Tampilkan postingan dengan label humaniora. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label humaniora. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 September 2010

Persamaan Poligami Dan Poliklinik

Sebelum saya membahas persamaan poligami dan poliklinik maka sebaiknya kita menyamakan persepsi dulu mengenai definisi keduanya.


blogger-pesta.blogspot.com

Dalam antropologi sosial, poligami merupakan praktik pernikahan kepada lebih dari satu suami atau istri (sesuai dengan jenis kelamin orang bersangkutan) sekaligus pada suatu saat (berlawanan dengan monogami, di mana seseorang memiliki hanya satu suami atau istri pada suatu saat). Islam pada dasarnya 'memperbolehkan' seorang pria beristri lebih dari satu (poligami). Islam 'memperbolehkan' seorang pria beristri hingga empat orang istri dengan syarat sang suami harus dapat berbuat 'adil' terhadap seluruh istrinya (Surat an-Nisa ayat 3 4:3). Poligini dalam Islam baik dalam hukum maupun praktiknya, diterapkan secara bervariasi di tiap-tiap negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam. Di Indonesia sendiri terdapat hukum yang memperketat aturan poligamii untukpegawai negeri, dan sedang dalam wacana untuk diberlakukan kepada publik secara umum. Tunisia adalah contoh negara arab dimana poligami tidak diperbolehkan.
(Sumber Wikipedia)


rsudjombang.com

Bagaimana dengan poliklinik ? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Poliklinik adalah balai pengobatan umum (tidak untuk perawatan atau pasien menginap).

Setelah kita mengetahui pengertian keduanya maka saya akan membahasnya dalam sebuah cerita menarik yang pernah saya alami. Oh ya poligami yang dimaksudkan di tulisan ini berkaitan erat dengan poligami seorang laki-laki.

Setiap hari Jumat minggu pertama tiap bulannya, saya selalu mengantarkan ibu untuk melakukan pemeriksaan rutin kesehatan mulai dari jantung, diabetes sampai strokenya. Seharian penuh saya berada di rumah sakit. Mulai jam 6 pagi, kami berangkat ke rumah sakit karena ibu harus diambil darahnya setelah 12 jam berpuasa. Dan dua jam berikutnya setelah ibu membatalkan puasanya maka diambil darahnya kembali.

Hasil pengecekan darah baru bisa diketahui pada sore harinya sekitar jam 4 atau 5 sore bertepatan dengan praktek Dokter Spesialis Jantung ibu sehingga mau tidak mau saya tidak bisa kemna-mana selalu siap sedia seharian. Karena Dokter Spesialis Jantung ibu terkenal mumpuni maka banyak sekali pasien yang datang untuk melakukan pengecekan kesehatannya. Hal inilah yang membuat ibu sering dilanda kebosanan menunggu di kursi rodanya. Untungnya di ruang tunggu ber AC tersebut ada sebuah televisi sehingga Ibu dan pasien-pasien yang kebanyakan usianya hampir sama cukup terhibur dengan acara televisi misalnya sinetron.

Hari ini kami sungguh beruntung karena pasien yang datang tidak terlalu banyak sehingga dapat pulang lebih cepat. Namun saat saya akan membayar dan menebus obat ternyata ada gangguan teknis di komputer rumah sakit sehingga membutuhkan waktu lama. Inilah yang membuat saya kuatir karena merasa kasihan dengan ibu yang menunggu di ruangan tunggu di lantai dua.

Alhamdulillah hanya membutuhkan waktu sejam saya bisa kembali menjemput ibu. Baru saja saya mendekat, tiba-tiba Ibu bertanya sesuatu.

" Rud saya mau tanya. Apa persamaannya jemuran dengan telepon ? "

Jiaahhhhh saya sampai mau tertawa tetapi saya tahan karena takut menyinggung beliau. Biasanya orang tua itu perasaannya sensitif. Tetapi dalam hati berkata waduh ibu sudah terkena virus iklan hehehe. Untuk menyenangkan ibu maka saya pura-pura tidak tahu.

" Waduh saya tidak tahu. Apa tuh persamaannya ? "

" Dasar saja kamu bodoh. Ini jawabannya, Kalau Kriiiiing diangkat hahahahaha "

" Hahahahaha " sayapun ikut tertawa sambil meringis dan menggeleng-gelengkan kepala tetapi diam-diam agar tidak diketahui beliau.

" Sudah ah pulang. Obatnya sudah ditebus kok lagi pula sebentar lagi jam 7 " ajak saya

" Nanti dulu, lagi seru nich sinetronnya " jawab ibu.

" Sinetron apa sih yang ditonton "

" Ketika Cinta Bertasbih.... Nah tuh iklan yang kriiing tadi hehehehe emangnya kamu tidak pernah lihat iklannya ya kok tidak tahu jawabannya "

" Malas ah nonton televisi apalagi sinetron "

Akhirnya saya menemani ibu menonton sinetron Ketika Cinta Bertasbih sampai selesai. Menjelang usai ibupun bertanya lagi kepada saya.

" Rud, sekarang saya mau tanya "

" Tanya apa lagiiiii "

" Apa persamaannya Poligami (laki-laki) dengan Poliklinik ? "

" Apaan lagi nih... aneh-aneh saja ya jelas beda lah "

" Ada dan sama "

" Samanya ??? "

" Tadi khan kamu sempat nonton sinetron Ketika Cinta Bertasbih. Di bagian akhir Ustadzah Zarkonita mendapatkan telepon dari Abahnya kalau Abahnya akan datang besok hari untuk meminta Azzam yang telah beristri Anna agar menikahi anaknya Zarkonita sesuai dengan amanah Kyai Guru Abahnya. Nonton khan ? "

" Iyaaa maksudnya supaya Azzam menerima Zarkonita menjadi isteri keduanya. Artinya Azzam berpoligami khan "

" Nah kamu tahu hehehe "

" Terus persamaannya dengan poliklinik ??? "

" Nah kalau besok Abahnya datang dan benar meminta Azzam menikahi Zarkonita berarti sama saja dengan poliklinik "

" Maksudnya ? "

" Ya kalau saya jadi Ustadzah Anna, istrinya Azzam maka saya akan mengatakan kepada Azzam atau Abahnya Zarkonita demikian. Poligami itu sama dengan Poliklinik sambil meletakkan pisau di meja "

" Huahahahahahahahaha galak sekali huahahahahahahaha "

" Kok kamu malah tertawa. Saya ini serius lho. Tinggal pilih aja mau poliklinik yang mana "

" Kayaknya politik penyakit dalam dech hahahahahahahahaha "

" Iya ya ya Rud benar kamu hahahahaha "

Rupanya pembicaraan kami didengar oleh orang-orang yang berada di ruang tunggu tersebut dan tertawalah kami semua hahahahahahahahahaha

Ternyata poligami sama sja dengan poliklinik menurut ibu saya tetapi urusan masih berlanjut di dalam taksi.

" Kalau menurut kamu, poligami bagaimana ? " tanya ibu

" Ya tidak tahu wong belum menikah " jawab saya

" Makanya nikah !!!!!!!! " teriak ibu

" Lamarin dong "

" Siapa orangnya Rud ? "

Hahahahahahaha

Kamis, 02 September 2010

Nilai Puasa Dan Guru Sejati

Guru (exoticindiaart.com)



" Apa yang sedang kamu takutkan Fir ? "

" eh eh eh eeeehhhh "

" Kelihatannya kamu sedang sakit. Kamu puasa hari ini khan ? "

" Iya saya puasa eeeehhhh tapi... "

" Tapi apa, kamu keringat dingin. Jelas-jelas kamu sakit. Tuh lihat bajumu sampai basah "

" Saya takut Min. Takut sekali. "

" Apa yang kamu takutkan sampai keringat dingin seperti ini ? "

' Saya takut ditanya oleh Sang Guru. Makin mendekati Idul Fitri ketakutan saya makin meningkat "

" Sang Guru ??? Siapakah Sang Guru ??? Apa yang membuatmu makin takut ? "

" Sang Guru akan marah besar bila saya berkata tidak jujur dan tidak mendapatkan apa-apa dari puasa ini "

" Maksudnya ??? "

" Setelah puasa Ramadhan ini usai maka Sang Guru akan datang ke tempat saya untuk menanyakan banyak hal yang berkaitan dengan puasa "

" Memangnya Sang Guru tersebut bertanya apa saja ? "

" Diantaranya apa yang kamu dapat selama puasa di bulan Ramadhan ? Apakah kamu benar-benar menjalankan puasa ? "

" Itu mah sepele sekali Fir. Apa yang harus ditakutkan ? "

" Sepele tetapi sulit menjawabnya "

" Katakan saja kalau kamu telah menjalankan puasa sesuai dengan perintah di dalam Qur'an. Terus bilang juga kamu telah mendapatkan hikmah seperti THR, kekasih atau apalah. Khan bisa dibuat-buat. Gitu aja kok repot "

" Enak saja kamu, Min. Kamu belum tahu marahnya Sang Guru. Bisa-bisa kita tidak mendapatkan keberkahan di 11 bulan setelahnya bahkan hidup kita makin susah "
" Masa sich "

" Ingat nggak dengan para sahabat Rasul ketika ditanya bagaimana kabarnya setelah menjalankan puasa ? Ada yang mengatakan kalau puasanya tidak mendapatkan apa-apa atau kondisi keimanannya menurun atau sebaliknya makin meningkat. "

"Ohh ya ya saya ingat. Intinya kejujuran khan ! "

" Betul kejujuran itulah yang membuat Sang Guru Sejati tidak akan marah dan terus mengingatkan pentingnya keimanan kepada Allah SWT "

" Tunggu tunggu dulu. Puasa khan tinggal 10 hari lagi. Makin mendekati Idul Fitri biasanya orang gembira menyambutnya. Kok kamu malah sedih. "

" Bukan sedih tetapi takut saja kalau saya telah sia-sia melakukan ibadah. Maka itu saya akan menentukan sikap setelah syawal berakhir karena setelah syawal itulah saya telah menemukan jawaban atas ketakutan saya tersebut. "

" Aneh ya kamu Fir. Orang-orang gembira sekali setelah Ramadhan dan sikapnya biasa-biasa saja tanpa mau tahu jawaban apapun dari Sang Pencipta "

" Nah itulah gunanya kita mempunyai Sang Guru. Sang Guru inilah yang selalu mengingatkan dan menasehati segala tindak tanduk kita "

" Ohhhh gitu ya ..... "

Siapakah Sang Guru ? Dari cerita singkat di atas dapat disimpulkan Sang Guru tersebut adalah Guru Sejati yang ada di dalam qolbu manusia yang bekerja otomatis apabila manusia berbuat tidak baik. Mak a itu seringlah kita bertanya kepada Guru Sejati yang ada di dalam qolbu tersebut dengan ikhlas dan khusu'. Banyak sekali jawaban-jawaban kehidupan diri yang diberikan sehingga manusia tidak salah jalan alias jalan yang lurus.

Berikut saya ingin menggambarkan Sang Guru dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan pengalaman yang pernah saya alami. Analogi Sang Guru dalam pengalaman saya ini adalah Om Tris dari Cirebon. Beliau adalah orang yang selalu mengingatkan saya dengan pertanyaan yang sepele tetapi menusuk. Pertanyaannya selalu sama dari tahun ke tahun setelah puasa di bulan Ramadhan yaitu Apa yang saya peroleh selama puasa ? Bagaimana kabar puasa saya ?
Nah pertanyaan itulah yang selalu diterapkan kepada anak muridnya yang tersebar di seluruh Cirebon. Walaupun yang saya alami tidak berkaitan dengan puasa wajib di bulan Ramadhan tetapi tetap menjalan ritual puasa. Dalam berbagai kesempatan beliau selalu menunjuk 3 orang muridnya untuk menjalankan puasa selama 3 hari. Puasa ini bertujuan untuk meningkatkan daya nalar dan mengasah kekuatan batin. Setelah 3 hari menjalankan puasa maka 3 muridnya akan datang ke Om Tris untuk ditanyakan beberapa pertanyaan yang sederhana tetapi memberikan efek langsung kepada yang berpuasa.

Sebut saja 3 orang muridnya bernama Udin, Budin dan Nurdin. Setelah menjalankan puasa 3 hari di rumah mereka masing-masing, ketiganya menghadap Om Tris. Satu-satu akan ditanya tetapi sebelum ditanya maka ketiganya akan disalami dimana Om Tris selalu mengucapkan doanya dan menghembuskan angin serta mengusap-usap kepala ketiga muridnya tersebut.

' Bagaimana puasa kalian bertiga selama 3 hari ini ? Mulai dari Udin, kedua Budin dan terakhir Nurdin " tanya Om Tris.

" Saya telah menjalankannya dengan baik " jawab Udin

" Benar kamu menjalankan puasa dengan baik. Apa yang kamu dapat dari puasa kemarin " tanya Om Tris Kembali.

" Badan saya terasa ringan Om dan pikiran jadi fresh " jawab Udin

" Benar kamu merasa fresh ? Jangan bohong ya. Ingat tadi kamu sudah salaman dengan saya ya " ujar Om Tris.

" Benar Om saya bicara jujur " balas Udin.

" Saya percaya kok hehehe " celoteh Om Tris.

Tiba-tiba Udin mengerang kesakitan, Udin memohon-mohon kepada Om Tris untuk mengobatinya. Rupanya badan Udin tiba-tiba panas tinggi. Tampak sekali Udin merasa kegerahan.

" Masih panas Din ? "

" Aduh tolong saya Om. Panas...panas sekali badan saya Om "

" Makanya kamu jangan bohong. Ngaku saja puasa hari kedua kamu nongkrong di warung dekat rumahmu sekitar jam 1 siang. Terus kamu minum kopi panas khan. Ayo ngaku saja. Kalau tidak panas badanmu makin tinggi "

" Iya om iya saya ngaku. Saua ngopi di warung itu "

" Ya udah kamu kemari "

Langsung saja Om Tris memegang bahu Udin dan kondisinya kembali normal.

" Sekarang kamu Budin. Jawab yang jujur. Pertanyaannya sama dengan Udin "

" Saya puasa dong om " ujar Budin dengan gagahnya.

" Benar ya kamu puasa "

" Benar Om mana berani saya bohongi Om "

" Ya sudah. Nurdin kesini kamu "

Baru saja Nurdin mau beranjak mendekati Om Tris. Tiba-tiba bafdan budin langsung menggigil.

" ommmmm toooloooogiiiiinnnn saaaayyyyaaaaa ommmm "

" Memangnya kamu kenapa Budinnnn "

" Badan sayaaaa meeenngggiiiiiggggillll kedinginan seperti di atas gunung yang tinggggiiii. Saaaayyyyyya tiiiiidaaaaak kuuuuuuaaaat "

" Hehehehe tapi kamu ngaku dan jujur ya. Benar nggak kamu tepat puasa pertama siang hari juga minum es buah di kantin kantor kamu. "

" Lhoooo koookkkkkk ommm tahuuu yaaaa "

" Yaa udah kamu ngaku aja kalau tidak kamu makin kedinginan kayak di kutub hahahaha "

" Iyaaaa ommmm saaaayyyyaaaaa ngaku "

Sama seperti Udin, dengan hanya menepuk bahu maka kondisi Budin normal kembali,
Nah pada saat giliran Nurdin, belum saja Om Tris bertanya eehhhh si Nurdin langsung mengatakan kalau dia tidak menjalankan puasa 3 hari tersebut dengan wajah memohon. Om Tris hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dan sesekali tersenyum. Kemudian Om Tris mengatakan sesuatu kepada saya.

" Lihat Rud, itulah manusia yang terjadi saat ini. Mereka pikir tidak akan ada orang yang tahu dengan ibadah puasanya heheheehe Kebetulan saja saya diberikan hidayah oleh Allah SWT maka dengan mudah saya bisa mendeteksi apakah Udin, Budin dan Nurdin benar-benar berpuasa atau tidak dan kejujuran mereka itulah yang dituntut. Ini baru saya yang menilai apalagi Allah SWT maka manusia tidak akan bisa berbuat apa-apa kecuali jujur terhadap dirinya sendiri dengan keinginan untuk mendapatkan kualitas keimanan nomor wahid hehehe "

" Ohh gitu ya Om "

" Iya maka itu manfaatkanlah Guru Sejati yang dimiliki oleh setiap manusia untuk menanyakan banyak hal tentang diri agar manusia bisa menjalankan kehidupannya dengan lurus. Jujurlah kalau kondisi keimanan kamu sedang turun sehingga ada yang mengingatkan dan jangan ditutupi dengan perkataan seolah-olah kamu manusia yang benar, alim dan bermoral "

" Kalau tidak jujur bagaimana Om ? "

" Kamu khan lihat sendiri bagaimana Udin dan Budin merasakan sendiri apa yang telah mereka perbuat. "

" Iya ya Om "

" Jangan iya iya saja. Bagaimana puasa kamu di bulan Ramadhan tahun ini "

" Kurang baik bahkan tidak baik, Terjadi penurunan keimanan yang luar biasa Om "

" Ya sudah. Banyak-banyaklah membaca Istighfar "
Foto kenang-kenangan sebelum Om Tris (baju coklat dekat lukisannya) meninggal dunia (dok.pribadi)

Rabu, 01 September 2010

Zakat : Peningkatan Kualitas Keimanan dan Pola Pikir

Berdasarkan firman Allah QS At-Taubah ayat 60, bahwa yang berhak menerima zakat/mustahik sebagai berikut:

1. Orang fakir: orang yang amat sengsara hidupnya, tidak mempunyai harta dan tenaga untuk memenuhi penghidupannya.

2. Orang miskin: orang yang tidak cukup penghidupannya dan dalam keadaan kekurangan.

3. Pengurus zakat : orang yang diberi tugas untuk mengumpulkan & membagikan zakat.

4. Muallaf : orang kafir yang ada harapan masuk Islam dan orang yang baru masuk Islam yang imannya masih lemah.

5. Memerdekakan budak : mencakup juga untuk melepaskan muslim yang ditawan oleh orang-orang kafir.

6. Orang berhutang: orang yang berhutang karena untuk kepentingan yang bukan ma'siat dan tidak sanggup membayarnya. Adapun orang yang berhutang untuk memelihara persatuan umat Islam di bayar hutangnya itu dengan zakat, walaupun ia mampu membayarnya.

7. Pada jalan Allah (sabilillah): yaitu untuk keperluan pertahanan Islam dan kaum muslimin. Di antara mufasirin ada yang berpendapat bahwa fisabilillah itu mencakup juga kepentingan-kepentingan umum seperti mendirikan sekolah, rumah sakit, madrasah, masjid, pesantren, ekonomi umat, dll.

8. Orang yang sedang dalam perjalanan yang bukan ma'siat mengalami kesengsaraan dalam perjalanannya. Atau juga orang yg menuntut ilmu di tempat yang jauh yang kehabisan bekal.


Mengenai syarat-syarat harta yang dikeluarkan dan macam-macam objek zakat maal dapat dilihat di SINI. Sedangkan cara menghitung berapa besaran zakat yang wajib dilaksanakan dapat dilihat di Dompet Dhuafa Republika.

Dalam tulisan ini saya hanya ingin mengupas tentang nilai-nilai yang terkandung dalam ibadah zakat ini. Kita pernah menyaksikan sebuah berita mengenaskan yang berkaitan dengan pembagian zakat. Salah satunya adalah peristiwa pada tanggal 15 September 2008 dimana para penerima zakat meninggal dengan tragis karena berdesak-desakkan dalam menerima pembagian zakat di Kelurahan Purutrejo, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan (baca DISINI).

Dari peristiwa tersebut sudah seharusnya para pemuka agama Islam mulai memikirkan bagaimana cara yang tepat dalam melaksanakan pembagian zakat. Tetapi herannya peristiwa seperti terus berulang di berbagai tempat. Lantas apa hikmah yang diperoleh dari peristiwa tersebut ?

Perlu diketahui dalam melakukan ibadah zakat terkandung makna yang dalam yaitu makna tanggung jawab. Dalam hal ini tanggung jawab moral. Tanggung jawab moral ini bukan hanya dikenakan kepada yang memberi zakat tetapi juga kepada yang menerima zakat (kedua belah pihak).

Bagaimana tanggung jawab moralnya ? Sebagai pihak pemberi zakat harus haqqul yakin bahwa zakat yang diberikan tersebut benar-benar berasal dari sesuatu yang halal dan baik cara pemberiannya. Sedangkan bagi penemrima zakat harus haqqul yakin bahwa zakat yang diterima bisa dimanfaatkan bagi diri dan keluarganya serta pada masa yang akan datang ada peningkatan kualitas hidup sehingga pada gilirannya bisa sebagai pemberi zakat. Bahkan kalau bisa tahun depannya sudah bisa menjadi pemberi zakat.

Coba saja kalau kita mau memperhatikan merenungkan dalam setiap pemberian zakat maka selalu saja yang menerima zakat adalah orang-orangnya hanya itu-itu saja dan tidak berubah dari tahun ke tahun. Apakah ada yang salah dalam memberikan pemahaman agama kepada umat ? Saya kurang tahu. Mungkin perlu ada penjelasan yang komprehensif dan berkesinambungan kepada umat Islam mengenai filosofi ibadah zakat. Dan ini bukan hanya tugas para ulama tetapi tugas kita bersama sebagai muslim.

Bagaimana solusinya ? Saya hanya akan memberikan gambaran tentang peningkatan kualitas keimanan dan pola pikir dalam memahami makna keadilan. Adil ? Ya adil walaupun menurut versi saya sebagai seorang muslim yang menginginkan adanya pengurangan jumlah penerima zakat dari tahun ke tahun.

Dimanakah keadilannya ? Apakah tidak sebaiknya para panitia zakat mulai memikirkan untuk membentuk badan khusus yang bekerja sepanjang tahun untuk memantau para penerima zakat khusus. Khusus disini mengandung pengertian orang-orang yang memang berhak mendapatkan zakat dan mempunyai potensi untuk berubah menjadi lebih baik dalam manajemen syariah. Para penerima zakat tersebut memang pilihan badan khusus dimana mereka diberikan dana yang berasal dari zakat sebagai modal usaha. Dana tersebut bisa dikatakan hibah bergulir dimana mereka dikenakan kewajiban untuk mengembalikannya dalam jangka waktu tertentu. Uang pengembalian tersebut bisa dipakai lagi untuk memberikan bantuan modal kepada umat muslim yang lain. Tetapi semuanya dikontrol dengan manajemen yang baik dan amanah seperti yang dilakukan oleh Muhammad Yunus dengan Garmeen Banknya. Disamping itu pengembalian plus keuntungan usaha dari orang yang dulunya menerima zakat bisa dimanfaatkan untuk zakat kembali sehingga terjadi perubahan posisi dan peningkatan hidup menjadi pemberi zakat.

Begitu pula objek zakat berupa hewan ternak yang bisa dimanfaatkan sebagai modal ternak bagi penerima zakat. Hewan ternak tersebut dirawat dan dikembang biakan dengan baik ssehingga pada tahun yang akan datang anakan hasil ternak tersebut bisa dimanfaatkan sebagai objek zakat.

Jadi ibadah zakat bukan hanya sekedar bagi-bagi uang dalam jumlah tertentu dimana dalam waktu singkat langsung habis tanpa bisa dimanfaatkan menjadi modal usaha atau tidak bernilai sama sekali. Untuk itu perlu adanya pemahaman yang baik dan benar tentang ibadah zakat sebagi peningkatan kualitas keimanan dan pola pikir. Maka itu sudah saatnya zakat bisa dijadi ajang peningkatan kualitas hidup baik secara ekonomi, sosial, spiritual dan bernegara sehingga dapat menguarangi tingkat kemiskinan dan pengangguran di negeri yang kita cintai ini.

Pertanyaannya adalah apakah kita mau berubah ? Atau tetap berjalan di tempat dengan terus mengikuti model pembagian zakat saat ini sehingga peristiwa tragis seperi di Pasuruan atau daerah lain di Indonesia terus terjadi dimana demi menerima zakat, saudara-saudara muslim sebangsa dan tanah air rela berdesak-desakkan dan mau mengorbankan nyawanya seperti gambar di bawah ini. Kembali lagi perlu penguatan data yang akurat dan valid tentang orang-orang yang berhak menerima zakat sehingga tidak perlu lagi berdesak-desakkan dalam penerimaan zakat dan cukup tinggal di rumah mereka sudah bisa menerima zakat dari panitia zakat.


korban meninggal dalam pembagian zakat (inilah.com/Eko Hardianto)

Hikmah Puasa : Eat, Pray, Love

Eat, Pray, Love: One Woman's Search for Everything Across Italy, India and Indonesia (http://en.wikipedia.org/wiki/Eat,_Pray,_Love)
Sering kali Allah SWT memberikan karomahnya dalam berbagai macam peristiwa tanpa mengenal ruang dan waktu. Kebetulan sekali pada puasa ini saya mendapatkan satu hal yang menarik. Kejadiannya pada saat saya sedang menonton acara berita di TV yang menceritakan tentang peluncuran sebuah film Hollywood berjudul EAT, PRAY, LOVE. Apakah sebuah kesengajaan atau tidak dari produsernya, film ini diluncurkan bertepatan awal puasa bulan Ramadhan ini.

Sebuah film yang dibintangi oleh Julia Robert dan menceritakan kisah nyata perjalanan penulis Elizabeth Gilberth untuk mencari cinta sejati. Film ini sempat menggemparkan publik tanah air pada tahun lau karena mengambil syuting di Bali dimana aktris Julia Robert yang berperan sebagai Elizabeth Gilberth sempat menjadi sorotan dari para pencari berita dunia termasuk wartawan dalam negeri.

Film yang diadaptasi dari novel dengan judul yang sama ini telah membuka mata saya tentang makna hidup yang berkaitan dengan ibadah puasa yang dilakukan oleh umat Islam di seluruh dunia. Dalam tulisan ini saya tidak akan banyak mengupas film ini tetapi hanya mengambil hikmahnya saja.

Kalau kita membaca novel dan resensi film ini maka kita akan mengupas satu per satu arti kata EAT, PRAY, LOVE. Seorang penulis sukses dan kaya raya tetapi tidak bahagia dalam perkawinannya terutama kehidupan di dunianya memutuskan untuk berkeliling dunia dalam rangka mencari apa yang dinamakan cinta yang sejati. Selama 4 bulan, Liz Gilberth menetap di Italia dan kesehariannya hanya diisi dengan makan dan menikmati hidup (EAT). Kemudian selama 4 bulan, dia menetap di India dan menemukan kehidupan spiritualnya (PRAY). Setelah itu 4 bulan dia menghabiskan perjalanananya selama setahun di Bali. Nah di Bali inilah Liz Gilberth menemukan apa yang dinamakan keseimbangan hidup dan mendapatkan cintanya yang sejati.

Apakah ada hubungannya dengan ibadah puasa ? Coba perhatikan judul film tersebut. Selama sebelas bulan kita dibebaskan untuk menikmati hidup yaitu diperbolehkan "makan" selama 24 jam tanpa ada larangan apapun kecuali yang haram. Pengertian "makan" yang dimaksud adalah makanan jasmani dan rohani. Makanan jasmani disini adalah makan nasi dan lauk pauknya yang digunakan sebagai energi untuk aktivitas kita sehari-hari. Sedangkan makanan rohani seperti Sholat wajib 5 waktu, zikir dan wirid. Tetapi pada bulan Ramadhan ini, kita diajarkan untuk menyeimbangkan antara makan secara jasmani dan rohani. Semuanya diatur oleh ketentuan Allah yaitu ibadah puasa yang disertai dengan ibadah-ibadah lainnya seperti sholat Tarawih, Witir, pengajian dan sebagainya.

Mulai dari azan subuh, kita dianjurkan berpuasa dengan tujuan memberi kesempatan kepada organ tubuh mengembalikan performanya kembali sehingga terciptalah badan yang sehat. Dan dianjurkan untuk tidak makan berlebihan pada saat berbuka. Dengan adanya pengendalian nafsu makan tersebut dapat mendukung peningkatan kualitas spiritualitas diri sehingga dalam melakukan ibadah terutama sholat menjadi lebih khusu' dan terfokus kepada kebesaran Allah SWT.

Nah dari ibadah puasa itulah terjadi keseimbangan antara makan (EAT) dan spiritual (PRAY) sehingga menghasilkan yang namanya "CINTA" (LOVE). Cinta yang diselimuti oleh nilai kasih sayang (Rahman Rahim). Pada akhirnya kalau kita mau menyadari makna LOVE tersebut maka kita akan mendapatkan apa yang disebut Kesejatian Diri sebagai Manusia Seutuhnya. Disitulah letak Cinta Sejati atau Cinta Yang Hakiki yaitu cinta kepada Sang Pencipta.



NB : Menariknya adalah mengapa justru di Bali (salah satu propinsi di Indonesia). Elizabeth Gilberth menemukan kesejatian hidupnya ? Mengapa peluncuran filmnya bertepatan pada saat puasa di bulan Ramadhan ? Apakah sebuah kebetulan ? Silahkan kita mengasah Iqro-nya masing-masing. Semoga Allah SWT menurunkan Lailatul Qadarnya kepada orang-orang yang mau berpikir.

I feel part of the universe open up to meet me
My emotion so submerged, broken down to kneel in
Once listening, the voices they came
Had to somehow greet myself, read myself
Heard vibrations within my cells, in my cells
My love is safe for the universe
See me now, I'm bursting
On one planet, so many turns
Different worlds
Fill my heart with discipline
Put there for the teaching
In my head see clouds of stairs
Help me as I'm reaching
The future's paved with better days
Not running from something
I'm running towards the day
Wide awake
A whisper once quiet
Now rising to a scream
Right in me
I'm falling, free falling
Words calling me
Up off my knees
I'm soaring and, darling,
You'll be the one that I can need
Still be free
Our future's paved with better days