah candradimuka kehidupan sesuai Standard Operation Procedure (SOP) Tuhan dan nilai-nilai budaya luhur nenek moyangnya. Satu hal apa yang dijalani mereka lebìh modern dan lebih peaceful life dibandingkan dengan generasi sekarang.

Akhir kata, tak ada kata akhir dalam mengerti kehidupan dan semuanya akan berakhir tatkala telah datang hari akhir pada setiap manusia.

Sumber : Cechgentong dalam Forum Diskusi Komunitas Spiritual Bawah Tanah, 17 Agustus 2010.

NB : Sebetulnya ini tulisan lama yang dipublish di Facebook hari ini oleh teman saya dari Brunei Jaya Permana untuk perenungan Idul Fitri

Jumat, 27 Agustus 2010

Menggenggam Sajadah

sagalarupiaya.wordpress.com




 " Sudahkah kamu sholat "

" Sudah, Yut ? "

" Apa yang kau dapatkan dari sholatmu ? "

" Susah untuk diungkapkan tapi saya merasakan ketenangan batin "

" Hanya itu saja "

" Banyak tapi ... "

" Stop stop stopppp saya sudah tahu "

Begitulah pertanyaan pertama kali ketika saya bercerita tentang sholat. Hanya itu saja. Eits !!! Nanti dulu, bagaimana dengan sajadahnya. Sajadah ? Iya sajadah, sudahkah kau genggam sajadah dimana kau berdiri, sujud dan duduk di atasnya. Apa maksudnya ? Carilah jawabannya. Tetapi bagaimana ? Yang penting khan kita telah menjalankannya sesuai dengan rukun dan sunnahnya. Sholat merupakan tiang agama dan sudah menjadi kewajiban bahkan kebutuhan hidup. Tapi yakinkah Sholatnya diterima oleh Allah SWT ? Apa hubungannya dengan sajadah ? Bagaimana dengan amar ma'ruf nahi munkar ?

Si Mbah Dalem Lancingan

Membaca tulisan mbak LH yang berjudul Maukah suami anda tahan lebih lama jika bercinta.?l mengingatkan saya kepada suatu kejadian yang pernah saya alami.
Suatu hari saya diundang oleh sebuah kumpulan Pemerhati Kebudayaan Sunda di Jakarta. Dengan berpakaian seadanya dan tidak membayangkan kalau pertemuan tersebut bersifat resmi. Selama ini undangan yang datang kebanyakan bersifat santai maka itu saya selalu berpakaian hitam-hitam. Ya tahu sendirilah kalau golongan hitam selalu berpakaian seperti itu.

Beberapa lama berbincang-bincang, tiba-tiba seorang teman datang dan menghampiri saya. Sebut saja namanya Didu. Sebenarnya Didu ini bukan orang Sunda tapi rajin mempelajari budaya Sunda seperti saya. Didu ini terkenal mempunyai banyak isteri dan pandai sekali memikat kaum hawa.

” Dari Sir Itulah Ada Kemiripan “

www.freeclipartnow.com



Memang sudah nasib kalau sudah menentukan pilihan menjadi golongan hitam (GOLTAM) maka selalu saja bertemu dengan orang-orang alim yang selalu menasehati dan mengingatkan tentang segala hal di dunia. Tapi apakah ini suka atau duka ? Tidak tahulah yang penting saya mendengar saja. Masalah diterima atau tidak tinggal menjadi pilihan hidup.
Begini, saya mempunyai pengalaman pribadi... jiah pengalaman pribadi apa tidak ada pengalaman orang lain. Abis bagaimana lagi tahunya yang dialami sendiri bukan pengalaman orang lain. Takutnya kalau pengalaman orang lain jadi KATANYA ya semacam dongeng. Daripada dianggap selalu katanya atau tukang mendongeng mendingan kata saya atau membudayakan tutur tinular hehehe.

Suatu hari saya makan di sebuah warung tegal di sekitaran Mampang Prapatan. Baru saja saya menyelesaikan makanan, tiba-tiba seorang pria berumur 60 tahun masuk ke dalam warung dan hanya memesan kopi pahit tanpa gula. Nah lho tahu sendiri khan bagaimana rasanya kopi tanpa gula so pasti pahit sekali. Tapi sudahlah memang setiap orang punya kesukaan masing-masing.

Malaikatnya Telah Saya Booking

oziq.blogspot.com

Sebelum saya menceritakan pengalaman pribadi ini maka saya ingin menyamakan persepsi dahulu tentang makna Istighosah.

Kata “istighotsah” استغاثة berasal dari “al-ghouts”الغوث yang berarti pertolongan. Dalam tata bahasa Arab kalimat yang mengikuti pola (wazan) “istaf’ala” استفعل atau “istif’al” menunjukkan arti pemintaan atau pemohonan. Maka istighotsah berarti meminta pertolongan. Seperti kata ghufron غفران yang berarti ampunan ketika diikutkan pola istif’al menjadi istighfar استغفار yang berarti memohon ampunan.

Jadi istighotsah berarti “thalabul ghouts” طلب الغوث atau meminta pertolongan. Para ulama membedakan antara istghotsah dengan “istianah” استعانة, meskipun secara kebahasaan makna keduanya kurang lebih sama. Karena isti’anah juga pola istif’al dari kata “al-aun” العون yang berarti “thalabul aun” طلب العون yang juga berarti meminta pertolongan.

Istighotsah adalah meminta pertolongan ketika keadaan sukar dan sulit. Sedangkan Isti’anah maknanya meminta pertolongan dengan arti yang lebih luas dan umum.

(Sumbernya disini)


Suatu hari saya melakukan silaturahim ke sebuah pesantren di Jawa Tengah. Kebetulan sekali saya mengenal dekat dengan pimpinan pondok pesantren tersebut yaitu seorang Kyai. Tanpa dinyana di pondok pesantren tersebut sedang siap-siap mengadakan sebuah acara Istighosah. Pikir saya saat itu istighosah dalam rangka apa ya.

Setelah bertemu dengan Kyai tersebut barulah saya mengetahui kalau istighosah dilakukan untuk memohon kepada Allah SWT agar seorang bupati yang sedang memimpin di daerah tersebut terpilih kembali dalam pemilihan kepala daerah. Saya hannya bisa tersenyum sambil mengernyitkan dahi. Kok harus istighosah.

Kamis, 26 Agustus 2010

Meninggal di Mesjid Itu = Mati Syahid ?

serisiapsiaga.wordpress.com

Tulisan ini sekedar bonus setelah seorang teman bertanya saya tentang sebuah kematian. Bagi setiap orang kematian adalah kehendak Allah SWT dan itu pasti terjadi (haqqul yaqin). Tetapi masalahnya adalah bagaimana kita menghadapi kematian itu sendiri ? Takutkah ? Gembira atau bahagia kah ? Masa bodo kah ? Silahkan kita menjawabnya sendiri-sendiri.

Tetapi tulisan ini hanya mengungkapkan sebuah kejadian kematian yang pernah saya lihat dan alami di sebuah mesjid di daerah Garut. Pada waktu itu saya dan uyut berkunjung ke tempat anak buah beliau. (sebut saja namanya Asep). Kebetulan kami sampai menjelang Ashar. Kamipun berbincang-bincang dengan santainya dengan beberapa orang yang ikut nimbrung karena mendengar kabar Uyut datang. Sejam kemudian barulah kami dikejutkan oleh ramainya orang-orang yang berteriak-teriak kalau ada orang meninggal di dalam mesjid (jaraknya kurang lebih 200 meter dari rumah Asep). Beberapa dari kami pun segera beranjak menuju ke mesjid. Saya dan Uyutpun hanya terdiam di tempat sambil menunggu berita tersebut.

Beberapa saat kemudian Asep datang kembali ke rumah dan mengatakan kalau benar ada orang yang meninggal dunia dalam mesjid dan posisi mayatnya terlentang di pojok belakang dalam mesjid. Uyutpun bertanya siapakah gerangan yang meninggal tersebut. Rupanya yang meninggal tersebut masih penduduk disitu dan bernama sebut saja Andang. Pria berumur 40 tahun dan bekerja sebagai buruh tani.

Mendengar penjelasan Asep, Uyut hanya tersenyum tanpa bicara apa-apa. Tetapi saat saya menanyakan apa makna senyumnya beliau. Barulah beliau mengatakan dengan tegasnya kalau Andang tersebut belum meninggal dunia. Betapa kagetnya kami yang mendengar pernyataan Uyut tersebut. Sementara di luar orang-orang mengatakan kalau Andang telah meninggal dan mati syahid. Kemudian Uyut meminta Asep untuk mengajaknya ke mesjid untuk melihat jasad Andang.

Rabu, 25 Agustus 2010

Life Begins At Fourty, Kenapa Bukan 39 ?


Ilustrasi-farm4.static.flickr.com


Kalau kita iseng-iseng buka di uncle google tentang Life begins at fourty maka banyak ditemukan berbagai macam tulisan tentang hal tersebut. Dikatakan oleh bebrapa tulisan bahwa umur 40 tahun sebagai entry point bagi manusia dewasa untuk bersikap dalam menentukan hidupnya nanti. Kemudian dikatakan pula umur tersebut adalah umur produktif dimana orang sedang tune in dalam berkarir dan bekerja sehingga di umur itulah warna hidup yang ada dalam diri sudah jelas kelihatan. Ada lagi yang mengatakan bahwa umur tersebut adalah masa-masanya pubertas kedua dimana nafsu birahi mendominasi di dalam manusia dewasa. Masih banyak lagi yang mengupas tentang Life Begins at Fourty.


Apakah kehidupan kita akan berubah secara tetap pada saat umur 40 tahun ? Tidak ada yang tahu, semuanya tergantung kepada kemauan, keinginan, kegigihan, keuletan dan lain-lain masing-masing manusianya.

Makanya Pakai Helm Kalau Tidak.......


Sudah banyak cerita atau pengalaman yang kita alami sehubungan dengan pemakaian helm. Kalau kita bicara helm pasti bersinggungan erat dengan peraturan lalu lintas dan lebih banyak berhubungan dengan aparat yang berkompeten dalam hal ini Polisi Lalu Lintas (Polantas).

Saya mempunyai pengalaman unik dan lucu dengan Polantas. Mudah-mudahan dengan cerita saya dapat memberikan manfaat bagi kita semua terutama pengguna jalan dan aparat yang berwenang.


Beberapa tahun yang lalu, saya dan Uyut sedang berboncengan dengan menggunakan sepeda motor. Kebetulan helm yang saya punya hanya satu. Memang saat mau pulang dari tempat anak buah Uyut di daerah Cacing (Cakung Cilincing) Jakarta Utara, Uyut sudah ditawarkan satu helm lagi untuk dipakai karena saat itu sedang ramai-ramainya operasi lalu lintas. Tetapi tawaran tersebut ditolak Uyut. Alasannya adalah tidak akan ada helm yang muat untuk ukuran kepala Uyut dan benar saja ternyata memang tidak ada yang muat setelah dicoba. Kata beliau biarkan saja diberhentikan polisi tapi yakin tidak akan ada yang berani menilang atau memperkarakan hal ini. Malah beliau bilang kalau polisi tanya maka saya harus jawab sedang bawa orang Badui keliling kota Jakarta (saat itu pakaian Uyut memang hitam-hitam persis kayak orang Badui).


Senin, 23 Agustus 2010

PENGAKUAN DOSAKU

Sudah 2 malam, aku tidak bisa tidur. Terasa badan menggigil dan hati tidak karuan juntungannya. Apakah yang terjadi dengan diriku ? Tiba-tiba dalam batin yang suci mengatakan kepada diriku untuk melakukan pengakuan dosa dengan melakukan doa kepada Yang Maha Kuasa Ya Rabbi. Begini doanya :

Ya Allah, dengan sengaja kutelah mengingkari diriku yang sebenarnya. Kukatakan dan kutunjukkan kepada siapapun bahwa aku berhasil dan sukses saat ini karena kerja keras dan ilmu yang kupunya. Kuingkari semua jasa dan doa orang lain terutama orang tua kandungku sendiri.

Ku anggap orang tuaku sudah tidak ada lagi di dunia sehingga aku berhak untuk melakukan apapun. Kuhilangkan dan kuhancurkan warisan dan peninggalan orang tua ku berupa adat istiadat, nilai-nilai kekeluargaan, nilai-nilai budaya seperti sopan santun dan etika moral dimana aku berasal. Kuanggap itu adalah masa lalu yang sudah usang dan jaman telah berubah. Ku sengaja untuk durhaka dan kualat kepada orang tuaku karena dengan ilmu yang kupunya maka tatanan yang telah dibuat oleh orang tua kurubah total menurut versiku yang lebih mengandalkan otak dan kekuasaan tanpa mengindahkan hati nurani.

Ya Allah, dengan sengaja kutelah mentelantarkan saudara-saudaraku. Saat datang saudara-saudaraku meminta tolong maka kutolak dengan alasan aku tidak punya apa-apa. Padahal aku kaya dengan harta dan enggan untuk menyumbangkan sedikit hartaku untuk mereka. Alasanku adalah semua itu adalah "Derita Lu (DL)" jangan bawa-bawa diriku. Ketika seorang ibu datang sambil menangis memohon bantuanku karena anaknya yang sedang sakit dan dirawat di Rumah Sakit tapi tidak punya biaya. Jawabanku tetap aku tidak punya uang padahal aku baru saja membeli/membangun rumah baru, mobil baru, motor baru, black berry baru, barang-barang elektronik baru dan bahkan aku baru saja pulang dari jalan-jalan ke luar negeri. Begitupun dengan saudara-saudaraku yang lain ketika mereka mengemis di jalan kutetap akan menolaknya. Padahal aku tahu kalau aku sebaiknya diam apabila tidak ingin memberi tapi aku malah gerindel dengan mengatakan "Dasar Pemalas". Ku tahu tidak seorangpun manusia yang ingin menjadi pengemis kecuali terpaksa dan memang sudah menjadi kebiasaan. Tetap aku akan menolaknya dan memarahinya dengan keras. Padahal kutahu apa salahnya aku memberikan beberapa uang receh atau uang kertas ribuan yang mungkin saja dapat bermanfaat untuk makan mereka hari itu. Begitu pula bila saudaraku yang lain memohon bantuanku karena kehilangan tempat tinggal akibat kebakaran, kontrakannya habis, terkena bencana dan lain-lain.

Ya Allah dengan sengaja ku membiarkan saudara-saudaraku menganggur dan kebingungan untuk memenuhi kehidupan hidup keluarga mereka sehari-hari tanpa ada penghasilan. Ku kembali lagi mengatakan "Dasar Pemalas, Kerja Dong" Padahal kutahu dengan ilmuku dan relasiku yang banyak maka sesungguhnya aku dapat membantu mereka mendapatkan pekerjaan sesuai dengan kemampuan yang kumiliki atau mengajak mereka bekerja di tempat kerjaku atau membantu mereka membuat usaha sendiri. Tapi itu tidak kulakukan sambil mengatakan " Salah Sendiri bodoh dan tidak punya akses, Hidup itu keras" dengan dikuti suara tertawaku yang keras.


Ya Allah, dengan sengaja dan riyanya kupertunjukkan kepada siapapun bahwa aku seorang yang alim dan selalu menjalankan perintahMu seperti Shalat, Puasa, Zakat, dan Haji. Padahal dalam kehidupan sehari-hari amal perbuatanku tidak mencerminkan kealimanku. Contohnya adalah:

1.Tetap saja aku melanggar lalu lintas. Kutahu jalan satu arah tetapi tetap saja kulanggar dengan alasan lebih cepat dan praktis tanpa menghiraukan keselamatan orang lain. Kalaupun ada yang menabrakku pasti akan kulabrak dan kupersalahkan karena hanya aku yang benar. Apabila mobil yang menabrakku saat aku berkendaraan motorl maka mobil itu akan kupersalahkan karena memang aturannya begitu dan akan kuperas habis siempunya mobil kalau perlu kuajak berkelahi dan kuhancurkan mobilnya bila masih ngotot padahal aku tahu bahwa aku yang salah.

2.Tetap saja ku mengendarai motorku dengan kencang dan berjalan zig zag agar cepat sampai bahkan kulakukan di jalur cepat padahal kutahu bahwa aku harus berada di jalur lambat tapi masa bodo toh polisi juga tidak ada. Walaupun ada polisi tetap dengan tenangnya kusuap dia dengan uangku sehingga aku tidak ikut sidang atau ditilang.

Begitupun apabila aku menggunakan mobil tetap akan kulanggar semua rambu-rambu lalu lintas termasuk menerabas lampu merah karena aku sedang terburu-buru dan orang lain harus mengerti diriku bukan aku yang harus mengerti mereka.

3. Tetap saja aku berpura-pura alim dengan mengatakan jadi orang jangan munafik tetapi tetap saja aku menggunakan jasa calo dan menyogok petugas dengan bayaran uang untuk mengurus KTP, SIM, STNK, Paspor dan lain-lain. Itupun akan berlaku apabila aku menjadi pamong praja maka akan kubuat susah dan rumit segala pengurusan surat-surat agar mereka memberikan imbalan uang kepada diriku, Alasanku adalah kalau bisa dipersulit kenapa harus dipermudah, gajiku kecil maka aku harus mendapatkan tambahan bagaimanapun caranya walaupun kutahu dari awal kalau jadi pamong gajiku kecil tapi aku tidak mau mencari pekerjaan yang lain karena aku tidak yakin akan rejeki yang diberikan oleh Allah.

4. Tetap saja aku berzina dan selalu mencari daun muda untuk memuaskan nafsu birahiku.

5. Tetap saja aku tidak menyegerakan zakat, infaq dan shadaqah kepada orang yang memang membutuhkan dengan menyimpannya di Bank dengan harapan mendapatkan bunga. Padahal kutahu bahwa orang yang berzakat/shadaqah/infaq mengharapkan apa yang telah diberikan segera sampai kepada yang membutuhkannya dan segera terhitunglah hisab amal perbuatannya sehingga hisab amal perbuatannya tidak terpendam di bank.

6. Tetap saja dengan riyanya kutaruh gelar H di depan namaku besar-besar dengan harapan agar orang menghormatiku, memandangku, takut dan memuji-mujiku. Padahal kutahu amal perbuatanku tidak menunjukkan kehajianku seperti kain ihram putih bak hati yang selalu bersih dan pasrah akan ketidak berdayaanku sebagai manusia di hadapan Allah. Tetapi tetap saja aku nakal dan jahat mengambil hak orang lain seperti mencaplok tanah, tidak punya perasaan dan mengusirnya apabila ada orang yang mengontrak di kontrakanku tidak mampu (memang nyata-nyata tidak mampu) dan lain-lain.


Ya Allah dengan sengaja kupermainkan ayat-ayatMU demi kepentingan diriku agar aku dapat dengan gampangnya menyalahkan dan mengkafirkan siapapun. Kupertunjukkan kepada siapapun bahwa aku adalah orang yang paling mengerti tentang ayat-ayatMU dan DiriMU sehingga siapapun kuanggap rendah dan bodoh. Padahal ayat-ayatMU itu hanya sebagai pemanis agar aku dianggap orang suci, mempermudah urusan bisnisku, membohongi diri dan orang lain. Padahal kenyataannya amal perbuatanku sering bertentangan dengan apa yang telah Kau perintahkan lewat ayat-ayatMU.

Ya Allah dengan mudahnya kukeluarkan larangan yang seolah-olah seperti fatwa karena aku seorang yang mempunyai ilmu agama mumpuni dan hebat lebih dari siapapun sehingga siapapun yang menganggapku sebagai ulama harus menuruti segala laranganku. Padahal kutahu Engkau selalu mempermudah ciptaan-MU dalam menjalankan ibadah disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi masing-masing umat. Selain itu kutahu masih banyak yang harus kuperhatikan dan tidak sekedar larangan yang tidak bersentuhan dengan umatku seperti masalah kemiskinan, pengangguran, pendidikan, kesehatan dan lain-lain.

Ya Allah masih banyak dosa yang telah dengan sengaja kuperbuat tetapi dengan bangganya lagi terus kulakukan. kalau perlu aku akan berpura-pura tangis di hadapanMU dengan tujuan agar orang lain mengganggapku sebagai orang yang khusu beribadah dan berdoa.

Ya Allah memang tidak pantas aku masuk "Surga MU" tapi aku juga takut masuk "Neraka MU". Bukan karena siksaan yang diberikan tetapi penolakan besar-besaran yang dilakukan oleh penghuni "Neraka" yang lain karena sesama penghuni nerakapun, aku dengan sengaja tetap ingkar janji, sombong, riya dan melakukan keburukan lainnya.

Maka itu Ya Allah berikanlah keyakinanMU yang hakiki dalam batin suci yang ada dalam diriku agar kumenjalankan perintahMU karena memang Haqqul Yakin diterima amal ibadahku tanpa ada perasaan pamrih. Dan tidak perlu lagi kepertontokan dan kupertunjukkan segala ibadahku kecuali dengan amal perbuatan yang baik.

Doa Itu Apa Ya....

Beberapa hari ini banyak teman yang berkunjung ke tempat saya terutama sales/marketing. Semua kelihatannya mempunyai masalah yang sama yaitu mulai kesulitan ekonomi dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarganya disebabkan oleh tidak tercapainya target pemasaran dalam 1 bulan (yang biasanya 15 ton menjadi 9 ton), kesulitan cash flow, kesulitan mencari konsumen dan lain-lain.

Semuanya mengeluh dan heran dengan sikap saya yang kelihatan santai dan tenang dalam menghadapi krisis ekonomi global yang mulai melanda Indonesia. Padahal mereka tidak tahu kalau saya juga pusing dan putar otak untuk mencari solusi yang tepat dan jitu dalam menghadapi krisis ini. Bukan berarti saya orang pintar dan jago  dalam bisnis tetapi saya lebih banyak berdoa dengan diiringi oleh usaha yang keras.

Kemudian mereka bertanya kepada saya "Doa yang seperti apa agar bisa diterima oleh Allah SWT". Saya katakan bahwa saya bukan ustad/kyai/syech/ulama tapi hanya manusia biasa yang selalu berpikir dan berdoa kepada Allah SWT yang menciptakan saya. Mereka merasa bahwa saya mempunyai kiat yang jitu dalam berdoa. Dalam hati kiat jitu apa ya dalam berdoa agar dikabulkan oleh Allah SWT. Sebetulnya bacaan doa sudah banyak ada dalam buku-buku mengenai doa yang banyak dijual di toko buku/pinggir jalan. Tetapi mereka merasa telah mengamalkan itu semua dan belum ada hasilnya. Dengan sedikit memaksa, mereka meminta saya untuk mengungkapkan bacaan-bacaan doa yang sering dilakukan. Akhirnya saya katakan dimana-mana doa apapun pasti akan dikabulkan oleh Allah SWT. 

Pertanyaannya adalah bagaimana melakukan doa yang baik dan benar????? Ingat saya tidak ingin menggurui dan mengajari tetapi hanya ingin berbagi pengalaman karena saya yakin teman-teman banyak lebih ahli dalam berdoa dibanding dengan saya bahkan tahu banyak mengenai macam-macam doa kepada ALLah SWT.


Menurut saya  dalam berdoa itu harus :

1. Yakin, bahkan bukan sekedar yakin tapi Haqqul Yakin bahwa doa yang kita panjatkan pasti dikabulkan oleh  Allah SWT. Wong setan saja berdoa dikabulkan oleh Allah. Kalau tidak yakin dikabulkan oleh Allah SWT yaa jangan berdoa.

2. Berdoa itu seperti kita sedang berbicara dengan orang tua kandung kita sendiri (ingat orang tua kita adalah wakil Allah SWT di dunia). Jadi tidak perlu merengek-rengek kepada Allah tetapi meminta petunjuk kepada Allah SWT karena Allah itu Maha Petunjuk. Lagipula Allah itu sudah tahu apa yang ada dalam hati  maupun keinginan kita tetapi semua itu harus diungkapkan seperti orang tua kita walaupun sudah tahu masalah anaknya pasti akan diam sampai anaknya sendiri yang mengungkapkan masalahnya.

3. Sebaiknya kita sudah melakukan usaha yang gigih dan pantang menyerah (istiqomah) sebelum kita berdoa kepada Allah SWT. Maksudnya adalah kita mengungkapkan kepada Allah "Ya Allah saya sudah berusaha ini itu dan belum ada hasilnya, saya memohon kepada MU berikanlah petunjuk karena Engkau Maha Mengetahui, Maha Mendengar, Maha Petunjuk sesuai dengan Qudrat dan Iradat Mu" Jangan berdoa minta kaya dan diberikan rejeki yang banyak tetapi selama ini kita tidak melakukan ikhtiar sama sekali, bagaimana mau dikabulkan ?????

4. Nyaman. Maksudnya adalah kita harus mengerti apa yang ingin diungkapkan kepada Allah SWT dalam berdoa. Gunakanlah bahasa yang dimengerti oleh kita (bahasa Indonesia) karena Allah SWT mengerti dan memahami apa yang kita katakan. Walaupun lebih afdol menggunakan bahasa Qur'an dalam berdoa tetapi kalau kita tidak mengerti dan memahami bahasa yang digunakan akan sia-sia hanya sekedar hafalan. Itulah yang dinamakan sinergi antara  kita dengan Maha Pencipta sehingga menyatu. Untuk itulah kita harus selalu menggali dan belajar mengenai doa-doa dalam Qur'an.

5. Pelajarilah sejarah 25 nabi/rasul yang terdapat dalam Qur'an karena kejadian-kejadian yang terjadi pada 25 rasul merupakan pengulangan sejarah pada masa sekarang. Contohnya adalah ketika kita berencana membangun rumah maka pelajarilah doa Nabi Ibrahim AS kepada Allah SWT ketika akan membangun Ka'bah, ketika kita dalam kondisi miskin maka pelajarilah doa Nabi Ayub AS yang ditimpa ujian kemiskinan dari Allah SWT, dan lain-lain.

6. Ikhlas dan pasrah (nothing to lose), terus berusaha/melakukan dan jangan mengeluh serta serahkan semuanya kepada Allah SWT.

Hanya itu yang bisa saya sampaikan berdasarkan pengalaman dan maaf saya tidak banyak menjelaskan dalil-dalil dalam Qur'an karena saya yakin teman-teman sudah banyak mengetahui dan lebih mumpuni dibanding saya yang baru belajar agama Islam ini.


Renungkan dan mudah-mudahan bermanfaat.....

SOSOK KYAI BERSAHAJA

Sudah hampir sepuluh tahun saya mengenal seorang Kyai yang sangat bersahaja ini. Sosok sederhana ini mempunyai sebuah pesantren di daerah terpencil sekitar Bumiayu Brebes Jawa Tengah. Pesantren yang dikelolanya dikhususkan kepada anak-anak yatim piatu dan dibiayai sendiri oleh Beliau baik kebutuhan pangan, papan, sandang, gaji pengajar dan lain-lain. Pada mulanya pesantren ini berdiri di atas tanah warisan keluarga Beliau. tetapi dalam perkembangannya pesantren ini semakin luas dan semua itu terjadi karena usaha dan daya upaya Beliau yang menginginkan pesantren ini berkembang dengan swadana walaupun ada juga orang-orang yang bersimpati dengan Beliau sehingga ikut menyumbang uang untuk keperluan pesantren ini.

Pertama kali kenal, Beliau berumur 79 tahun tetapi masih kelihatan enerjik, semangat, penuh ikhtiar, optimis dan pantang menyerah. Beliau bukanlah termasuk yang terkenal dalam kancah ulama nasional bahkan Beliaupun tidak terlalu terkenal dibanding dengan ulama-ulama di daerah sekitarnya yang mempunyai pondok pesantren yang mungkin 2 atau 3 kali  lebih besar dari yang dimiliki oleh Beliau. Memang Beliau tidak ingin disebut Kyai tetapi lebih senang disebut "ustad". Tetapi Beliau sering kali dimintai tolong oleh Kyai-kyai di sekitar lingkungan Beliau, baik masalah ilmu agama, keluarga maupun masalah-masalah lainnya. Nah ini herannya, masalah-masalah yang datang selalu dapat diselesaikan oleh Beliau dengan baik. Tetapi tetap saja Beliau bersikap sederhana dan tidak menonjolkan diri atau sombong. Lucunya orang-orang di sekitar daerah itu hanya tahu namanya tetapi tidak tahu siapa orangnya.


Berikut adalah pelajaran-pelajaran yang saya dapat dari Beliau berdasarkan tingkah laku Beliau yang selalu saya amati:

Saya menganggap Beliau sebagai orang yang sangat alim. Kenapa? Pertama kali saya mengenal beliau sampai sekarang., kalau berbicara dengan orang selalu menunduk dan jarang menatap wajah lawan bicaranya. Tetapi Beliau tahu apa yang dibicarakan dan kalau ada yang salah maka Beliau akan mengoreksinya dengan cara yang halus dan tidak menyinggung perasaan. Beliau sangat rendah hati dan tidak ingin menunjukkan betapa luasnya ilmu yang dimiliki.

Saya kagum dengan cara Beliau melayani tamu-tamu yang datang. Setiap tamu yang datang memang harus mendaftarkan diri sehari sebelumnya. Sewaktu saya bertemu dan mengenal pertama kali, sempat saya terkagum-kagum. Kenapa? Walaupun mempunyai santri yang banyak tetapi tetap Beliau yang menyediakan minuman, makanan sendiri dan menanyakan apa minuman kesukaan para tamunya, Apabila suka kopi panas maka disediakan kopi panas dan juga setoples gula pasir dan termos berisi air panas. Jadi kalau kurang manis tinggal menambahkan gula pasir. Kadang di ruang tamu sudah disediakan gelas, bubuk kopi, teh celup/serbuk teh, gula pasir dan setermos air panas sehingga tamu tinggal menyeduh sendiri. Dan saat makan siangpun Beliau yang menyediakan piring, nasi dan lauk-pauknya.

Saya pernah menanyakan kepada Beliau mengapa beliau melakukan itu semua sendiri tanpa dibantu oleh anak maupun santri yang lain. Beliau mengatakan kadang-kadang Beliau juga meminta tolong bantuan anak-anaknya dan santriwati. Tetapi setiap saya bertamu dan melihat tamu-tamu yang lain, Beliau sendiri yang selalu melayani. Tetapi Beliau mengatakan selama saya masih bisa melakukan sendiri maka akan dilakukan tanpa meminta tolong orang lain dan Beliau juga tidak ingin mengganggu santri-santrinya Kata beliau, “Biarlah mereka belajar dan mencari ilmu sebanyak-banyaknya lagipula hidup mereka sudah susah dan menderita (yatim piatu) jadi jangan mereka dibebani oleh hal-hal sepele dimana saya masih dapat mengerjakan sendiri” LUAR BIASA dalam hati saya dan mengingatkan saya kepada Rasulullah yang memberi penghormatan paling tinggi kepada siapa saja tamu yang datang ke rumahnya.

Beliau tidak banyak bicara, bicara seperlunya, kalau tidak ditanya Beliau akan diam tetapi Beliau selalu memperhatikan, mengamati dan mengikuti gerak-gerik tamunya. Contohnya adalah merokok? Beliau tidak merokok tetapi Beliau tidak melarang, menasehati, menyinggung dan menceramahi para tamunya. Bahkan ada peristiwa lucu yang pernah saya alami yaitu ketika asyik-asyiknya kami berbicara dengan Beliau dan kebetulan kami kehabisan rokok, tiba-tiba Beliau minta pamit untuk keluar sebentar. Saya pikir mungkin ada tamu penting yang datang.

Setelah 15 menit, Beliau datang sambil membawa beberapa bungkus rokok sesuai kesukaan kami dan menyilahkan kami merokok dan meneruskan pembicaraan sebelumnya. Kata Beliau, “kalau tidak ada rokok nanti malah kalian ceritanya melantur kemana-mana (tidak fokus) dan tidak klop, malah nanti saya yang bingung. Kalau kalian bingung tinggal cari rokok kalau saya bingung tidak tahu apa yang dicari hahahaha”. Itulah kecerdasan Beliau membaca (iqra) lingkungan sekitar tanpa disadari oleh orang di sekitarnya. Padahal beliau tidak menanyakan rokok-rokok kesukaan kami. Selain masalah rokok, Beliau juga tahu kalau tamunya punya uang atau tidak. Ini juga pernah saya alami, ketika akan pamitan pulang ke Jakarta, Beliau menitipkan uang untuk ongkos pulang walaupun saya merasa malu tetapi tetap beliau memaksakan saya untuk menerima karena tahu saat itu saya sedang kesusahan.

Pada awalnya pesantren Beliau kecil sekali dan hanya dapat menampung beberapa santri. Tetapi setiap saya datang bekunjung ke tempat Beliau selalu ada pembangunan gedung pesantren dan tanah pesantren bertambah luas. Saya pernah tanyakan bagaimana hal itu bisa terjadi. Beliau mengatakan kalau niat kita tulus, mulus dan lurus serta selalu berikhtiar maka Allah akan memudahkan jalan kita. Tetapi semua itu tergantung kepada bagaimana kita berdoa dan memohon kepada Allah. Kalau umat Islam mau melaksanakan  semua itu maka tidak akan ada orang minta-minta di jalan untuk sumbangan pembangunan mesjid atau pesantren.

Saya menganggap Beliau adalah ahli wirid. Beliau tidak pernah meninggalkan shalat sunnah maupun wajib. Beliau juga tidak pernah ketinggalan wudhunya, kalau menurut beliau merasa batal maka beliau akan kembali berwudhu walaupun itu bukan waktu shalat. Beliau selalu melakukan zikir dan wirid setiap saat, tempat, situasi kondisi dan ketemu siapapun. Saya sering kali mendengarkan asma Allah yang keluar dari mulutnya.

Saya pernah datang ke tempat Beliau tepat 15 menit sebelum azan Shalat Jum’at setalah hampir 2 hari 3 malam saya kurang tidur karena mengemudikan mobil bersama uyut sehabis perjalanan dari Surabaya dan mampir ke tempat Beliau.

Saat itu Beliau sedang berada di mesjid pesantren. Dalam kondisi mengantuk berat dan menunggu di ruangan tamu, tiba-tiba Beliau datang sambil membawa kasur dan bantal dengan mengatakan silakan tidur yang nyenyak. Kemudian Beliau pamitan untuk melakukan shalat Jum’at dimana Beliau sebagai khatibnya.
Kami tertidur sampai jam 5 sore. Ketika terbangun sudah tampak kedatangan Beliau. Beliau menanyakan bagaimana tidur kami, apakah suara azan, suara anak-anak mengaji mengganggu tidur kami dan meminta maaf atas ketidaknyamanan tidur kami. Coba bayangkan betapa rendah hati dan bersahajanya Beliau terhadap tamu-tamunya padahal itu di rumahnya sendiri tanpa pernah menunjukkan ketidaksukaan Beliau terhadap kami yang tidak melakukan sholat Jum’at malah bersikap sopan santun dan menghormati tamunya..

Ada satu hal yang membuat saya terkagum-kagum dan terheran-heran dengan sosok Beliau. Pada saat berkunjung ke tempat Beliau, tiba-tiba datang serombongan orang. Saya pikir mungkin mereka tamu biasa seperti saya. Setelah saya perhatikan, ternyata mereka bukan orang sembarangan terlihat dari pakaian dan gaya bicaranya. Dari logatnya tampak mereka berasal dari negara jiran berbahasa melayu. Mereka mengatakan ingin mengundang Ustad (panggilan kepada Pak Kyai) sebagai guru ngaji di tempat mereka seperti tradisi mereka tahun-tahun sebelumnya yang selalu mendatangkan Beliau ke negeri jiran. Yang membuat saya kaget adalah yang mengundang adalah orang nomor satu di negeri tersebut dan segala keperluannya sudah disiapkan secara matang dan lengkap dengan surat undangan dengan kop surat lambang negara tersebut.

Ketika saya menanyakan kepada Beliau mengenai bagaimana Beliau bisa mengenal orang-orang terkenal tersebut. Beliau hanya tersenyum dan mengatakan kebetulan saja mereka tersesat di jalan dan orang salah menunjukkan jalannya hingga ke tempat Beliau. Ah bisa aja Pak Kyai. Rupanya sudah banyak santri-santri beliau yang dikirim menjadi guru ngaji di negara-negara berbahasa melayu tersebut dan pada acara-acara tertentu Beliau selalu diundang.

Terima kasih Ya Allah Alhamdulillah Ya Rabbi telah diperkenalkan dengan orang-orang yang sholeh dan alim. Mudah-mudahan saya bisa mencapai tingkat keimanan seperti mereka Amin

Sabtu, 22 Agustus 2009

Ku Tak Mengejar Karomah, Yang Kukejar Istiqomah




" Salut gw ama loe, masih mau mengurus nyokap loe. Lihat saja nanti banyak karomah yang akan loe dapatkan karena anak yang mau mengurus atau merawat orang tuanya yang sudah renta akan mendapatkan banyak barokah dan karomah dari Allah SWT ".

Begitulah kalimat-kalimat sering diucapkan oleh orang-orang mengenal saya. Yang saya lakukan hanya menjawab "Amin" dengan sambil tersenyum-senyum. Kok tersenyum-senyum ? Apakah ada yang salah dengan kalimat-kalimat diatas ?

Tidak ada yang salah dengan kalimat-kalimat diatas, hanya saja saya melihatnya dari perspektif yang berbeda. Berbeda? Ya berbeda dan mungkin dianggap terlalu naif ataupun idealis. Perspektif yang ingin saya sampaikan mudah-mudahan dapat memberikan manfaat atau mungkin pencerahan (walaupun saya bukan ulama ataupun pemuka agama).

Saya selalu menjawab demikian, "saya tidak pernah mengharapkan, memikirkan, mencita-citakan apalagi merencanakan karomah/barokah yang diberikan oleh Allah SWT. Biarkan karomah/barokah itu menjadi urusan Allah SWT melalui malaikat-malaikat-Nya. Yang terpenting adalah saya telah beristiqamah sebagai seorang anak untuk berbakti kepada orang tua. Semua itu dilandasi oleh nilai-nilai Kasih Sayang (Rahman Rahiim). Layaknya Rahman-Rahiim Allah SWT kepada Umat Manusia dan begitu juga Rahman Rahiimnya orang tua terhadap anak ataupun anak terhadap orang tua. Semua itu tidak bisa dinilai dengan apapun sekalipun yang namanya karomah karena yakin Allah tahu apa yang terbaik buat seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya (maaf kata berbakti bukan suatu hal yang bersifat riya tapi sudah menjadi naluri seorang manusia yang sangat menghormati orang tua). Nah istiqomah itulah yang menjadi lokomotifnya.

Saya banyak mendengarkan curhat teman yang merasa menyesal karena tidak dapat menyenangkan orang tuanya karena orang tuanya sudah meninggal dunia atau salah satunya sudah meninggal dunia. Menyenangkan disini bukan sekedar memberikan materi yang berlebih tapi kasih sayang yang tulus. Dengan meneteskan air mata, mereka mengungkapkan rasa penyesalannya. Memang benar penyesalan datangnya belakangan tapi itu tidak membuat rasa kasih sayang mereka terhadap orang tua berhenti sampai disitu. Kasih sayang akan terus berlanjut dan dapat diungkapkan dengan doa kepada orang tua ataupun para leluhur yang telah meninggalkan kita dan kasih sayang juga bisa diwujudkan dengan menceritakan kembali hal-hal yang baik tentang orang tua kita kepada anak-anak kita agar ini bisa menjadi tradisi turun temurun dan menjadi kebanggaan generasi berikutnya. Inilah yang menurut saya bisa dianggap anak yang soleh.

Hari Pahlawan ini dapat menjadi momentum bagi semua untuk menunjukkan kepada orang tua-orang tua kita pendiri bangsa tentang makna kesolehan (anak yang soleh). Saat ini banyak yang berpikir setelah manusia meninggal dunia maka selesailah ceritanya, Padahal peribahasa kita mengatakan Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan kebaikan. Atau paribahasa jawanya mikul duwur mendem jero. Padahal banyak cerita yang bagus tentang keheroikan para orang tua terutama tentang nilai-nilai pengorbanan, kejujuran, kebenaran, budaya sopan santun, dan ketauhidan yang sepertinya sudah mulai jarang kita dengar, baca, tumbuh kembangkan dan sebagainya pada saat ini. Jadi teruslah beristiqomah dalam kebaikan, kebenaran, kesolehan dan ketauhidan dalam kehidupan di dunia. Yakinlah Allah akan memberikan yang terbaik bagi kita bangsa Indonesia dan yakinlah bencana, musibah atau apapun yang berdampak negatif akan menjauh ataupun enggan mendekat.

Renungkan dan mudah-mudahan bermanfaat.

Memaknai Puasa Dan Fitri Dengan Analogi

Tadi pagi selepas Sholat Subuh, saya bertemu dengan seorang Bapak (sebut saja Beliau). Dari sejak azan Subuh ketika saya datang ke mesjid, Beliau selalu duduk di pojokkan saf kedua dan tampak khusu' berdoa. Setelah selesai Sholat, beliau tetap berada di tempatnya dengan terdiam dan tampak sedang bertafakur.

Ketika saya sedang menuju ke bawah (mesjid kami 2 tingkat dimana tingkat dua dipakai untuk ibadah sholat sementara bagian bawah untuk pengajian anak-anak (TPA)), ada suara yang memanggil saya, "Dik sebentar dik!". Saya terkejut dan mencari suara itu datangnya darimana. Ternyata Beliau yang memanggil saya. Kemudian saya menghampirinya. "Ada apa, Pak?"Beliau menjawab,"Boleh mengganggu sebentar". Jawab saya,"Oh tidak apa-apa lagipula ini masih pagi dan masih ada waktu untuk ngobrol-ngobrol". Akhirnya mengucapkan terima kasih atas berkenannya saya untuk menemaninya ngobrol.

"Tahu ga dik? Saya tahu adik dari tadi selalu memperhatikan saya sejak masuk mesjid sampai selesai sholat tadi" kata Beliau. Terkejut saya mendengarnya karena perasaan saya, Beliau dari awal sampai akhir selalu menunduk dan dengan khusu'nya berdoa tapi kok tahu saya memperhatikannya."Kok Bapak tahu sih?" kata saya. Beliau tidak menjawab tetapi hanya tersenyum. Kemudian Beliau memperkenalkan diri dan namanya sama dengan sahabat Rasul SAW yang menjadi Khalifah ke-dua pada jaman setelah Rasul SAW wafat. Beliau juga bertanya nama, alamat dan sudah berapa saya tinggal.

Setelah bicara kesana kemari, Beliau bertanya,"Kapan mulai Puasa Ramadhan?". Jawab saya " Ya tinggal sekitar 1 bulan lagi pak". "Alhamdulillah" jawab Beliau. "Bagaimana puasa ramadhan tahun lalu dik? Lancar?" tanya Beliau. " Puasa Ramadhan tahun lalu saya tidak mendapatkan apa-apa Pak selain lapar dan haus", jawab saya dengan polosnya.

"Jarang saya mendapatkan jawaban seperti ini dik" kata Beliau. Kok bisa sih apa ada yang aneh dalam hati saya. Kata Beliau banyak orang yang belum bisa menjawab apabila ada pertanyaan seperti itu. Setelah itu  Beliau dengan lancarnya menjelaskan tentang analogi puasa. Nah ini cerita serunya (pikir saya saat itu)


Beliau menganalogikan antara puasa dengan Pesta Olahraga seperti Olimpiade, Asian Games, Sea Games, Piala Dunia, Euro sampai Piala Thomas-Uber dan lain-lain. Beliau menjelaskannya seperti ini:

1 Puasa dan Pesta Olahraga pada akhir/ujungnya yang ingin dicapai adalah prestasi. Prestasi dalam olahraga adalah medali (emas,perak dan perunggu), Piala Kejuaraan dan lain-lain. Kalau puasa adalah diterimanya puasa oleh Allah secara utuh tanpa ada yang kurang maupun lebih (maaf saya kurang bisa menjelaskan dengan dalil-dalil dalam Qur'an dan Hadist seperti Beliau jelaskan kepada saya).

2. Bagaimana prestasi dapat diraih dengan hasil yang luar biasa? Prestasi diperoleh dengan latihan/kerja keras dari hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan sampai pada hari H (hari pertandingan) Kalau kita latihannya benar dan mengikuti apa yang telah diprogramkan seperti atlet Cina, Rusia dan Amerika Serikat dengan program yang terstruktur maka tidak heran mereka selalu menjadi nomor satu (wahid). Puasa pun juga begitu, selama 11 bulan sebelum Puasa Ramadhan seharusnya kita latih tanding dengan melakukan puasa Senin-Kamis, puasa Nabi Daud, Puasa Muharram dan lain-lain sehingga ketika pada hari H-nya (bulan Ramadhan) kita akan mendapatkan prestasi yang paling baik dihadapan Allah SWT.

3. Prestasi selama pertandingan juga bisa diperoleh dengan konsentrasi. Nah ini yang kadang-kadang atlet sering blunder yang harusnya dapat emas malah hanya dapat perak atau perunggu atau tidak mendapatkan apa-apa. Puasa pun demikian, konsentrasi kita harus dimulai dari sahur sampai azan maghrib, biasanya yang mengakibatkan konsentrasi puasa kita buyar adalah saat terakhir yaitu menjelang berbuka. Coba kita jujur dengan sendiri, saking sudah laparnya akhirnya kadang-kadang kita selalu lihat jam, bernafsu ingin beli makanan ini itu, dan kadang-kadang nungguin makanan di meja makan. Padahal Rasul mencontohkan kita untuk berbuka dengan teh manis dan tiga butir korma. Perkataan beliau membuat pikiran saya ke pertandingan Piala Champion MU VS Munchen tahun 1999, dimana menit terakhir pada kedudukan 1-1 Ole Gunnar Solkjaer membobol gawang Kahn. Gol itulah memupuskan harapan Munchen menjadi juara karena kurang konsentrasinya pemain-pemain Munchen pada menit-menit terakhir. Hahahahaha kayak pengamat bola aja.

4. Prestasi itu diperoleh melalui kerja keras, latih tanding dan disiplin. Fokusnya adalah ke pertandingan yang sebenarnya dan tidak memikirkan lagi hal-hal yang remeh temeh karena sudah direncanakan secara matang. Itulah gunannya perencanaan yang sistematis menurut versi Beliau. Puasa Ramadhanpun demikian. Beliau menjelaskan bagaimana puasa hanya dijadikan ajang untuk mengumbar umbar uang (coba dipikir besaran mana pengeluaran selama bulan puasa atau bukan bulan  puasa), yang dipikirkan THR, jarang orang bisa beritikaf di mesjid selama 10 hari terakhir karena semua berkonsentrasi mencari uang untuk lebaran (jadi selama 11 bulan ngapain kata Beliau, wah dalam hati saya berat nih karena kebutuhan dan pendapatan tidak seimbang tiap bulannya tapi boleh juga kalau ga dicoba khan ga pernah tahu) Saya berpikir bisa, bagaimana kalau tiap hari saya masukkan ke celengan rata-rata Rp 20 ribu-30 ribu tanpa pernah saya colek-colek tuh celengan sampai bulan Ramadan kalau dihitung bisa mencapai Rp 6-7 juta. Wah benar juga tuh Bapak. Istilah Beliau mengenai  puasa bulan Ramadhan bagi orang jaman sekarang : 10 hari pertama ramai di mesjid, 10 hari kedua ramai di mall-mall/pusat perbelanjaan dan 10 hari terakhir ramai di terminal/stasiun/bandara (yang seharusnya bulan penuh rahmat, penuh pengampunan dan menjauhkan kita dari api neraka)

5. Yang lebih penting lagi, prestasi dapat diperoleh dengan dukungan dan doa dari orang tua, saudara, teman sampai Presiden seperti atlet Indonesia yang mau ke Olimpiade Beijing mohon doa restu dan pamitan dengan Presiden SBY dengan harapan mendapatkan prestasi yang terbaik. Puasa pun juga demikian, sebelum puasa Ramadhan, kita berziarah ke makam orang tua kita yang telah meninggal atau berkunjung ke orang tua yang masih hidup, saudara, teman, dan tetangga disekitar lingkungan kita untuk memohonkan maaf atas kesalahan kita selama 11 bulan, mohon doa restu agar dimudahkan ibadah kita selama bulan puasa karena makin banyak orang yang mendoakan kita makin makbul ibadah kita sehingga dapat diterima Allah SWT.(Sirothol mustaqim - jalan lurus/jalan tol)

6. Jadi kalau sudah prestasi dicapai orang tidak perlu bertanya-tanya lagi karena sudah tersiar di koran-koran, majalah, radio, tv dan internet serta ditambah hadiah dari mana-mana. Semua orang bangga dengan prestasi kita terutama orang tua, orang-orang terdekat sampai Presiden karena membawa nama baik bangsa dan negara. Sama dengan puasa ketika prestasi puasa kita dijalankan dengan baik sesuai dengan Standar Operation Procedur (SOP) dari Allah SWT maka tampak dari penampilan, tingkah laku, amal perbuatan dan rejeki akan selalu mengalir. Jadi kalau ditanya oleh orang tua ataupun orang lain, bagaimana puasa Ramadhan kemarin atau apa yang didapat selama bulan puasa Ramadhan maka kita bercerita dengan lancar, gembira, panjang lebar karena  kita telah mendapatkan puncak prestasi tertinggi dari Allah SWT. Itulah penjelasan Beliau tentang analogi Puasa Ramadhan.

Persis jam 6.30 pagi saya pamitan dan saya katakan nanti saya kembali lagi karena mau pesan kopi dan makanan kecil. Tidak enak dan nikmat ngobrol tanpa kopi dan pisang goreng hehehehe. Sekitar 30 menit kemudian saya kembali lagi ke mesjid dengan harapan akan dapat ilmu pengetahuan dan pengalaman dari Beliau dan sayang untuk dilewatkan. Ternyata beliau sudah tidak ada di tempat ketika saya tanyakan ke penjaga mesjid tentang Beliau. Penjaga mesjid mengatakan sejak selesai subuh tadi mesjid kosong tidak ada siapa-siapa. Lho kok begitu khan dari subuh saya ngobrol dengan seorang Bapak sambil menyebutkan ciri-cirinya. Apakah penjaga tadi tidak mendengar suara kami berbicara. Penjaga mesjid mengatakan tidak mendengar apa-apa dan juga tidak tidur dari subuh serta selalu membersihkan lantai dua setiap selesai sholat subuh. Aneh.

Jadi sejak subuh tadi saya berdiskusi dengan siapa. Manusia atau makhluk gaib. Dalam hati masa bodo lah tetapi saya bersyukur mendapatkan ilmu tentang puasa dan dapat menambah wawasan pikiran tentang agama yang saya anut.  Begitulah ceritanya dan mudah-mudahan mendapatkan manfaat dari cerita ini.

TAQABALALLAH MINNAA WA MINKUM, SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1431 HIJRIAH