Kamis, 30 September 2010

Tanah Kuburan

Malam itu waktu menunjukkan pukul 01.30. Suasana jalanan di sekitaran Kebon Jeruk sepi dan hanya beberapa orang yang masih bersenda gurau di sebuah warung nasi. Tampaknya orang-orang tersebut sedang mengistirahatkan perutnya setelah makan nasi goreng buatan Mas Waryo yang terkenal enak.

Terlihat 3 orang anak muda sedang duduk di sebuah meja sambil bicara ngalor ngidul dan sesekali terdengar suara tawa. Sementara itu Mas Waryo hanya memperhatikan 3 anak muda tersebut dari gerobak nasinya. Sebuah kebetulan juga warung nasi tersebut berhadapan langsung dengan sebuah pemakaman umum yang dulu terkenal angkernya. Tetapi seiring perjalanan waktu suasana angker berangsur-angsur hilang karena kanan-kiri dan depan kuburan tersebut sudah dibangun beberapa bangunan diantaranya rumah sakit.

Tetapi tetap saja malam itu terasa sekali suasana yang bisa membuat bulu kuduk yang melihat kuburan tersebut menjadi naik. Rupanya canda 3 anak muda tersebut hanya sebagai kompensasi ketakutan mereka. Tiba-tiba datanglah seorang pria dengan tubuh tambun. Rupanya Mas Waryo sangat mengenal pria tersebut karena sering membantunya setiap malam. Hanya saja malam itu pria tersebut datang terlambat.

Kemudian Mas Waryo dan pria tambun tersebut bicara seadanya sambil menghitung penghasilan hari itu. Sesekali terdengar cerita seru dan menyeramkan dari mulut 3 anak muda. Tanpa terasa terjadilah perdebatan yang panjang tentang siapakah yang berani masuk ke kuburan pada mala itu. Masing-masing menyatakan keberaniannya.

Tetapi baru saja berdebatan tersebut berlangsung, tiba-tiba datang sebuah mobil sedang merapat ke warung Mas Waryo. Tampak 2 orang wanita, salah satunya wanita setengah baya mendekati ketiga anak muda tersebut. Mas Waryo dan pria tambun menduga kedua wanita tersebut ingin menanyakan sebuah alamat. Rupanya tidak.

Kedua wanita tersebut meminta pertolongan ketiga anak muda tersebut untuk mengambilkan tanah kuburan. Mendengar ucapan kedua wanita tersebut, ketiganya terdiam, saling berpandangan dan memberi kode untuk saling menun jukkan keberaniannya. Tetapi apa yang terjadi ?

" Maaf ya Bu, Kami di warung ini hanya tamu saja. Jadi kami tidak bisa membantu ibu "
Tampak kedua wanita tersebut menunjukkan wajah kecewa.

" Jadi siapa ya Mas yang bisa membantu kami untuk mengambilkan tanah kuburan. Ini penting sekali dan menyangkut nyawa orang "

Nyawa orang ? Ya nyawa orang. Tanpa dinyana pria tambun datang menghampiri kedua wanita tersebut.

" Maaf ya Bu. Ada yang bisa saya bantu ? "

" Oh ya Mas. Begini Mas, kami mau mengambil tanah kuburan di pemakaman tersebut " jawab wanita setengah baya sambil menunjuk pemakaman di depan warung.

" Ohhh begitu. Mengapa harus malam hari. Tadi saya mendengar kalau ini menyangkut nyawa orang. Ada apa ini, Bu ? "

" Benar, Mas. Ini menyangkut nyawa orang yaitu salah satu anggota keluarga kami yang ingin melahirkan "

" Melahirkan ??? Maksudnya Bu ??? " teriakan dan pertanyaan ketiga pemuda di hadapan kedua wanita tersebut.

" Ohhh itu ya. Pasti Ibu-ibu berasal dari suku B ya ? " ujar pria tambun tersebut.

" Lho kok Mas tahu ya ? Benar itu Mas dan ini harus segera diambil. Bisakah Mas mengambilkannya untuk kami ? "

" Saya hanya pernah mendengarnya saja. Sejak kapan saudara ibu yang mau melahirkan tersebut belum bisa mengeluarkan bayinya ? "

" Sudah hampir 13 jam lebih Mas. Tolong ya Mas. Nanti kemi berikan sejumlah uang "

" Nggak ... nggak usah Bu. Saya akan bantu "
Selanjutnya pria tambun tersebut segera masuk ke pemakaman umum dalam suasana yang sepi dan mencekam. Memang sesekali terdengar suara anjing menggonggong. Orang-orang yang mendengarnya akan merinding. Beberapa menit kemudian pria tambun tersebut keluar dari pemakaman dengan membawa sekepal tanah kuburan.

" Bu, ini sudah saya ambilkan tanah kuburan seorang wanita. Silahkan dimasukkan ke dalam plastik. Mas Waryo minta plastik kreseknya dong "
Mas Waryopun segera mengambil plastik kresek dan menyerahkannya.

" Ini sudah saya masukkan tanah kuburannya. Semoga saja dengan ini, saudara wanita ibu dapat segera melahirkan. Saya doakan lancar persalinannya "

" Amin. Waduh terima kasih sekali " Kemudian wanita setengah baya memberikan sesuatu kepada pria tambun tersebut.

" Eits ini apa Bu. Nggak usah. Saya ikhlas membantu kok "

" Nggak Mas, ini bagian dari syarat kebiasaan suku kami sebagai rasa ungkapan terima kasih. Terimalah Mas dan jangan ditolak. Nanti kami tersinggung lho " jawab wanita setengah baya tersebut.

" Tapi Bu ... "

" Sudahlah tidak usah tapi tapi... terimalah pemberian kami "
Akhirnya pria tambun tersebut menerima pemberian kedua wanita tersebut. Setelah Kedua wanita tersebut meninggalkan warung Mas Waryo. Kemudian pria tambun tersebut membuka amplop pemberiaan kedua wanita tersebut. Ternyata sejumlah uang sekitar Rp. 400.000. Wao banyak sekali. Mas Waryo pun sempat tersenyum.

" Emang malam ini rejeki Mas hehehe " ledek Mas Waryo.

" Bukan Mas Waryo. Ini rejeki kita bersama tapi tidak semuanya untuk kita. "

" Lantas Mas ??? "

" Sudahlah Mas Waryo. Ini 200 ribu buat Mas Waryo. Setengahnya lagi saya berikan kepada fakir miskin atau orang yang membutuhkan. Oke Mas ? "

" Lha buat Mas apa dong ? Khan Mas yang kerja " tanya Mas Waryo.

" Sudahlah, tidak usah tanya. "

" Omong-omong kok Mas tahu sih ada kebiasaan daerah seperti ini. Saya baru tahu nich Mas "

" Kami juga baru tahu Mas " teriak ketiga pemuda yang amsih nongkrong tersebut.

" Sudahlah. Khan saya bilang jangan banyak tanya hehehe... Mendingan kita dengar musik saja sambil minum kopi dan ngerokok hehehe ... "

Mas Waryo dan ketiga pemuda tersebut hanya bisa terbengong-bengong saja.


allykirana.blogspot.com


Benar-benar misteri tanah kuburan ihhhhh seram

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar