Tampilkan postingan dengan label islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label islam. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 November 2016

Mulutmu Adalah Wudhumu

Saya pernah membuat status di FB sebagai berikut:

Ingat dengan ungkapan seorang teman Almarhum Bapak :

" Selama manusia sadar dirinya mempunyai mulut maka masalah dapat terselesaikan. Apalagi manusia yang mengerti bagaimana membersihkan mulut dengan WUDHU secara baik dan benar maka masalah lebih cepat lagi terselesaikan dengan senyum dan damai "

Nah berkaitan dengan Wudhu, saya sempat mengenal seorang Kyai yang selalu ingin disebut ustad walaupun beberapa kyai di wilayahnya selalu minta nasehat kepada beliau.

Namanya KH Ali Hasan. Beliau meninggal dunia pada tahun 2013 pada usia 96 tahun. Beliau adalah pendiri pondok pesantren Mamba'ul Ulum Dusun Jetak Desa Benda Kec. Bumiayu Kab. Brebes Jawa Tengah. Beberapa orang menyebutnya ahli wirid karena kalau wirid lama sekali.

Selama beberapa tahun mengenal beliau, saya mengenalnya sebagai orang yang tidak pernah lepas dari Wudhu. Apabila merasa batal wudhunya maka beliau selalu berwudhu kembali. Beliau sangat rendah hati. Saat berbicara dengan seseorang, beliau selalu menunduk penuh penghormatan.

Walaupun banyak santrinya, saat makan bersama tamunya maka beliaulah yang menyediakan nasi dan lauk pauknya bahkan menuangkan air teh satu per satu kepada tamunya. Saat ngobrol dan tahu tamunya kehabisan rokok, beliau mohon pamit sebentar. Ternyata beliau beli rokok untuk tamunya dan uniknya merk rokoknya disesuaikan dengan apa yang dihisap oleh tamunya. Beliau tidak merokok tapi untuk menghormati tamunya beliau sering ambil satu batang rokok dan ditempelkan ke mulutnya tapi tidak dinyalakan rokoknya.

Beliau sepertinya tahu kalau tamunya kekurangan uang untuk pulang ke rumah maka itu beliau sering memberi sangu berupa uang untuk ongkos pulang. Itupun saya alami bahkan setiap saya ke pesantrennya maka selalu diberi sangu karena beliau tahu saat itu saya sedang susah. Walaupun kadang beliau bercanda dengan memberi sangu berupa satu batang rokok yang ternyata dalam lintingan rokok tersebut ada uang 100 rb rupiah padahal lintingan rokok tersebut baru dibuka kemasannya.

Saya pernah bertanya kepada beliau

" Pak Kyai, saya sering perhatikan dalam satu hari Pak Kyai sering kali berwudhu. Apa tidak capek ? Mengapa harus demikian ? "

" Hehehe kamu perhatiin banget. Berwudhu bagi saya adalah cara untuk membersihkan diri mulai dari pikiran, pendengaran, ucapan, hati, langkah dan perilaku agar terhindar dari godaan syetan dan nafsu yang ada dalam diri manusia sehingga terjaga diri ini. Jadi sama halnya dengan syahadat . Jangan sampai batal syahadat kita. Maka itu harus selalu dijaga dengan benar. "

" Oh gitu. Tapi apa ga capek, Pak Kyai? "

" Hehe maka itu supaya tidak capek, jagalah wudhunya seharian penuh sebisanya. Kalaupun batal segeralah berwudhu. Ketenangan akal pikir, hati dan perbuatan akan diperoleh sehingga kita tidak sembarangan berpikir, berbicara dan berbuat. Semuanya terasa indah dan damai hidup di dunia ini."

Benar juga dalam hati saya. Setiap ada masalah maka dengan berwudhu hati jadi tenang dan masalah jadi ringan serta emosi terjaga. Saya pikir boleh juga tuh dijalankan apabila kita ingin melakukan sesuatu sebaiknya berwudhu contohnya saat ber-medsos ria sehingga status, share info dan sebagainya terhindar dari perbuatan fitnah, hoax dan caci maki.

Ya gitu aja untuk pagi ini karena saatnys isi air ke dalam gentong, siapa tahu ada yang membutuhkan untuk berwudhu.

Minggu, 20 November 2016

Ceramah Khotib Jumat Yang Membawa Perubahan

Pernahkan kalian shalat Jumat? Bagi Muslim pasti jawabannya pernah dong. Pertanyaan berikutnya adalah pernahkah mendengar Khatib Jumat membicarakan isu-isu yang menyentuh langsung kehidupan umat Islam di lingkungan sekitar mesjid? Maksudnya? Khatib yang dianggap mempunyai ilmu agama seharusnya rasa dan perasaannya lebih terasah dengan isu-isu sekitarnya sebagai makhluk sosial yang Rahmatan Lil Alamin.

Contohnya khotib yang sedang berceramah dimana mesjidnya berada di perumahan akan menyinggung isu-isu yang menjadi masalah di perumahan tersebut misalnya:

" Hai saudara-saudaraku seiman, kalian pasti melewati jalan A, banyak sekali sampah berserakan mari kita bersihkan bersama mulai dari RT, RW sampai masyarakat sekitar untuk bergotong royong membersihkannya. Perlu ada aksi bersama ya. Dan juga bersihkan selokan air atau gorong-gorong yang bahyak sampah dan sedimennya karena KEBERSIHAN ADALAH SEBAGIAN DARI IMAN. "

" Hai saudara-saudaraku seiman, apabila ada tetangga sakit dan tidak mampu harap dibantu. Laporkan kepada RT, RW sampai lurah dan diskusikan bersama masyarakat sekitar untuk segera menolongnya."

" Hai saudara-saudaraku seiman, mulai perhatikan dengan serius tentang pendidikan anak kita. Jangan sampai ada anak putus sekolah karena masalah biaya "

Apabila berceramah dimana mesjid berada di depan jalan raya.

" Hai saudara-saudaraku seiman, tertiblah berlalu lintas. Jangan serobot sana serobot sini karena membahayakan diri dan orang lain. Jangan jalan melawan arus karena membahayakan anda. Kalau keluar dari gang atau jalan kecil menuju jalan besar, harap kalian lihat kanan kiri jangan nyelonong aja karena membahayakan anda dan orang lain. Pakailah helm, bawa SIM dan STNK karena kita sebagai muslim harus taat dan tertib berlalu lintas sebagai perwujudan dari ibadah kita sebenarnya. Saat ibadah sholat, tertib dalam berwudhu, tertib rakaat dan bacaannya. Jadi tertib ya.. "

Dst. Masih banyak isu-isu yang bersinggungan langsung dengan masyarakat di suatu lingkungan yang dapat disampaikan oleh seorang khotib. Tanpa perlu menyinggung agama orang lain. Karena Umat Islam sendiri yang malu kalau kita tidak dapat menyelesaikan permasalahan umat di lingkungan terdekat.

Kalau teman-teman menemui khotib yang rajin menyinggung isu-isu di lingkungan mesjid tersebut, mohon diinfokan karena khotib seperti itulah yang mengerti tentang hakekat habluminallah wa habluminannas.

Udah ah cape bawa gentongnya...

Jumat, 18 November 2016

Saatnya Para Pemuka Agama Memikirkan Umat

Dulu saya sempat berpikir inilah saatnya umat Islam di Indonesia untuk bangkit dari ketertinggalan pendidikan, kesehatan dan ekonomi.

Pada masa apa ya? Masih ingat sekitar tahun 2000 an dimana nongol ulama/ustad/kyai dg muka-muka baru di media elektronik TV. Contohnya Aa Gym, Arifin Ilham, Yusuf Mansur sampai Alm. Udje.

Saat itu SCTV paling getol menyelenggarakan pengajian akbar live di Mesjid Istiqlal 2 minggu sekali. Pikir saya ada pencerahan bagi umat. Ulama mulai dianggap sebagai pemimpin umat yang sebenar-benarnya. Keluh kesah umat dalam hidupnya mendapatkan solusi dari pemimpinnya.

Tetapi apa yang terjadi ? Pengajian yang membosankan dan tetap saja umat bergulat sendiri dalam menyelesaikan masalahnya. Kemiskinan umat tidak menemukan solusinya. Kalau saja saat itu ustad-ustad yang sudah mendapatkan kepercayaan dari umat memanfaatkan momentum tersebut mungkin kita tidak perlu lagi curiga, iri, menuding, memaki kaum non muslim dan ras tertentu.
Maksudnya bagaimana ? Saat itu seharusnya ustad-ustad dapat dengan jernih tahu apa saja yang dibutuhkan demi kemaslahatan umat.

Contohnya adalah kemiskinan, pendidikan, dan kesehatan. Ustad-ustad tersebut seharusnya membentuk satu tim yg selalu mencari umat-umat yang membutuhkan pertolongan. 10 menit terakhir pengajian di media televisi, para ustad tersebut meminta peserta pengajian dan penonton di rumah untuk membantu saudara-saudara seimannya. Tampilkan 10 orang umat yang telah disurvei oleh tim sedang membutuhkan pertolongan.

"Saudara-saudara perkenalkan Si A sedang mengalami musibah anaknya sakit parah di rumah sakit tetapi tidak mempunyai dana untuk pengobatannya. Tolong dibantu... "

" Saudara-saudara perkenalkan si B baru saja di-PHK dan menganggur. Sebenarnya si B mempunyai keahlian ini. Mungkin ada saudara-saudara yang mempunyai info atau butuh tenaga bersangkutan. Tolong dibantu "

" Berikutnya si C hidupnya miskin dan rumahnya dah mau roboh. Tolong dibantu "

" Berikutnya si D punya anak yang putus sekolah karena tidsk ada biaya lagi. Tolong dibantu "

" Si E sedang membangun mesjid tapi dananya belum cukup. Mohon dibantu. "

" SI F membutuhkan bantuan dalam menjalankan Panti Asuhan Anak Yatim Piatu. Mohon dibantu"

Dst. Untuk lebih jelasnya dapat menghubungi tim kami. Saya yakin umat Islam di Indonesia maupun di luar Indonesia yang mampu akan berbondong-bondong membantu.

Kalau saja tiap 2 minggu, para ustad yg sudah mempunyai nama melakukan hal tersebut setiap 10 menit akhir pengajian maka itulah saatnya kebangkitan umat Islam. Karena saya yakin sekali umat Islam itu kaya asalkan dijalankan dengan benar dan amanah. Kekuatan umat Islam dalam perekonomian , pendidikan dan kesehatan akan menjadi kekuatan politik sendiri dan yang lain akan mengikutinya karena umat Islamlah penggerak perubahan di Indonesia.

Sayangnya hal itu tidak dilakukan, para ustad/ulama saat itu hanya memikirkan diri dan golongannya serta terlena dengan keselebritisannya. Jadi tidak usah kaget umatnya tetap jalan di tempat dan dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu.

Yang menariknya isu aseng selalu dihembuskan saat pilkada padahal justru asenglah yg banyak berbuat demi kemaslahatan umat baik muslim maupun non muslim. Ironis.

Minggu, 22 Januari 2012

Ngaji Rasa


morelife4all.com


" Ingat Cech, Ngaji Rasa Ngaji Diri Ngaji Qur'an "

Itulah nasehat kakek buyut (Uyut) kepada saya. Dalam mengaji kehidupan harus melalui beberapa tahapan agar mengerti apa itu mengaji yang sebenar-benarnya mengaji sehingga kita mengetahui siapa dan dimana posisi kita serta seberapa besar porsi yang tepat untuk diri sendiri sehingga tidak akan mempunyai keinginan untuk mengambil hak orang lain.

Dalam tulisan ini saya hanya akan mengupas tentang ngaji rasa. Apa itu ngaji rasa ? Rasa apa yang dikaji ? Bagaimana mengujinya ? Maka kita akan tahu rasa yang hiji atau rasa yang sejati. Oleh Uyut diterangkan dengan sederhana sekali.

" Kapan rasanya kamu mempunya mata ? "tanya Uyut.
" Waktu lihat wanita cantik "
" Bukan " jawab Uyut
" Waktu lihat gambar atau film porno "
" Salah sekali hehehehe " lantang teriakan Uyut.
" Terus kapang dong Yut ? "
" Jawabannya mudah yaitu waktu kamu sakit mata. "
" Kok waktu sakit mata "
" Ya, waktu sakit mata khan baru kamu merasakan punya mata. "

Benar juga kata Uyut tersebut. Waktu kita mengalami saki mata barulah kita menyadari rasanya punya mata. Pada waktu sakit mata, kita merasakan betapa sengsaranya hidup dengan mata yang sakit. Susah tidurlah, gelisahlah, letih menghapus air mata yang terus keluar sampai terasa hidup ini sengsara dibuatnya karena kita tidak bisa bergerak bebas kemana-mana.

Ini baru sakit mata bagaimana kalau buta atau tidak mempunyai mata maka akan lebih sengsara lagi. Karena dalam melakukan aktifitas, kita sangat bergantung kepada sesuatu baik berupa alat atau orang yang mau menuntut dan mendampingi kita beraktifitas sehari-hari.

Hal ini tidak hanya berlaku kepada mata tetapi seluruh tubuh manusia. Satu saja anggota tubuh kita sakit maka seluruh tubuh kita akan merasakan sakit. Jadi satu kesatuan utuh. Itulah yang dinamakan satu untuk semua, semua untuk satu.

Bagaimana melatih rasa ? Kenalilah satu persatu apa yang dimiliki. Tidak usah jauh-jauh mencarinya. Mulailah dari tubuh kita sendiri mulai dari kepala sampai ujung kaki. Kalau sudah merasakan apa yang dimiliki maka kita akan mengagumi Sang Pencipta yang menciptakan manusia dengan sempurnanya. Selain itu dengan ngaji rasa maka kita dapat mengerti apa itu yang namanya empati dan simpati. Empati rasa terhadap apa yang dialami orang lain sehingga menimbulkan simpati rasa terhadap orang tersebut. Bagaimana ya kalau saya mengalami masalah yang dihadapi oleh orang tersebut. Jadi kita tidak akan mudah menuding, menyinggung dan menjustifikasi sesuatu sebelum kita paham benar tentang sesuatu tersebut.

Setelah ngaji rasa barulah kita dapat mengerti mengapa Yang Maha Kuasa memberikan rasa kepada manusia. Dan mengapa manusia diciptakan ? Dapat dijawab dengan ngaji berikutnya yaitu Ngaji Diri.

Rabu, 01 September 2010

Zakat : Peningkatan Kualitas Keimanan dan Pola Pikir

Berdasarkan firman Allah QS At-Taubah ayat 60, bahwa yang berhak menerima zakat/mustahik sebagai berikut:

1. Orang fakir: orang yang amat sengsara hidupnya, tidak mempunyai harta dan tenaga untuk memenuhi penghidupannya.

2. Orang miskin: orang yang tidak cukup penghidupannya dan dalam keadaan kekurangan.

3. Pengurus zakat : orang yang diberi tugas untuk mengumpulkan & membagikan zakat.

4. Muallaf : orang kafir yang ada harapan masuk Islam dan orang yang baru masuk Islam yang imannya masih lemah.

5. Memerdekakan budak : mencakup juga untuk melepaskan muslim yang ditawan oleh orang-orang kafir.

6. Orang berhutang: orang yang berhutang karena untuk kepentingan yang bukan ma'siat dan tidak sanggup membayarnya. Adapun orang yang berhutang untuk memelihara persatuan umat Islam di bayar hutangnya itu dengan zakat, walaupun ia mampu membayarnya.

7. Pada jalan Allah (sabilillah): yaitu untuk keperluan pertahanan Islam dan kaum muslimin. Di antara mufasirin ada yang berpendapat bahwa fisabilillah itu mencakup juga kepentingan-kepentingan umum seperti mendirikan sekolah, rumah sakit, madrasah, masjid, pesantren, ekonomi umat, dll.

8. Orang yang sedang dalam perjalanan yang bukan ma'siat mengalami kesengsaraan dalam perjalanannya. Atau juga orang yg menuntut ilmu di tempat yang jauh yang kehabisan bekal.


Mengenai syarat-syarat harta yang dikeluarkan dan macam-macam objek zakat maal dapat dilihat di SINI. Sedangkan cara menghitung berapa besaran zakat yang wajib dilaksanakan dapat dilihat di Dompet Dhuafa Republika.

Dalam tulisan ini saya hanya ingin mengupas tentang nilai-nilai yang terkandung dalam ibadah zakat ini. Kita pernah menyaksikan sebuah berita mengenaskan yang berkaitan dengan pembagian zakat. Salah satunya adalah peristiwa pada tanggal 15 September 2008 dimana para penerima zakat meninggal dengan tragis karena berdesak-desakkan dalam menerima pembagian zakat di Kelurahan Purutrejo, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan (baca DISINI).

Dari peristiwa tersebut sudah seharusnya para pemuka agama Islam mulai memikirkan bagaimana cara yang tepat dalam melaksanakan pembagian zakat. Tetapi herannya peristiwa seperti terus berulang di berbagai tempat. Lantas apa hikmah yang diperoleh dari peristiwa tersebut ?

Perlu diketahui dalam melakukan ibadah zakat terkandung makna yang dalam yaitu makna tanggung jawab. Dalam hal ini tanggung jawab moral. Tanggung jawab moral ini bukan hanya dikenakan kepada yang memberi zakat tetapi juga kepada yang menerima zakat (kedua belah pihak).

Bagaimana tanggung jawab moralnya ? Sebagai pihak pemberi zakat harus haqqul yakin bahwa zakat yang diberikan tersebut benar-benar berasal dari sesuatu yang halal dan baik cara pemberiannya. Sedangkan bagi penemrima zakat harus haqqul yakin bahwa zakat yang diterima bisa dimanfaatkan bagi diri dan keluarganya serta pada masa yang akan datang ada peningkatan kualitas hidup sehingga pada gilirannya bisa sebagai pemberi zakat. Bahkan kalau bisa tahun depannya sudah bisa menjadi pemberi zakat.

Coba saja kalau kita mau memperhatikan merenungkan dalam setiap pemberian zakat maka selalu saja yang menerima zakat adalah orang-orangnya hanya itu-itu saja dan tidak berubah dari tahun ke tahun. Apakah ada yang salah dalam memberikan pemahaman agama kepada umat ? Saya kurang tahu. Mungkin perlu ada penjelasan yang komprehensif dan berkesinambungan kepada umat Islam mengenai filosofi ibadah zakat. Dan ini bukan hanya tugas para ulama tetapi tugas kita bersama sebagai muslim.

Bagaimana solusinya ? Saya hanya akan memberikan gambaran tentang peningkatan kualitas keimanan dan pola pikir dalam memahami makna keadilan. Adil ? Ya adil walaupun menurut versi saya sebagai seorang muslim yang menginginkan adanya pengurangan jumlah penerima zakat dari tahun ke tahun.

Dimanakah keadilannya ? Apakah tidak sebaiknya para panitia zakat mulai memikirkan untuk membentuk badan khusus yang bekerja sepanjang tahun untuk memantau para penerima zakat khusus. Khusus disini mengandung pengertian orang-orang yang memang berhak mendapatkan zakat dan mempunyai potensi untuk berubah menjadi lebih baik dalam manajemen syariah. Para penerima zakat tersebut memang pilihan badan khusus dimana mereka diberikan dana yang berasal dari zakat sebagai modal usaha. Dana tersebut bisa dikatakan hibah bergulir dimana mereka dikenakan kewajiban untuk mengembalikannya dalam jangka waktu tertentu. Uang pengembalian tersebut bisa dipakai lagi untuk memberikan bantuan modal kepada umat muslim yang lain. Tetapi semuanya dikontrol dengan manajemen yang baik dan amanah seperti yang dilakukan oleh Muhammad Yunus dengan Garmeen Banknya. Disamping itu pengembalian plus keuntungan usaha dari orang yang dulunya menerima zakat bisa dimanfaatkan untuk zakat kembali sehingga terjadi perubahan posisi dan peningkatan hidup menjadi pemberi zakat.

Begitu pula objek zakat berupa hewan ternak yang bisa dimanfaatkan sebagai modal ternak bagi penerima zakat. Hewan ternak tersebut dirawat dan dikembang biakan dengan baik ssehingga pada tahun yang akan datang anakan hasil ternak tersebut bisa dimanfaatkan sebagai objek zakat.

Jadi ibadah zakat bukan hanya sekedar bagi-bagi uang dalam jumlah tertentu dimana dalam waktu singkat langsung habis tanpa bisa dimanfaatkan menjadi modal usaha atau tidak bernilai sama sekali. Untuk itu perlu adanya pemahaman yang baik dan benar tentang ibadah zakat sebagi peningkatan kualitas keimanan dan pola pikir. Maka itu sudah saatnya zakat bisa dijadi ajang peningkatan kualitas hidup baik secara ekonomi, sosial, spiritual dan bernegara sehingga dapat menguarangi tingkat kemiskinan dan pengangguran di negeri yang kita cintai ini.

Pertanyaannya adalah apakah kita mau berubah ? Atau tetap berjalan di tempat dengan terus mengikuti model pembagian zakat saat ini sehingga peristiwa tragis seperi di Pasuruan atau daerah lain di Indonesia terus terjadi dimana demi menerima zakat, saudara-saudara muslim sebangsa dan tanah air rela berdesak-desakkan dan mau mengorbankan nyawanya seperti gambar di bawah ini. Kembali lagi perlu penguatan data yang akurat dan valid tentang orang-orang yang berhak menerima zakat sehingga tidak perlu lagi berdesak-desakkan dalam penerimaan zakat dan cukup tinggal di rumah mereka sudah bisa menerima zakat dari panitia zakat.


korban meninggal dalam pembagian zakat (inilah.com/Eko Hardianto)

Hikmah Puasa : Eat, Pray, Love

Eat, Pray, Love: One Woman's Search for Everything Across Italy, India and Indonesia (http://en.wikipedia.org/wiki/Eat,_Pray,_Love)
Sering kali Allah SWT memberikan karomahnya dalam berbagai macam peristiwa tanpa mengenal ruang dan waktu. Kebetulan sekali pada puasa ini saya mendapatkan satu hal yang menarik. Kejadiannya pada saat saya sedang menonton acara berita di TV yang menceritakan tentang peluncuran sebuah film Hollywood berjudul EAT, PRAY, LOVE. Apakah sebuah kesengajaan atau tidak dari produsernya, film ini diluncurkan bertepatan awal puasa bulan Ramadhan ini.

Sebuah film yang dibintangi oleh Julia Robert dan menceritakan kisah nyata perjalanan penulis Elizabeth Gilberth untuk mencari cinta sejati. Film ini sempat menggemparkan publik tanah air pada tahun lau karena mengambil syuting di Bali dimana aktris Julia Robert yang berperan sebagai Elizabeth Gilberth sempat menjadi sorotan dari para pencari berita dunia termasuk wartawan dalam negeri.

Film yang diadaptasi dari novel dengan judul yang sama ini telah membuka mata saya tentang makna hidup yang berkaitan dengan ibadah puasa yang dilakukan oleh umat Islam di seluruh dunia. Dalam tulisan ini saya tidak akan banyak mengupas film ini tetapi hanya mengambil hikmahnya saja.

Kalau kita membaca novel dan resensi film ini maka kita akan mengupas satu per satu arti kata EAT, PRAY, LOVE. Seorang penulis sukses dan kaya raya tetapi tidak bahagia dalam perkawinannya terutama kehidupan di dunianya memutuskan untuk berkeliling dunia dalam rangka mencari apa yang dinamakan cinta yang sejati. Selama 4 bulan, Liz Gilberth menetap di Italia dan kesehariannya hanya diisi dengan makan dan menikmati hidup (EAT). Kemudian selama 4 bulan, dia menetap di India dan menemukan kehidupan spiritualnya (PRAY). Setelah itu 4 bulan dia menghabiskan perjalanananya selama setahun di Bali. Nah di Bali inilah Liz Gilberth menemukan apa yang dinamakan keseimbangan hidup dan mendapatkan cintanya yang sejati.

Apakah ada hubungannya dengan ibadah puasa ? Coba perhatikan judul film tersebut. Selama sebelas bulan kita dibebaskan untuk menikmati hidup yaitu diperbolehkan "makan" selama 24 jam tanpa ada larangan apapun kecuali yang haram. Pengertian "makan" yang dimaksud adalah makanan jasmani dan rohani. Makanan jasmani disini adalah makan nasi dan lauk pauknya yang digunakan sebagai energi untuk aktivitas kita sehari-hari. Sedangkan makanan rohani seperti Sholat wajib 5 waktu, zikir dan wirid. Tetapi pada bulan Ramadhan ini, kita diajarkan untuk menyeimbangkan antara makan secara jasmani dan rohani. Semuanya diatur oleh ketentuan Allah yaitu ibadah puasa yang disertai dengan ibadah-ibadah lainnya seperti sholat Tarawih, Witir, pengajian dan sebagainya.

Mulai dari azan subuh, kita dianjurkan berpuasa dengan tujuan memberi kesempatan kepada organ tubuh mengembalikan performanya kembali sehingga terciptalah badan yang sehat. Dan dianjurkan untuk tidak makan berlebihan pada saat berbuka. Dengan adanya pengendalian nafsu makan tersebut dapat mendukung peningkatan kualitas spiritualitas diri sehingga dalam melakukan ibadah terutama sholat menjadi lebih khusu' dan terfokus kepada kebesaran Allah SWT.

Nah dari ibadah puasa itulah terjadi keseimbangan antara makan (EAT) dan spiritual (PRAY) sehingga menghasilkan yang namanya "CINTA" (LOVE). Cinta yang diselimuti oleh nilai kasih sayang (Rahman Rahim). Pada akhirnya kalau kita mau menyadari makna LOVE tersebut maka kita akan mendapatkan apa yang disebut Kesejatian Diri sebagai Manusia Seutuhnya. Disitulah letak Cinta Sejati atau Cinta Yang Hakiki yaitu cinta kepada Sang Pencipta.



NB : Menariknya adalah mengapa justru di Bali (salah satu propinsi di Indonesia). Elizabeth Gilberth menemukan kesejatian hidupnya ? Mengapa peluncuran filmnya bertepatan pada saat puasa di bulan Ramadhan ? Apakah sebuah kebetulan ? Silahkan kita mengasah Iqro-nya masing-masing. Semoga Allah SWT menurunkan Lailatul Qadarnya kepada orang-orang yang mau berpikir.

I feel part of the universe open up to meet me
My emotion so submerged, broken down to kneel in
Once listening, the voices they came
Had to somehow greet myself, read myself
Heard vibrations within my cells, in my cells
My love is safe for the universe
See me now, I'm bursting
On one planet, so many turns
Different worlds
Fill my heart with discipline
Put there for the teaching
In my head see clouds of stairs
Help me as I'm reaching
The future's paved with better days
Not running from something
I'm running towards the day
Wide awake
A whisper once quiet
Now rising to a scream
Right in me
I'm falling, free falling
Words calling me
Up off my knees
I'm soaring and, darling,
You'll be the one that I can need
Still be free
Our future's paved with better days



Jadi Kyai Itu Harus "Kaya"

Kiai semar (wayangprabu.com)

Sekitar 8 tahun yang lalu, saya berkunjung ke sebuah pesantren di Jawa Tengah. Kebetulan orang tuanya Pak Kyai yang memimpin pesantren tersebut adalah teman kakek buyut saya yang juga Kyai. Selain silaturahim, saya dan kakak mempunyai kebiasaan berkunjung ke pesantren tersebut setiap tahunnya terutama menjelang puasa bulan Ramadhan.

Kebetulan saat itu saya sedang menjalani puasa 100 hari. Puasa ini dilakukan karena saran dari Uyut di Sumedang untuk membersihkan diri dari segala penyakit baik fisik maupun non fisik dan juga untuk melatih kepekaan diri terhadap lingkungan. Kedatangan saya dan kakak sebetulnya terlalu cepat yaitu 1 bulan sebelum puasa bulan Ramadhan. Tetapi hanya saat itu saja saya mempunyai waktu luang untuk bepergian kemana saja.

Tepat pukul 10.32 WIB, saya tiba di pesantren tersebut. Dalam kondisi puasa dan perjalanan menggunakan kendaraan umum serta menempuh waktu 3 jam maka cukup membuat kondisi tubuh ini lemah atau keletihan. Setibanya di pesantren, saya melihat di ruang tamu banyak sekali tamu yang datang. Hal ini membuat saya dan kakak harus menunggu di luar. Tepatnya di tangga mesjid. Beberapa orang santri Pak Kyai sempat saya tanyakan tentang keberadaan Pak Kyai. Karena bagi saya suasana saat itu di luar kebiasaan. Biasanya Pak Kyai sudah berada di ruangannya dan menerima tamu. Tetapi saat itu belum ada satupun tamu yang diterima.

Selidik punya selidik ternyata sejak subuh Pak Kyai melakukan tirakat di dalam kamarnya dan belum selesai sampai waktu menjelang siang. Saya langsung berpikir mungkin akan menunggu lama agar bisa ketemu Pak Kyai. Lagipula tidak mungkin juga, kami berdua diterima duluan oleh Pak Kyai karena yang pertama datang itulah yang diprioritaskan.

Sambil menahan lapar, haus dan godaan nafsu seperti melihat orang makan dan minum di depan saya termasuk apa yang dilakukan oleh kakak dan ditambah dengan wajah-wajah bening santriwatinya Pak Kyai membuat saya harus menjaga sikap dan mengendalikan nafsu yang bergejolak di dalam diri. SEbetulnya kedatangan kami hanyalah untuk meminta doa restu dan permohonan maaf kepada Pak Kyai agar ibadah puasa kami di bulan Ramadhan diterima oleh Allah. Sekaligus mengantarkan kami berziarah ke makam orang tua Pak Kyai yang terkenal sebagai Kyai Sepuh di daerah tersebut.

Saat saya sedang menunggu, tiba-tiba perhatian saya tertuju ke dalam ruangan tamu. Terdengar suara orang yang sedang berdiskusi dan bisik-bisik. Ada apa gerangan yang terjadi di dalam ? Disamping itu ada juga beberapa orang yang bolak-balik membawa kertas seperti amplop. Buat apakah amplop tersebut ?

Karena tertarik dengan apa yang saya lihat itu maka sayapun bergegas ke dalam ruangan tamu. Setelah duduk dan mendengarkan pembicara para tamu di dalam, akhirnya saya baru mengerti apa saja yang dibicarakan di dalam ruangan tersebut. Sekali saya melihat beberapa orang dengan tingkah lucu karena seperti menyembunyikan sesuatu dengan membalikkan badan. Rupanya mereka sedang memasukkan benda ke dalam amplop. Tiba-tiba ada seorang bapak yang menurut perkiraan saya berusia 60 tahun.

" Maaf, mas sudah lama menunggu Pak Kyai ? "

" Oh tidak Pak. Saya baru menunggu sekitar 20 menit kok "

" Omong-omong Mas dari mana ? "

" Saya dari Jakarta Pak. Kalau Bapak ? "

" Saya dari Pekalongan Mas. Sudah sering kemari Mas "

" Sering sih nggak. Kebetulan saja saya diajak olh kakak saya. Tuh orangnya lagi ngobrol dengan anaknya Pak Kyai dekat tangga mesjid "

" Iya ya... Mas boleh saya tanya ? "

" Tapi tunggu dulu Bapak sudah sering kemari juga ? "

" Saya baru kali ini mas. Kami rombongan dari Pekalongan. Yang di ruangan ini sebagian dari rombongan kami. Hanya beberapa orang saja yang berasal dari daerah sekitar pesantren. "

" Oh gitu, terus bapak mau menanyakan apa ? "

" Begini Mas, kalau datang ke sini dan konsultasi dengan Pak Kyai biasanya pakai itu nggak Mas ? "

" Itu apa, Pak ? "

" Ah jadi malu hehehe " Tampak beberapa orang menyimak apa yang akan saya ucapkan.

" Kok malu !!! Itu apa pak ? Terus terang saja. Tidak apa-apa kok "

" Biasanya kalau konsultasi tamu memberikan sejumlah uang ala kadarnya buat posantren melalui Pak Kyai "

" Oh yang dimaksud bapak itu.... uang toh " suara saya terdengar lantang dan membuat orang kaget terkesima.

" Benar Mas... Enaknya dikasih berapa ya ? Biasanya Mas kasih berapa ? "

" hahahahahaha bapak bikin saya tertawa ngakak hahahaaha "

" Memangnya ada kata saya yang salah ?! "

" Nggak Pak. Baoak nggak salah kok. hahahaha cuma membuat saya geli saja hahahaaha "

" Mas kok malah tambah tertawanya "

' Begini Pak hehehe Tahu nggak Bapak-bapak...ibu-ibu " saya mulai berceramah di hadapan para tamu Pak Kyai.

" Ya Massssss " suara para tamu bersamaan.

" Tahu nggak Bapak-ibu sekalian. Yang namanya Kyai itu adalah pemimpin umat. Karena pemimpin umat maka bisa dianggap sebagai orang tuanya para umat. Disamping itu, yang namanya pemimpin khan harus mengerti dengan kondisi umat.... " penjelasan saya dengan lantangnya.

" Nggih Mas... "

" Maka itu untuk menjadi Kyai tidak mudah apalagi dianggap sebagai pemimpin atau orang tuanya umat. Jadi untuk menjadi Kyai haruslah kaya. Bukan hanya kaya harta, kaya ilmu, kaya amal, kaya iman, kaya kesabaran dan lain-lain Pokoknya harus kaya. Kenapa harus kaya ??? Hayo jawab bapak-ibu sekalian "

" Nggak ngerti Mas... kenapa Mas ? "

" Karena selain harus mengerti tentang kondisi umat, dia juga harus menyantuni umat yang sedang kesusahan. Misalnya bapak kurang mengerti tentang ilmu agama maka bapak bisa minta kepada Pak Kyai untuk mengajarkannya. Ada umat yang sedang kelaparan maka Kyai harus mencari cara atau membantu untuk menyediakan makanan baginya. Terus ada umat yang kesulitan mencari kerja maka Pak Kyai harus membantu dan mencarikan pekerjaan kepada umatnya yang sedang menganggur. Apa lagi yaaaa.... "

" Kalau ada umat yang nggak punya uang bagaimana Mas ? "

" Nah itu yang penting, betul Pak. Saya baru ingat. Kalau ada umat yang tidak punya uang maka Pak Kyai harus berusaha mencari jalan atau memberikan uang yang dipunyainya kepada umatnya yang tidak punya uang. Saya jadi teringat dengan seorang Habib di daerah Bogor dimana hampir tiap hatri Juma'at selalu membagi-bagikan uang yang ada di kantongnya. Tetapi anehnya uangnya tidak pernah habis dan setiap orang mendapatkan sejumlah uang yang berbeda. Habib tersebut tidak akan berhenti mengambil uang yang ada di kantong bajunya sampai umatnya yang terakhir meminta. Pertanyaannya darimana ya datangnya uang tersebut ? "

" Waduh nggak tahu Mas "

" Itu datangnya dari Allah. Itu bisa terjadi karena kedekatan seorang ulama dengan Allah SWT sehingga Allah tahu apa yang diminta oleh seorang ulama yang sangat mumpuni ilmu agamanya. Jadi bapak-ibu yang dari tadi menyelipkan uangnya ke dalam amplop secara sembunyi-sembunyi lebih baik disimpan kembali ke dalam tas. "

" Kenapa bisa begitu ? "

" Lha khan sudah seharusnya Kyai yang memberikan uang kepada umatnya bukan umatnya yang memberikan uang kepada Pak Kyai. "

" Tetapi Pak ... "

" Udah jangan tapi-tapi. Ikuti saja apa kata saya. Bagaimana ??? "

Semua tamu terdiam dan tertunduk.

" Bapak-ibu mengerti khan maksud saya... Lho kok pada diam semua "

Tiba-tiba terdengar suara mendehem seorang pria tua dengan kerasnya di belakang saya.
" Ehemmmmm Assalamualaikum Cech "

Saya langsung berbalik badan, tertanya yang memberikan salam tersebut adalah Pak Kyai, pimpinan pesantren.

" Wa aaaaalaikum salam Pak Kyai. Aaaapa kaaabar Pak Kyai ? hehehe " nada suara saya berubah.

" Bagus juga kamu ceramah ya Cech "

" Hehehehe khan Pak Kyai yang mngajarkan hehehehe "

Mata pak Kyai melototi saya. Kemudian Pak Kyai langsung menyuruh santrinya mengatur tamu yang datang untuk konsultasi secara bergiliran. Sialnya saya dan kakak dipanggil paling terakhir. Setelah menunggu selama 2 jam lebih, akhirnya kami dipanggil ke dalam ruangan khusus Pak Kyai. Kami berdua langsung mencium tangan Pak Kyai.

" Bagaimana kabarnya kalian ? "

" Baik Pak Kyai "

" Kamu masih puasa khan Cech. Sudah berapa hari ? "

" Kalau dihitung-hitung tinggal 27 hari lagi. "

" Bagus...bagus...kuat juga kamu ya hehehe. Oh ya kebetulan pas makan siang, jadi maaf ya Cech kami mau makan dulu. Silahkan kamu mau duduk disini atau di luar "

" Ya disini ajalah Pak Kyai. Saya nikmati kok puasa saya. "

Ternyata Pak Kyai benar-benar ngerjai saya. Hidangan makan siang hari itu sungguh lezat dan nikmat. Sate kambing, sate ayam, sop kambing, ikan asin, es jeruk dan masih banyak lagi. Uedan dalam hati saya tetapi saya harus berusaha menahan diri walaupun sempat menelan air liur saat melihat kakak dan Pak Kyai sungguh menikmati makan siang hari itu.

Setelah makan siang selesai, kamipun melanjutkan obrolan dan melakukan ziarah ke makam Kyai Sepuh. Menjelang sore kami pun meminta pamit kepada Pak Kyai. Tetapi sebelum pamit, Pak Kyai sempat berbicara dengan saya.

" Cech, punya uang nggak untuk pulang. Oh ya kapan kamu pulang ke Jakarta ? "

" He he he he saya tidak punya uang Pak Kyai. Ini aja setelah dari sini mau minjam ke saudara biar bisa pulang ke Jakarta "

" Aduh kasihan benar cucunya kyai sepuh. Kamu sich tadi komporin para tamu agar tidak memberikan uang kepada Kyai. Jadinya hari ini tidak ada tamu yang memberikan uang kepada saya. "

" Ahh nggak apa-apa Pak Kyai... "

" Saya nggak bisa kasih uang tapi saya hanya bisa memberikan 2 batang rokok kretek ini. "

" Terima kasih Pak Kyai lumayanlah buat rokok nanti pas buka "

" Apa ??? 2 batang rokok kretek ini ingin kamu pakai buat ngerokok ??? "

" Emangnya kenapa ??? "

" Coba kamu perhatikan baik-baik apa yang ada di dalam lintingan rokok kretek tersebut. "

" Ihhh apa nich. Kelihatannya... hehehe bagaimana bisa ... Pak Kyai. Aduh terima kasih ya Pak Kyai "

" Sudahlah kamu pulang ya. Cukuplah buat pulang ke Jakarta. Salam ya buat Bapak dan Ibu di Jakarta "

" Iya Pak Kyai. Nanti salam Pak Kyai akan disampaikan ke bapak dan ibu. Assalamualaikum "

" Wa alaikumussalam... hati-hati di jalan "

" Terima kasih "

Tahukah benda apa yang ada di dalam lintingan rokok kretek 234 tersebut. Ternyata tiap lintingan rokok tersebut setelah dibuka atau dibuang tembakaunya terdapat uang senilai 100 ribu rupiah. Karena dua linting rokok maka hari itu saya mendapatkan uang dari Pak kyai sebesar 200 ribu rupiah. Lumayanlah buat ongkos kendaraan dan jajan di jalan besok. Ini baru Kyai dalam hati saya. Iya kalau ngasih uang, kalau nggak ngasih sih bukan Kyai hahahaha

Hikmah Puasa : Buku Dan Teman Lama

Waktu menunjukkan pukul 11.30 WIB bertepatan dengan hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-65, tiba-tiba saya dikejutkan oleh sebuah sepeda motor matic yang sengaja menyerempet tubuh saya yang sedang berjalan. Saya sempat terkejut dan hampir saja emosi diri keluar. Tetapi saat saya melihat pengendara motor tersebut, saya langsung kaget dan tersenyum kecut. Rupanya teman lama yang sudah tidak bertemu hampir 10 tahun. Sialan dalam pikiran saya, bercanda saja nih teman hehehe.

Sebut saja namanya Agus, teman lama yang dulu seringkali menyertai kemana saja saya pergi ke berbagai tempat pengajian. Memang sudah banyak berubah penampilan Agus. Tubuh mulai kelihatan tambun dengan wajah yang agak klimis dan kelihatannya hidupnya sudah mulai mapan. Saat ini Agus tinggal dan bekerja di Balikpapan. Kebetulan saja selama seminggu ini Agus ada acara bisnis dengan rekannya di Jakarta.

Agus sempat merasa heran dengan penampilan saya yang dari dulu sampai sekarang tidak ada perubahan kecuali penampilan yang agak urakan. Berbeda dengan waktu kami sama-sama kuliah di Jogja, saya lebih pendiam, alim dan rajin mengikuti acara pengajian. Itu menurut Agus lho hehehe.

Dia juga mengatakan kalau sudah kangen ingin bertemu dengan saya. Dan dia tidak percaya dengan cerita teman-teman yang mengatakan kalau saya lebih banyak berkecimpung di komunitas Sunda dengan budaya dan adat istiadatnya. Apalagi saat bertemu tadi saya mengenakan celana hitam, makin membuat dia semakin bertanya-tanya tentang perubahan saya tersebut.

Terus terang dengan pertemuan tadi, kami saling bercerita satu sama lain tentang perjalanan kami selama ini. Dia mengatakan kalau saya benar-benar telah berubah, lebih urakan, banyak bicara dan senang berdiskusi. Setelah cerita ngalor ngidul sampai pada pertanyaan dia tentang kiriman bukunya sekitar 3 tahun yang lalu. Saya sempat terkesiap untuk menjawab pertanyaannya.

Saya mengatakan kalau buku tersebut sudah diterima oleh saya tapi lupa dimana buku tersebut disimpan. Buku tersebut sengaja dikirimkan via pos kepada saya karena katanya saya pasti sangat menyukai isi buku tersebut. Setelah saya berusaha mengingat-ingat dimana saya meletakkan buku tersebut. Akhirnya saya menemukan buku tersebut.

Agus sempat marah dan cemberut setelah mengetahui kalau buku tersebut diletakkan dikumpulan kaset-kaset milik pribadi sehingga kelihatan kusan penampilannya. Dan yang membuat Agus lebih marah lagi ternyata saya belum membuka plastik pembungkusnya yang sudah berdebu dan membacanya.

" Bagaimana sih Cech. Lu nggak suka ama buku kiriman gue. Kalau nggak suka balikin aja ke gue "

" Aduh bukan begitu Gus. Gue minta maaf. Sejak meninggalnya bokap, gue nggak sempat memikirkan yang lain apalagi ditambah nyokap sakit. Tuh lihat aja kiriman kaset-kaset dan CD motivasi yang dikirimkan teman dari luar negeri belum gue sentuh sama sekali. Tetapi gue benar-benar minta maaf bukan nggak menghormati elo, tapi benar-benar nggak kepikiran. Maaf ya Gus. Lagipula gue pasti nggak sempat bahkan malas membaca buku setebal itu hehehe maaf bercanda "

" Wah elu benar-benar berubah Cech. Gue lihat di FB ku rajin banget ngurusin hal-hal yang berbau Sunda dan komunitasnya. Elu sudah nggak kayak dulu lagi. Elu bukanlah Cech yang gue kenal "

" Emangnya kenapa dengan gue "

" Elu kelihatan lebih dewasa bahkan "dituakan" lah istilah gue. "

" Gila lu dituakan. Gue sih biasa-biasa aja "

" Iya menurut lu. Gue pikir sejak peristiwa bangkrutnya usaha bokap dan ditambah dengan meninggalnya beliau. Yang di otak lu hanya nyokap dan keluarga besar. Gue yakin lu sekarang menggantikan posisi bokap lu khan ? Benar nggak "

" Iya gitu dech. Elu bisa aja. Oh ya buku ini gw buka ya plastiknya hehehe "

" Dasar !!! "

" Aduh berat sekali nih bacaannya. Gue endapkan dulu pikiran yang lain baru bisa baca buku ini "

" Pura-pura aja lu. Dulu buku-buku tentang tasawuf atau kesufian hanya sebentar aja lu lalap. Masak sekarang lu nggak bisa "

" Itu dulu waktu gue masih jadi orang baik hahaha sekarang khan gue termasuk golongan sesat hahahaha "

" Dasar setan hahahahaaha "

" Eits judulnya kelihatannya menarik Gus. Gue punya feeling ini buku sedikit menyinggung tentang syiah ya "

" Nggak juga Cech... Pokoknya elu baca dulu. Nanti kalau sudah selesai elu telepon gue. Gue pasti datang dan mau diskusi tentang buku ini. "

" Diskusi ??? (kayak bagus aja nich buku dalam pikiran saya hehehe) "

" Iya gue tunggu undangan lu ya cech "

" Wokeh kalau gue ingat ya. Gue sebetulnya lebih senang diskusi tentang bagaimana caranya cari duit hahahaha "

" Hahahaha lagi bokek lu "

" Tahu aja kalau gue lagi bokek hehehehe "

" Nanti gue transfer ya.... Itupun kalau ingat wakakakakakakak "

" Bales nich ye. Oh ya kapan lu balik ? "

" Besok sore Cech... Padahal gue ingin banget kayak dulu Cech. Kita jalan-jalan keluar masuk kampung, tempat-tempat pengajian, pesantren dan orang-orang yang katanya tinggi ilmu agamanya. Apalagi pas puasa seperti sekarang, makin getol dech jalan-jalannya hehehe "

" Gue juga kangen sih tapi kita punya tanggung jawab yang lebih besar daripada sekedar jalan-jalan. Cari ilmunya bisa dimana aja tergantung bagaimana kita bisa mengasah iqro yang kita miliki "

" Nah ini yang gue demen dari lu Cech. Sudah mau sore, gue balik dulu ke hotel. Teman gue sudah nunggu dari tadi. Lagipula ini motornya "

" Ya sudah lu balik sono. Nanti teman lu ngedumel. "

" Assalamulaikum "

" Wa alaikumussalam "

" Amitaba "

" Sanchai "

" Kun faya Kun "

" Rabbi Kun "

" Nasruminullah "

" Wa fathun qarib "

Hahahahahaha mantap gan....


dok.cech


NB: Ada beberapa catatan dari buku ini yang sempat selintas saya baca yaitu

Rasulullah SAW pernah bersabda:
" Adil satu jam lebih baik daripada melakukan shalat pada malam hari dan berpuasa pada siang hari selama tujuh puluh tahun "
" Perbuatan seorang pemimpin yang adil dalam memimpin masyarakat selama satu hari, lebih baik dari ibadahnya seorang hamba ditengah-tengah keluarganya selama seratus atau lima puluh tahun "
" Pada saat setiap individu masyarakat berakhlak dan berpola pikir ilahiah, maka masyarakat itu sendirilah yang nantinya bangkit menegakkan keadilan serta membentuk tatanan kehidupan yang adil "
Iman Ali ra mengatakan,
" Berlebih-lebihan dalam mencela, menyalakan api keras kepala "

Jumat, 27 Agustus 2010

Menggenggam Sajadah

sagalarupiaya.wordpress.com




 " Sudahkah kamu sholat "

" Sudah, Yut ? "

" Apa yang kau dapatkan dari sholatmu ? "

" Susah untuk diungkapkan tapi saya merasakan ketenangan batin "

" Hanya itu saja "

" Banyak tapi ... "

" Stop stop stopppp saya sudah tahu "

Begitulah pertanyaan pertama kali ketika saya bercerita tentang sholat. Hanya itu saja. Eits !!! Nanti dulu, bagaimana dengan sajadahnya. Sajadah ? Iya sajadah, sudahkah kau genggam sajadah dimana kau berdiri, sujud dan duduk di atasnya. Apa maksudnya ? Carilah jawabannya. Tetapi bagaimana ? Yang penting khan kita telah menjalankannya sesuai dengan rukun dan sunnahnya. Sholat merupakan tiang agama dan sudah menjadi kewajiban bahkan kebutuhan hidup. Tapi yakinkah Sholatnya diterima oleh Allah SWT ? Apa hubungannya dengan sajadah ? Bagaimana dengan amar ma'ruf nahi munkar ?