Tampilkan postingan dengan label Cechgentong. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cechgentong. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 November 2016

Mulutmu Adalah Wudhumu

Saya pernah membuat status di FB sebagai berikut:

Ingat dengan ungkapan seorang teman Almarhum Bapak :

" Selama manusia sadar dirinya mempunyai mulut maka masalah dapat terselesaikan. Apalagi manusia yang mengerti bagaimana membersihkan mulut dengan WUDHU secara baik dan benar maka masalah lebih cepat lagi terselesaikan dengan senyum dan damai "

Nah berkaitan dengan Wudhu, saya sempat mengenal seorang Kyai yang selalu ingin disebut ustad walaupun beberapa kyai di wilayahnya selalu minta nasehat kepada beliau.

Namanya KH Ali Hasan. Beliau meninggal dunia pada tahun 2013 pada usia 96 tahun. Beliau adalah pendiri pondok pesantren Mamba'ul Ulum Dusun Jetak Desa Benda Kec. Bumiayu Kab. Brebes Jawa Tengah. Beberapa orang menyebutnya ahli wirid karena kalau wirid lama sekali.

Selama beberapa tahun mengenal beliau, saya mengenalnya sebagai orang yang tidak pernah lepas dari Wudhu. Apabila merasa batal wudhunya maka beliau selalu berwudhu kembali. Beliau sangat rendah hati. Saat berbicara dengan seseorang, beliau selalu menunduk penuh penghormatan.

Walaupun banyak santrinya, saat makan bersama tamunya maka beliaulah yang menyediakan nasi dan lauk pauknya bahkan menuangkan air teh satu per satu kepada tamunya. Saat ngobrol dan tahu tamunya kehabisan rokok, beliau mohon pamit sebentar. Ternyata beliau beli rokok untuk tamunya dan uniknya merk rokoknya disesuaikan dengan apa yang dihisap oleh tamunya. Beliau tidak merokok tapi untuk menghormati tamunya beliau sering ambil satu batang rokok dan ditempelkan ke mulutnya tapi tidak dinyalakan rokoknya.

Beliau sepertinya tahu kalau tamunya kekurangan uang untuk pulang ke rumah maka itu beliau sering memberi sangu berupa uang untuk ongkos pulang. Itupun saya alami bahkan setiap saya ke pesantrennya maka selalu diberi sangu karena beliau tahu saat itu saya sedang susah. Walaupun kadang beliau bercanda dengan memberi sangu berupa satu batang rokok yang ternyata dalam lintingan rokok tersebut ada uang 100 rb rupiah padahal lintingan rokok tersebut baru dibuka kemasannya.

Saya pernah bertanya kepada beliau

" Pak Kyai, saya sering perhatikan dalam satu hari Pak Kyai sering kali berwudhu. Apa tidak capek ? Mengapa harus demikian ? "

" Hehehe kamu perhatiin banget. Berwudhu bagi saya adalah cara untuk membersihkan diri mulai dari pikiran, pendengaran, ucapan, hati, langkah dan perilaku agar terhindar dari godaan syetan dan nafsu yang ada dalam diri manusia sehingga terjaga diri ini. Jadi sama halnya dengan syahadat . Jangan sampai batal syahadat kita. Maka itu harus selalu dijaga dengan benar. "

" Oh gitu. Tapi apa ga capek, Pak Kyai? "

" Hehe maka itu supaya tidak capek, jagalah wudhunya seharian penuh sebisanya. Kalaupun batal segeralah berwudhu. Ketenangan akal pikir, hati dan perbuatan akan diperoleh sehingga kita tidak sembarangan berpikir, berbicara dan berbuat. Semuanya terasa indah dan damai hidup di dunia ini."

Benar juga dalam hati saya. Setiap ada masalah maka dengan berwudhu hati jadi tenang dan masalah jadi ringan serta emosi terjaga. Saya pikir boleh juga tuh dijalankan apabila kita ingin melakukan sesuatu sebaiknya berwudhu contohnya saat ber-medsos ria sehingga status, share info dan sebagainya terhindar dari perbuatan fitnah, hoax dan caci maki.

Ya gitu aja untuk pagi ini karena saatnys isi air ke dalam gentong, siapa tahu ada yang membutuhkan untuk berwudhu.

Minggu, 20 November 2016

Ceramah Khotib Jumat Yang Membawa Perubahan

Pernahkan kalian shalat Jumat? Bagi Muslim pasti jawabannya pernah dong. Pertanyaan berikutnya adalah pernahkah mendengar Khatib Jumat membicarakan isu-isu yang menyentuh langsung kehidupan umat Islam di lingkungan sekitar mesjid? Maksudnya? Khatib yang dianggap mempunyai ilmu agama seharusnya rasa dan perasaannya lebih terasah dengan isu-isu sekitarnya sebagai makhluk sosial yang Rahmatan Lil Alamin.

Contohnya khotib yang sedang berceramah dimana mesjidnya berada di perumahan akan menyinggung isu-isu yang menjadi masalah di perumahan tersebut misalnya:

" Hai saudara-saudaraku seiman, kalian pasti melewati jalan A, banyak sekali sampah berserakan mari kita bersihkan bersama mulai dari RT, RW sampai masyarakat sekitar untuk bergotong royong membersihkannya. Perlu ada aksi bersama ya. Dan juga bersihkan selokan air atau gorong-gorong yang bahyak sampah dan sedimennya karena KEBERSIHAN ADALAH SEBAGIAN DARI IMAN. "

" Hai saudara-saudaraku seiman, apabila ada tetangga sakit dan tidak mampu harap dibantu. Laporkan kepada RT, RW sampai lurah dan diskusikan bersama masyarakat sekitar untuk segera menolongnya."

" Hai saudara-saudaraku seiman, mulai perhatikan dengan serius tentang pendidikan anak kita. Jangan sampai ada anak putus sekolah karena masalah biaya "

Apabila berceramah dimana mesjid berada di depan jalan raya.

" Hai saudara-saudaraku seiman, tertiblah berlalu lintas. Jangan serobot sana serobot sini karena membahayakan diri dan orang lain. Jangan jalan melawan arus karena membahayakan anda. Kalau keluar dari gang atau jalan kecil menuju jalan besar, harap kalian lihat kanan kiri jangan nyelonong aja karena membahayakan anda dan orang lain. Pakailah helm, bawa SIM dan STNK karena kita sebagai muslim harus taat dan tertib berlalu lintas sebagai perwujudan dari ibadah kita sebenarnya. Saat ibadah sholat, tertib dalam berwudhu, tertib rakaat dan bacaannya. Jadi tertib ya.. "

Dst. Masih banyak isu-isu yang bersinggungan langsung dengan masyarakat di suatu lingkungan yang dapat disampaikan oleh seorang khotib. Tanpa perlu menyinggung agama orang lain. Karena Umat Islam sendiri yang malu kalau kita tidak dapat menyelesaikan permasalahan umat di lingkungan terdekat.

Kalau teman-teman menemui khotib yang rajin menyinggung isu-isu di lingkungan mesjid tersebut, mohon diinfokan karena khotib seperti itulah yang mengerti tentang hakekat habluminallah wa habluminannas.

Udah ah cape bawa gentongnya...

Jumat, 18 November 2016

Saatnya Para Pemuka Agama Memikirkan Umat

Dulu saya sempat berpikir inilah saatnya umat Islam di Indonesia untuk bangkit dari ketertinggalan pendidikan, kesehatan dan ekonomi.

Pada masa apa ya? Masih ingat sekitar tahun 2000 an dimana nongol ulama/ustad/kyai dg muka-muka baru di media elektronik TV. Contohnya Aa Gym, Arifin Ilham, Yusuf Mansur sampai Alm. Udje.

Saat itu SCTV paling getol menyelenggarakan pengajian akbar live di Mesjid Istiqlal 2 minggu sekali. Pikir saya ada pencerahan bagi umat. Ulama mulai dianggap sebagai pemimpin umat yang sebenar-benarnya. Keluh kesah umat dalam hidupnya mendapatkan solusi dari pemimpinnya.

Tetapi apa yang terjadi ? Pengajian yang membosankan dan tetap saja umat bergulat sendiri dalam menyelesaikan masalahnya. Kemiskinan umat tidak menemukan solusinya. Kalau saja saat itu ustad-ustad yang sudah mendapatkan kepercayaan dari umat memanfaatkan momentum tersebut mungkin kita tidak perlu lagi curiga, iri, menuding, memaki kaum non muslim dan ras tertentu.
Maksudnya bagaimana ? Saat itu seharusnya ustad-ustad dapat dengan jernih tahu apa saja yang dibutuhkan demi kemaslahatan umat.

Contohnya adalah kemiskinan, pendidikan, dan kesehatan. Ustad-ustad tersebut seharusnya membentuk satu tim yg selalu mencari umat-umat yang membutuhkan pertolongan. 10 menit terakhir pengajian di media televisi, para ustad tersebut meminta peserta pengajian dan penonton di rumah untuk membantu saudara-saudara seimannya. Tampilkan 10 orang umat yang telah disurvei oleh tim sedang membutuhkan pertolongan.

"Saudara-saudara perkenalkan Si A sedang mengalami musibah anaknya sakit parah di rumah sakit tetapi tidak mempunyai dana untuk pengobatannya. Tolong dibantu... "

" Saudara-saudara perkenalkan si B baru saja di-PHK dan menganggur. Sebenarnya si B mempunyai keahlian ini. Mungkin ada saudara-saudara yang mempunyai info atau butuh tenaga bersangkutan. Tolong dibantu "

" Berikutnya si C hidupnya miskin dan rumahnya dah mau roboh. Tolong dibantu "

" Berikutnya si D punya anak yang putus sekolah karena tidsk ada biaya lagi. Tolong dibantu "

" Si E sedang membangun mesjid tapi dananya belum cukup. Mohon dibantu. "

" SI F membutuhkan bantuan dalam menjalankan Panti Asuhan Anak Yatim Piatu. Mohon dibantu"

Dst. Untuk lebih jelasnya dapat menghubungi tim kami. Saya yakin umat Islam di Indonesia maupun di luar Indonesia yang mampu akan berbondong-bondong membantu.

Kalau saja tiap 2 minggu, para ustad yg sudah mempunyai nama melakukan hal tersebut setiap 10 menit akhir pengajian maka itulah saatnya kebangkitan umat Islam. Karena saya yakin sekali umat Islam itu kaya asalkan dijalankan dengan benar dan amanah. Kekuatan umat Islam dalam perekonomian , pendidikan dan kesehatan akan menjadi kekuatan politik sendiri dan yang lain akan mengikutinya karena umat Islamlah penggerak perubahan di Indonesia.

Sayangnya hal itu tidak dilakukan, para ustad/ulama saat itu hanya memikirkan diri dan golongannya serta terlena dengan keselebritisannya. Jadi tidak usah kaget umatnya tetap jalan di tempat dan dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu.

Yang menariknya isu aseng selalu dihembuskan saat pilkada padahal justru asenglah yg banyak berbuat demi kemaslahatan umat baik muslim maupun non muslim. Ironis.

Minggu, 22 Januari 2012

Ngaji Rasa


morelife4all.com


" Ingat Cech, Ngaji Rasa Ngaji Diri Ngaji Qur'an "

Itulah nasehat kakek buyut (Uyut) kepada saya. Dalam mengaji kehidupan harus melalui beberapa tahapan agar mengerti apa itu mengaji yang sebenar-benarnya mengaji sehingga kita mengetahui siapa dan dimana posisi kita serta seberapa besar porsi yang tepat untuk diri sendiri sehingga tidak akan mempunyai keinginan untuk mengambil hak orang lain.

Dalam tulisan ini saya hanya akan mengupas tentang ngaji rasa. Apa itu ngaji rasa ? Rasa apa yang dikaji ? Bagaimana mengujinya ? Maka kita akan tahu rasa yang hiji atau rasa yang sejati. Oleh Uyut diterangkan dengan sederhana sekali.

" Kapan rasanya kamu mempunya mata ? "tanya Uyut.
" Waktu lihat wanita cantik "
" Bukan " jawab Uyut
" Waktu lihat gambar atau film porno "
" Salah sekali hehehehe " lantang teriakan Uyut.
" Terus kapang dong Yut ? "
" Jawabannya mudah yaitu waktu kamu sakit mata. "
" Kok waktu sakit mata "
" Ya, waktu sakit mata khan baru kamu merasakan punya mata. "

Benar juga kata Uyut tersebut. Waktu kita mengalami saki mata barulah kita menyadari rasanya punya mata. Pada waktu sakit mata, kita merasakan betapa sengsaranya hidup dengan mata yang sakit. Susah tidurlah, gelisahlah, letih menghapus air mata yang terus keluar sampai terasa hidup ini sengsara dibuatnya karena kita tidak bisa bergerak bebas kemana-mana.

Ini baru sakit mata bagaimana kalau buta atau tidak mempunyai mata maka akan lebih sengsara lagi. Karena dalam melakukan aktifitas, kita sangat bergantung kepada sesuatu baik berupa alat atau orang yang mau menuntut dan mendampingi kita beraktifitas sehari-hari.

Hal ini tidak hanya berlaku kepada mata tetapi seluruh tubuh manusia. Satu saja anggota tubuh kita sakit maka seluruh tubuh kita akan merasakan sakit. Jadi satu kesatuan utuh. Itulah yang dinamakan satu untuk semua, semua untuk satu.

Bagaimana melatih rasa ? Kenalilah satu persatu apa yang dimiliki. Tidak usah jauh-jauh mencarinya. Mulailah dari tubuh kita sendiri mulai dari kepala sampai ujung kaki. Kalau sudah merasakan apa yang dimiliki maka kita akan mengagumi Sang Pencipta yang menciptakan manusia dengan sempurnanya. Selain itu dengan ngaji rasa maka kita dapat mengerti apa itu yang namanya empati dan simpati. Empati rasa terhadap apa yang dialami orang lain sehingga menimbulkan simpati rasa terhadap orang tersebut. Bagaimana ya kalau saya mengalami masalah yang dihadapi oleh orang tersebut. Jadi kita tidak akan mudah menuding, menyinggung dan menjustifikasi sesuatu sebelum kita paham benar tentang sesuatu tersebut.

Setelah ngaji rasa barulah kita dapat mengerti mengapa Yang Maha Kuasa memberikan rasa kepada manusia. Dan mengapa manusia diciptakan ? Dapat dijawab dengan ngaji berikutnya yaitu Ngaji Diri.

Kamis, 01 September 2011

Menangkap Esensi Kehidupan



Saya yakin sudah banyak tulisan yang menceritakan pernak pernik kehidupan. Tapi ada satu yang menarik dari kehidupan yaitu pengalaman kehidupan orang. Ujung-ujungnya bicara tentang cinta. Cinta asmara, cinta keluarga, cinta saudara, cinta teman, cinta tanah air, cinta manusia sampai cinta terlarang. Cinta menjadi rumit apabila manusia belum mampu menangkap esensi kehidupan.


Esensi? Ya, begitulah saya menamainya atau mungkin juga bisa dipakai kata inti. Rahmatan lil alamin, itulah yang diajarkan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Atau bahasa kerennya PEACEFUL LIFE. Sebenarnya kalau kita pelajari lagi lebih dalam maka ada keterkaitan dengan 10 Perintah Tuhan-nya Nabi Musa. Ini juga berkaitan dengan keadilan. Keadilan versi Nabi Musa memang agak berbeda dan rasanya berat untuk dijalankan oleh manusia saat ini. BERSEDIA MENDERITA DEMI KEBAHAGIAAN ORANG LAIN. Menarik dan butuh perenungan untuk memahami kalimat di atas.



Pada akhirnya kita menyadari, kalau esensi kehidupan bukan hanya mempelajari kitab-kitab suci sampai ngelotok tetapi kuncinya adalah istiqomah atau terus melakukan atau just do it sesuai aturan yang diperintahkan Tuhan dengan keyakinan penuh atau haqqul yaqin. Kembali lagi ujungnya adalah WHAT YOU HAVE DONE. Kalau sudah begitu kebenciaan terhadap sesama, sekelompok atau seluruh manusia dapat dihindari. Semua tergantung kepada manusianya.


Mau ke kiri atau ke kanan, atas atau bawah, surga atau neraka, senang atau susah dan seterusnya. Benturan-benturan terjadi karena merasa "ter" atau mengagungkan egosentrisme atau tertutupnya empati dan simpati atau masa bodo dengan situasi kondisi orang di sekitarnya. Yang penting saya senang. Kalau hal tersebut tidak bisa terkontrol maka akan ada "kitab suci" baru versi manusia yang lupa keberadaannya di dunia. Ayat-ayat bisa dibuat seenak udelnya sampai mengabaikan esensi kehidupan yang hakiki. Tidak mau tahu dengan apa yang telah Tuhan perintahkan. Nilai-nilai ibadah ritual dan sosial diabaikan demi kepentingan pribadi. Ketakutan dan keserakahan menjadi sesembahan. Ketakutan akan kehilangan kekuasaan, harta dan "miliknya". Keserakahan yang merajalela karena tidak pernah puas dengan apa yang dimiliki atau lebih tepatnya tidak pernah bersyukur. Keegoan, emosi, spiritualitas harus terukur dan terjaga agar mengerti makna kehidupan, MENGERTI DIMANA POSISINYA DAN BERAPA PORSINYA.


Di negeri kita sudah banyak orang "pintar" dan menduduki tempat empuk. Menariknya umur mereka muda-muda tetapi secara mental dan spiritual mereka rendah atau nol. Yang terjadi kesemena-menaan, nilai menghormati-menghargai antara yang tua dan muda terabaikan, rasa sopan santun hanya kata di mulut tanpa perbuatan sehingga yang ada kenaifan dan omong kosong belaka. EGP dan DL menjadi tren. Berbeda dengan orang tua kita dulu yang ditempa dan terasah intelektual, emosi dan spiritualnya melalui kawah candradimuka kehidupan sesuai Standard Operation Procedure (SOP) Tuhan dan nilai-nilai budaya luhur nenek moyangnya. Satu hal apa yang dijalani mereka lebìh modern dan lebih peaceful life dibandingkan dengan generasi sekarang.

Akhir kata, tak ada kata akhir dalam mengerti kehidupan dan semuanya akan berakhir tatkala telah datang hari akhir pada setiap manusia.

Sumber : Cechgentong dalam Forum Diskusi Komunitas Spiritual Bawah Tanah, 17 Agustus 2010.

NB : Sebetulnya ini tulisan lama yang dipublish di Facebook hari ini oleh teman saya dari Brunei Jaya Permana untuk perenungan Idul Fitri

Selasa, 09 November 2010

Kembali Ke Khitah

hoaaam.blogspot.com



" Ingat ya Cech !!! Hati-hati, jeli dan teliti "

Itulah salah satu kalimat yang diucapkan oleh Eyang Sukma Nur Rasa sebagai pengingat kepada diri saya. Sudah hampir 8 tahun beliau meninggal dunia tetapi kalimat tersebut selalu saya ingat. Tetapi tetap saja namanya manusia, ungkapan " hati-hati, jeli dan teliti " selalu saja terlupakan. Mengapa hal itu bisa terjadi ???

Setelah 8 tahun, ternyata ungkapan tersebut terngiang kembali di telinga saya setelah mengalami beberapa peristiwa yang kurang mengenakkan. Saya menyadari apa yang saya lakukan ternyata banyak salahnya. Mulai dari nilai kebaikan yang tulus kepada orang sampai nafsu yang seharusnya tidak boleh terjadi. Sungguh sia-sia semua yang telah diajarkan Eyang Sukma Nur Rasa selama ini. Itulah yang saya rasakan saat ini. Semuanya serba salah dan membuat saya malu terhadap diri sendiri tetapi semuanya sudah terjadi. Saatnya untuk berubah menjadi lebih baik. Salah satu caranya adalah kembali kepada khitah yang telah dilontarkan beliau yaitu " Hati-hati, Jeli dan Teliti " 

Memang selama 4 tahun ini terasa berat beban yang saya pikul. Semuanya mengarah kepada saya tetapi apa mau dikata karena semuanya menjadi amanah yang harus saya pikul. Apalagi amanah dari seorang Ayah kepada anaknya maka itu sudah menjadi tanggung jawab dan tidak dapat ditolak.

Ya kembali lagi masalah kematangan sikap dan pebuatan. Ternyata saya harus banyak belajar lagi. Apa yang saya alami selama ini akan menjadi sebuah perenungan yang baik untuk masa yang akan datang.

Bodohkah ? Keledaikah ? Naifkah ? Munafikkah ? Saya tidak bisa menjawabnya. Tetapi ada satu yang bisa dikupas dari ungkapan Eyang. Hati-hati bisa saja dimaknai bukan hanya sekedar waspada tetapi lebih kepada penggunaan hati sebelum bertindak atau berbuat. Apalagi kata hatinya ada 2 kata, yang berarti bicaralah dengan hati secara terus menerus sebelum mengambil keputusan dan bertindak.

Selanjutnya Jeli, layaknya produk jeli yang bentuknya kenyal, lembut, dan meringankan perut. Jadi jeli bisa dimaknai dengan bersikaplah seperti layaknya jeli dalam pergaulan sehari-hari dan bukan hanya awas dan cerdas dalam mengamati sesuatu hal. Kenyal dalam bergaul, lembut dalam bertutur kata dan membuat ringan semua permasalahan yang dihadapi. Itulah pengertian jeli dalam perenungan malam ini.

Kemudian teliti, pengertiannya selalu berhubungan dengan akal pikir. Akal pikir disini berkaitan dengan masalah komunikasi (mengingatkan saya akan kata TELIT). Memang selama ini komunikasi yang dijalankan belumlah sempurna karena keterbatasan diri untuk bicara tentang banyak hal. Tetapi saya memaknai komunikasi sebagai penyampaian suatu haruslah diolah terlebih dahulu dengan akal pikir yang sejalan dengan hati supaya tidak menimbulkan persepsi yang salah. Selain itu semua organ tubuh harus difungsikan untuk menjalankan apa yang dinamakan teliti.

Jadi dari ungkapan "hati-hati, jeli dan teliti" yang sebenarnya satu kesatuan maka dapat disimpulkan mirip dengan pesan Eyang Sukma Nur Rasa dulu sekali yaitu sampai kepada orang lain apa yang kamu ketahui dari A sampai Z apabila kamu sudah mengupasnya walaupun baru secuil dan jangan disembunyikan. Dan diamlah kamu apabila kamu tidak mengerti apa-apa karena itu lebih baik layaknya seorang penonton sepak bola yang bersikap baik dalam menonton sebuah pertandingan sepak bola tanpa harus berteriak-teriak dan berkomentar tanpa juntrungan yang jelas.

Untuk itu saya hanya meminta maklum kalau mulai malam ini disaksikan oleh yang menyaksikan tulisan ini maka saya akan menjalankan ungkapan "hati-hati, jeli dan teliti" dengan sebaik-baiknya. Maafkan saya kalau ada perubahan sikap dan perbuatan yang lebih berbeda dari biasanya. karena bagi saya itulah hal yang terbaik untuk masa depan saya.

Sebagai rasa syukur dan mengingat nasehat orang tua maka saya hanya ingin mendoakan Eyang Sukma Nur Rasa dengan ucapan Al Fatihah.

" Usholi ala sukmana rasana Syekh Sukma Nur Rasa... Al Fatihah "

Rabu, 25 Agustus 2010

Kekuatan Sebuah Amanah



Sosok Wanardi (koleksi pribadi)


Perjalanan kedua saya ke Sanghyang Sirah kali ini memang agak berbeda. Berbeda dengan yang pertama yang lebih banyak jalan-jalannya alias wisata. Tapi yang kedua ini lebih kepada kontemplasi diri karena tinggal disana selama 10 hari yang disertai dengan 7 hari berpuasa.
Saya tidak akan mengupas tentang kontemplasi diri tapi ingin menceritakan seorang pemuda sederhana yang saya temui di Sanghyang Sirah. Namanya singkat yaitu Wanardi. Pemuda lajang berusia 37 tahun asal desa Kapetakan Pegagan, Cirebon dengan perawakan seperti orang Indonesia umumnya yaitu kulit sawo matang, rambut lurus, tinggi normal dan selalu berpakaian layaknya seorang santri di sebuah pesantren.

Bicara pesantren maka ini ada hubungannya mengapa Wanardi bisa berada sendirian di Sanghyang Sirah. Sebagai seorang santri sebuah pesantren di Banten, sebenarnya Wanardi sedang menjalankan amanah yang diberikan oleh Kyainya. Pada awalnya Wanardi berpikir amanah tersebut bukan ditujukan kepadanya karena saat itu Kyainya mengatakannya di dalam sebuah forum diskusi di pesantren. " Suatu saat saya menginginkan ada satu saja santri saya yang mau berdiam diri di Sanghyang Sirah selama 40 hari "

" SAYA INI ORANG TUA, BUKAN DUKUN.....DASAR JALMA GELO !!!!!! "

Seperti menjadi suatu kebiasaan/tradisi pada setiap menjelang pemilihan umum baik pemilihan caleg secara nasional maupun daerah dan pemilihan kepala daerah.

Beberapa bulan terakhir ini, Uyut saya dengan padepokan Galeuh Pakuan Pajajaran sering didatangi oleh orang-orang yang punya hajat ingin menjadi anggota legislatif maupun kepala daerah bahkan mau jadi camat atau lurah. Mereka berpikir bahwa Uyut mempunyai kemampuan yang dapat mewujudkan segala keinginan dan cita-cita mereka.

Sebagai orang tua, sudah pasti Uyut akan menyambutnya dengan baik dan bersahaja. Cuma masalahnya, mereka yang merasa terhormat itu kurang mengerti dan bersikap santun dengan uyut sebagai orang tua. Banyak yang sudah berhasil maka setelah itu menghilang tanpa bekas dan tidak pernah lagi bersilaturahmi. Memang itu adalah hak mereka untuk tidak kembali lagi. Mungkin mereka menganggap kami bukan siapa-siapa dan hanya ingin memenuhi rasa keingin tahuan mereka saja.

Tetapi minggu lalu adalah puncak kemarahan, kegelisahan, kegalauan dan semua emosi Uyut terhadap mereka-mereka yang punya niat mencalonkan diri jadi anggota parlemen yang terhormat dan kepala daerah. Begini ceritanya :

Bertepatan Padepokan Galeuh Pakuan Pajajaran menyelenggarakan perayaan Maulud nabi Muhammad SAW, satu per satu berdatangan para caleg dengan berbagai macam atribut/bendera di mobil mereka dan diikuti oleh tim suksesnya. Wao jadi ramai nich acara Maulud Nabi-nya (pikir saya saat itu). Saya dan tamu yang datang sudah dapat menebak maksud dan tujuan mereka datang ke acara tersebut.

" Uyut, perkenalkan saya dari Partai A/B/C dan seterusnya "

" Maksud kedatangan kami, ingin meramaikan acara Maulud Nabi ini "

" Apa yang bisa kami bantu agar acara ini bisa sukses..... "

Hahahahahaha saya hanya bisa tertawa dalam hati dan membuat saya tidak bisa menahan tertawa saat Uyut mengatakan

" Uyut mah sering kedatangan orang dari mana saja baik Partai A, Partai B, partai C dst sampai Partai yang tidak lulus verifikasi KPU bahkan baru dalam angan-angan yaitu Partai Grandong dengan Sekjennya Mak Lampir...tuh ketuanya ada disini (sambil menunjuk ke arah saya ....teu balek wakakakakak) "

PUASA 12

Sebetulnya sudah lama saya ingin menulis tentang puasa 12 ini tetapi selalu terkendala oleh kesibukan dan butuh konsentrasi untuk menulisnya karena saya perlu mengingat kembali peristiwa-peristiwa yang saya alami sekitar 10 tahun yang lalu dan itu menjadi sejarah dalam kehidupan manusia.

Kebetulan saat sedang memulai tulisan ini saya mendapat kabar bahwa teman saya masuk rumah sakit karena penyakit parah yang katanya sudah stadium 3 atau 4 (maaf saya tidak dapat menyebut penyakitnya demi kebaikan bersama).

Sekitar 10 tahun yang lalu keluarga kami mengalami peristiwa yang luar biasa. Peristiwa itersebut nantinya akan membuat kami sekeluarga menjadi tegar, ikhlas, sabar dan sebagainya (atau bahasa agamanya Tawadhu). Seperti yang diketahui, usaha almarhum bapak mengalami kebangkrutan akibat krisis ekonomi tahun 1998. Kebangkrutan itu tidak hanya mengakibatkan kami tidak punya apa-apa tetapi juga diikuti oleh tidak kuatnya Ibu saya menghadapi cobaan ini yaitu ibu saya sering kali masuk rumah sakit.

Hal tersebut berlangsung selama 8 tahun. Ibu sering kali keluar masuk rumah sakit mulai dari penyakit maag yang akut, kantung empedu, diabetes,jantung sampai yang terakhir stroke. Dalam 1 tahun Ibu bisa keluar masuk rumah sakit sampai 4-5 kali dan dalam 8 tahun sudah mengalami koma sebanyak 8 kali . Ibarat peribahasa :" Sudah jatuh ketimpa tangga pula"

Hal tersebut membuat saya sampai putus asa dan menantang Allah dalam setiap doa yaitu " Ya Allah habiskan segala yang kami miliki kalau memang ini bukan haq kami dan kami siap untuk menjadi orang miskin agar keluarga kami bahagia dunia akhirat" Doa ini pernah saya sampaikan kepada orang tua saya termasuk kakek buyut di Sumedang. Mereka hampir menangis dan tidak bisa berkata apa-apa.

Singkat cerita, suatu hari saya dipanggil oleh kakek buyut di Sumedang. Beliau mengatakan ada sesuatu yang ingin dibicarakan dan ini penting sekali. Sesampainya di rumah kakek buyut saya, beliau mengatakan kalau mendapatkan ilham atau mimpi yaitu saya harus puasa untuk membersihkan diri dan mungkin ini salah satu jawaban Allah SWT agar kehidupan keluarga kami menjadi lebih baik. Saat itu saya tidak terlalu banyak bertanya dan memang pikiran saya tidak fokus kepada pembicaran Uyut saya. Ketika ditanya apakah saya siap dan sudi melakukannya. Sempat kaget dan bertanya melakukan apa ? Dengan tersenyum dan tidak marah, Beliau menyuruh untuk puasa 12.


Puasa 12 ??? Apa itu? Begitulah pikiran saya pada saat itu karena memang saya kurang perhatian. Kalau puasa Senin Kamis sudah biasa, puasa Nabi Daud sudah biasa, puasa Qurban sudah biasa, apalagi puasa bulan Ramadhan sudah kewajiban.

Orang Gila Yang Tidak Gila

Ilustrasi (useillusion1.wordpress.com)


Saat itu saya baru pulang dari Temanggung menuju Yogyakarta. Hari mulai mendekati senja dan saya terdampar di terminal Magelang. Hal ini terjadi gara-gara saya salah memilih bis. Saya pikir bis yang ditumpangi jurusan Temanggung-Yogyakarta ternyata jurusan Temanggung-Magelang. Ya sudah, terpaksa saya harus menunggu bis jurusan Semarang-Yogyakarta.

Entah kenapa pada hari itu bis jurusan ke Yogyakarta seperti hilang ditelan bumi. Biasanya beberapa menit sekali masuk terminal Magelang untuk mengangkut penumpang ke Yogyakarta. Rupanya ada mogok massal para awak bis. Memang ada satu dua bus AKAP berukuran sedang seperti metromini yang mengambil trayek Magelang-Yogyakarta. Tetapi saat itu saya enggan menggunakan bis tersebut.

Kebetulan saat itu perut terasa lapar sekali karena sejak pagi saya belum makan nasi kecuali sebungkus roti dan sebuah botol aqua sedang. Saya memutuskan untuk mencari warung makan di sekitar terminal. Baru saja saya berjalan beberapa meter, terdengar suara orang menyanyi dengan teriakan keras dan menari-nari. Terdengar pula orang-orang mengusirnya jauh-jauh supaya tidak mendekati warung dagangannya bahkan ada beberapa orang yang mengganggu dan usil kepada orang tersebut. Ohhhh ternyata orang gila dalam hati saya.

Awalnya saya tidak menghiraukan dan peduli dengan setiap tingkah laku orang gila tersebut. Tetapi saat dia menyanyikan sebuah tembang Jawa yang artinya saya sedikit mengetahuinya maka tanpa sadar saya memperhatikannya. Setelah lama mengamati dan memperhatikannya, saya merasa yakin kalau orang tersebut tidak gila. Sesekali saya lihat pandangan matanya dan sepertinya orang gila tersebut tahu kalau saya melihatnya.

Langsung saja saya menghampiri orang gila tersebut sambil membawa 2 buah teh botol dingin. Banyak orang mengingatkan saya agar tidak mendekati orang gila tersebut tapi tetap saja saya mendekatinya untuk membuktikan kalau orang gila tersebut tidak gila.

Begitu saya menghampiri, orang gila tersebut diam dengan tatapan tajam dan sesekali tersenyum. Langsung saya pegang tangannya dan mengajak duduk di trotoar terminal. Herannya orang gila tersebut tidak menolak tapi malah menyanyi tembang Jawa lagi.

" Pak... pak... pak... minum " teriak saya

" Ahhh ... ya "

" Sudahlah Pak berhenti nyanyinya. Ayo minum dulu " saya memberikan teh botol dingin.
Langsung saja teh botol dingin tersebut diminumnya dan dalam waktu singkat kosonglah isi botolnya.

" Mau lagi Pak "

" Haaaa apa? lalalalalala "

" Mau lagi Pak teh botolnya. Mau khan? Bu pesan satu lagi teh botolnya "

Dengan perasaan takut-takut ibu penjual teh botol mendatangi kami berdua sambil memandangi saya dan orang gila tersebut. Tiba-tiba orang gila tersebut tersenyum kepada saya dan senyuman itu menandakan sambutannya untuk menerima kehadiran saya. Nah inilah saat yang tepat untuk bertanya kepadanya pikir saya saat itu.

" Maaf ya Pak, dari tadi saya perhatikan bapak. Sebetulnya bapak tidak gila khan ? "

" Hahahahahahahahahahahahahahaha.....hahahahahahahahahahaha " orang gila tersebut tertawa dengan keras sampai terdengar oleh orang lain sehingga menarik perhatian orang yang lalu lalang.

" Ada apa Pak ? Kenapa tertawa ? Benar khan omongan saya ? "

" Hahahahaha hahahaha kalau saya gila, memangnya kenapa ? "

" Ya tidak apa-apa. Cuma aneh wong tidak gila kok mau jadi gila ? "

" Hmmmmmm "

" Okelah kalau begitu, kita makan ya Pak. Pasti bapak belum makan. Perut saya sudah berbunyi "

Tanpa banyak bicara orang gila tersebut mau mengikuti apa yang saya tawarkan. Segeralah saya menuju ke warung makan. Setelah makan, saya melanjutkan pembicaraan sebelumnya walaupun saya tahu banyak orang bisik-bisik merasa heran dan aneh. Kok mau-maunya berteman dengan orang gila. heheehe.

" Bagaimana Pak ? Sudah kenyangkan ? "

" Sudah Mas " sungguh kaget saya mendengar jawabannya.

" Syukur dech. Omong-omong kenapa bapak harus jadi orang gila "

" Hmmm saya memang gila kok "

" Kok bapak bicaranya seperti itu "

" Ya memang harus begitu. Orang-orang waras itu pasti akan mengatakan saya gila atas apa yang saya lakukan selama ini "

" Memangnya apa yang bapak telah lakukan "

" Lalakon Mas "

" Apa itu Pak "

" Lalakon ya lalakon ... itu lho menjalankan perbuatan untuk mencari jati diri. "

" Maksudnya bapak ini sedang melakukan perjalanan spiritual "

" Ya kayak begitu "

" Tapi kenapa harus jadi orang gila "

" Ya harus jadi gila. Coba mas perhatikan. Ada nggak orang gila mengganggu orang waras ? "

" Saya jarang lihat Pak. Yang ada malah orang waras yang selalu mengganggu dan menggoda orang gila "

" Nahhhh jadi sebenarnya siapa yang gila Mas "

" Aduh susah saya menjawabnya Pak. Saya tidak mengerti. "

" Dari gila itulah saya mengerti dan memahami enaknya jadi orang gila "

" Kok bisa Pak. Enaknya dimana ? "

" Enaknya ya sewaktu diganggu, digoda, diludahi,dimarahin, dipukul, dipermainkan dan diusir-usir oleh orang yang merasa dirinya waras "

" Wah wah wah dalam sekali apa yang bapak katakan "

" Biasa saja Mas. Saya jadi tahu dan merasakan langsung bagaimana orang-orang suci dulu seperti rasul, nabi, wali ataupun aulia diperlakukan seperti orang gila sama dengan apa yang saya alami Mas pada saat menjalankan kebenaran Ilahi. Ternyata saya merasakan kenikmatan yang luar biasa "

" Makin tidak mengerti saya "

" Kalau merasa waras, orang tidak akan mudah marah, mengganggu, menggoda, mempermainkan, meludahi, memukul atau merusak apalagi mengecilkan semua ciptaan Gusti Allah termasuk orang gila. Orang gila khan juga ciptaan Gusti Allah. Manusia tahu perannya di dunia sebagai kalifah yang memberikan rahmat bagi alam semesta ya semua yang diciptakan Gusti Allah. "

" Luar biasa penjelasan Bapak. Ini ajaran sufi ya Pak "

" Saya tidak tahu Mas apa itu sufi yang saya tahu ini lalakon untuk mencari sejatinya diri manusia "

" ohhhhhh gitu " saya sampai terkagum-kagum sambil berpikir apa makna yang terkandung di dalam penjelasan bapak yang dianggap gila ini.

" Sudah ya Mas. Itu bis ke Yogyanya sudah datang. Cepetan sana. Nanti malah ketinggalan lagi "

" hah kok tahu sich saya mau ke Yogya aneh " dalam hati saya.

" Cepetan Mas "

" Oh ya saya pamit dulu Pak. Terima kasih ilmunya Pak "

" Saya yang harus terima kasih karena sudah diberi makan oleh Mas heheheehe lalalalalalalala "

Kembali bapak tersebut bernyanyi dan menari-menari sambil keluar dari warung meninggalkan saya. Sayapun buru-buru membayar makanan yang kami santap dan menuju ke bis yang menuju Yogyakarta.



Ilustrasi (isfahangraphic.com)


Ketika bis mulai bergerak meninggalkan terminal Magelang, saya sempat melihat bapak tersebut kembali menjadi orang gila dan bergerak meninggalkan terminal juga. Sebuah pengalaman yang luar biasa dalam hidup saya. Ya Allah, terima kasih dan saya bersyukur kepadaMu karena Engkau telah memberikan ilmu dan petunjukMu lewat orang gila yang bukan gila itu. Engkau Maha Kuasa, Penguasa Langit dan Bumi.