Tampilkan postingan dengan label Puasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puasa. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 September 2010

Nilai Puasa Dan Guru Sejati

Guru (exoticindiaart.com)



" Apa yang sedang kamu takutkan Fir ? "

" eh eh eh eeeehhhh "

" Kelihatannya kamu sedang sakit. Kamu puasa hari ini khan ? "

" Iya saya puasa eeeehhhh tapi... "

" Tapi apa, kamu keringat dingin. Jelas-jelas kamu sakit. Tuh lihat bajumu sampai basah "

" Saya takut Min. Takut sekali. "

" Apa yang kamu takutkan sampai keringat dingin seperti ini ? "

' Saya takut ditanya oleh Sang Guru. Makin mendekati Idul Fitri ketakutan saya makin meningkat "

" Sang Guru ??? Siapakah Sang Guru ??? Apa yang membuatmu makin takut ? "

" Sang Guru akan marah besar bila saya berkata tidak jujur dan tidak mendapatkan apa-apa dari puasa ini "

" Maksudnya ??? "

" Setelah puasa Ramadhan ini usai maka Sang Guru akan datang ke tempat saya untuk menanyakan banyak hal yang berkaitan dengan puasa "

" Memangnya Sang Guru tersebut bertanya apa saja ? "

" Diantaranya apa yang kamu dapat selama puasa di bulan Ramadhan ? Apakah kamu benar-benar menjalankan puasa ? "

" Itu mah sepele sekali Fir. Apa yang harus ditakutkan ? "

" Sepele tetapi sulit menjawabnya "

" Katakan saja kalau kamu telah menjalankan puasa sesuai dengan perintah di dalam Qur'an. Terus bilang juga kamu telah mendapatkan hikmah seperti THR, kekasih atau apalah. Khan bisa dibuat-buat. Gitu aja kok repot "

" Enak saja kamu, Min. Kamu belum tahu marahnya Sang Guru. Bisa-bisa kita tidak mendapatkan keberkahan di 11 bulan setelahnya bahkan hidup kita makin susah "
" Masa sich "

" Ingat nggak dengan para sahabat Rasul ketika ditanya bagaimana kabarnya setelah menjalankan puasa ? Ada yang mengatakan kalau puasanya tidak mendapatkan apa-apa atau kondisi keimanannya menurun atau sebaliknya makin meningkat. "

"Ohh ya ya saya ingat. Intinya kejujuran khan ! "

" Betul kejujuran itulah yang membuat Sang Guru Sejati tidak akan marah dan terus mengingatkan pentingnya keimanan kepada Allah SWT "

" Tunggu tunggu dulu. Puasa khan tinggal 10 hari lagi. Makin mendekati Idul Fitri biasanya orang gembira menyambutnya. Kok kamu malah sedih. "

" Bukan sedih tetapi takut saja kalau saya telah sia-sia melakukan ibadah. Maka itu saya akan menentukan sikap setelah syawal berakhir karena setelah syawal itulah saya telah menemukan jawaban atas ketakutan saya tersebut. "

" Aneh ya kamu Fir. Orang-orang gembira sekali setelah Ramadhan dan sikapnya biasa-biasa saja tanpa mau tahu jawaban apapun dari Sang Pencipta "

" Nah itulah gunanya kita mempunyai Sang Guru. Sang Guru inilah yang selalu mengingatkan dan menasehati segala tindak tanduk kita "

" Ohhhh gitu ya ..... "

Siapakah Sang Guru ? Dari cerita singkat di atas dapat disimpulkan Sang Guru tersebut adalah Guru Sejati yang ada di dalam qolbu manusia yang bekerja otomatis apabila manusia berbuat tidak baik. Mak a itu seringlah kita bertanya kepada Guru Sejati yang ada di dalam qolbu tersebut dengan ikhlas dan khusu'. Banyak sekali jawaban-jawaban kehidupan diri yang diberikan sehingga manusia tidak salah jalan alias jalan yang lurus.

Berikut saya ingin menggambarkan Sang Guru dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan pengalaman yang pernah saya alami. Analogi Sang Guru dalam pengalaman saya ini adalah Om Tris dari Cirebon. Beliau adalah orang yang selalu mengingatkan saya dengan pertanyaan yang sepele tetapi menusuk. Pertanyaannya selalu sama dari tahun ke tahun setelah puasa di bulan Ramadhan yaitu Apa yang saya peroleh selama puasa ? Bagaimana kabar puasa saya ?
Nah pertanyaan itulah yang selalu diterapkan kepada anak muridnya yang tersebar di seluruh Cirebon. Walaupun yang saya alami tidak berkaitan dengan puasa wajib di bulan Ramadhan tetapi tetap menjalan ritual puasa. Dalam berbagai kesempatan beliau selalu menunjuk 3 orang muridnya untuk menjalankan puasa selama 3 hari. Puasa ini bertujuan untuk meningkatkan daya nalar dan mengasah kekuatan batin. Setelah 3 hari menjalankan puasa maka 3 muridnya akan datang ke Om Tris untuk ditanyakan beberapa pertanyaan yang sederhana tetapi memberikan efek langsung kepada yang berpuasa.

Sebut saja 3 orang muridnya bernama Udin, Budin dan Nurdin. Setelah menjalankan puasa 3 hari di rumah mereka masing-masing, ketiganya menghadap Om Tris. Satu-satu akan ditanya tetapi sebelum ditanya maka ketiganya akan disalami dimana Om Tris selalu mengucapkan doanya dan menghembuskan angin serta mengusap-usap kepala ketiga muridnya tersebut.

' Bagaimana puasa kalian bertiga selama 3 hari ini ? Mulai dari Udin, kedua Budin dan terakhir Nurdin " tanya Om Tris.

" Saya telah menjalankannya dengan baik " jawab Udin

" Benar kamu menjalankan puasa dengan baik. Apa yang kamu dapat dari puasa kemarin " tanya Om Tris Kembali.

" Badan saya terasa ringan Om dan pikiran jadi fresh " jawab Udin

" Benar kamu merasa fresh ? Jangan bohong ya. Ingat tadi kamu sudah salaman dengan saya ya " ujar Om Tris.

" Benar Om saya bicara jujur " balas Udin.

" Saya percaya kok hehehe " celoteh Om Tris.

Tiba-tiba Udin mengerang kesakitan, Udin memohon-mohon kepada Om Tris untuk mengobatinya. Rupanya badan Udin tiba-tiba panas tinggi. Tampak sekali Udin merasa kegerahan.

" Masih panas Din ? "

" Aduh tolong saya Om. Panas...panas sekali badan saya Om "

" Makanya kamu jangan bohong. Ngaku saja puasa hari kedua kamu nongkrong di warung dekat rumahmu sekitar jam 1 siang. Terus kamu minum kopi panas khan. Ayo ngaku saja. Kalau tidak panas badanmu makin tinggi "

" Iya om iya saya ngaku. Saua ngopi di warung itu "

" Ya udah kamu kemari "

Langsung saja Om Tris memegang bahu Udin dan kondisinya kembali normal.

" Sekarang kamu Budin. Jawab yang jujur. Pertanyaannya sama dengan Udin "

" Saya puasa dong om " ujar Budin dengan gagahnya.

" Benar ya kamu puasa "

" Benar Om mana berani saya bohongi Om "

" Ya sudah. Nurdin kesini kamu "

Baru saja Nurdin mau beranjak mendekati Om Tris. Tiba-tiba bafdan budin langsung menggigil.

" ommmmm toooloooogiiiiinnnn saaaayyyyaaaaa ommmm "

" Memangnya kamu kenapa Budinnnn "

" Badan sayaaaa meeenngggiiiiiggggillll kedinginan seperti di atas gunung yang tinggggiiii. Saaaayyyyyya tiiiiidaaaaak kuuuuuuaaaat "

" Hehehehe tapi kamu ngaku dan jujur ya. Benar nggak kamu tepat puasa pertama siang hari juga minum es buah di kantin kantor kamu. "

" Lhoooo koookkkkkk ommm tahuuu yaaaa "

" Yaa udah kamu ngaku aja kalau tidak kamu makin kedinginan kayak di kutub hahahaha "

" Iyaaaa ommmm saaaayyyyaaaaa ngaku "

Sama seperti Udin, dengan hanya menepuk bahu maka kondisi Budin normal kembali,
Nah pada saat giliran Nurdin, belum saja Om Tris bertanya eehhhh si Nurdin langsung mengatakan kalau dia tidak menjalankan puasa 3 hari tersebut dengan wajah memohon. Om Tris hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dan sesekali tersenyum. Kemudian Om Tris mengatakan sesuatu kepada saya.

" Lihat Rud, itulah manusia yang terjadi saat ini. Mereka pikir tidak akan ada orang yang tahu dengan ibadah puasanya heheheehe Kebetulan saja saya diberikan hidayah oleh Allah SWT maka dengan mudah saya bisa mendeteksi apakah Udin, Budin dan Nurdin benar-benar berpuasa atau tidak dan kejujuran mereka itulah yang dituntut. Ini baru saya yang menilai apalagi Allah SWT maka manusia tidak akan bisa berbuat apa-apa kecuali jujur terhadap dirinya sendiri dengan keinginan untuk mendapatkan kualitas keimanan nomor wahid hehehe "

" Ohh gitu ya Om "

" Iya maka itu manfaatkanlah Guru Sejati yang dimiliki oleh setiap manusia untuk menanyakan banyak hal tentang diri agar manusia bisa menjalankan kehidupannya dengan lurus. Jujurlah kalau kondisi keimanan kamu sedang turun sehingga ada yang mengingatkan dan jangan ditutupi dengan perkataan seolah-olah kamu manusia yang benar, alim dan bermoral "

" Kalau tidak jujur bagaimana Om ? "

" Kamu khan lihat sendiri bagaimana Udin dan Budin merasakan sendiri apa yang telah mereka perbuat. "

" Iya ya Om "

" Jangan iya iya saja. Bagaimana puasa kamu di bulan Ramadhan tahun ini "

" Kurang baik bahkan tidak baik, Terjadi penurunan keimanan yang luar biasa Om "

" Ya sudah. Banyak-banyaklah membaca Istighfar "
Foto kenang-kenangan sebelum Om Tris (baju coklat dekat lukisannya) meninggal dunia (dok.pribadi)

Rabu, 01 September 2010

Lebaran Yang Harus Melebar Kemana-mana

Lebaran bagi bangsa Indonesia adalah budaya setelah menjalani puasa di bulan Ramadhan sebulan penuh. Dikatakan budaya karena di dalam Islam tidak dikenal dengan istilah lebaran. Dalam Islam yang dinamakan Hari Raya Akbar adalah Hari Raya Qurban atau Idul Adha. Sedangkan penamaan Lebaran dalam Islam dikenal dengan Idul Fitri.

Fitri bisa berrati suci atau kembali kepada fitrahnya sebagai manusia. Pertanyaannya adalah sudah berapa kali kita merayakan Lebaran ? Berapa kali kita mengalami fitrah kembali ? Apa yang dirasakan setelah puasa di ulan Ramadhan ? Bagaimana kualitas keimanan kita setelah puasa di bulan Ramadhan ? Apakah fitrah identitik dengan hura-hura atau perenungan ? Jawabannya hanya masing-masing individu yang bisa mengatakannya.

Alhamdulillah kalau sampai tahun ini kita bisa menikmati atau merayakan Lebaran atau Idul Fitri. Tandanya kita telah diberikan kesempatan oleh Allah untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas keimanan diri kepada Allah SWT, Sang Pencipta.

Bagaimana kita bisa melihat kualitas keimanan kita setelah puasa di bulan Ramadhan ? Apakah pada saat Lebaran ? Jawabannya adalah tidak. Peningkatan kualitas keimanan kita dilihat dan diimplementasikan pada 11 bulan ke depan.

Sesuai dengan kata "Lebaran", penulis berusaha untuk mengkaji kata "lebar" yang menyertai kata Lebaran. Lebar yang dimaksud adalah lebar segala-galanya. Lebar keimanannya yang diikuti oleh lebar kesabarannya, lebar kesederhanaannya, lebar pemikirannya, lebar hatinya, lebar kepandaiannya, dan lebar-lebar yang lain. Pokoknya lebar yang bisa diartikan luas seluas alam semesta ini.

Tetapi jangan sampai lebarnya lebaran hanya berupa main-main atau mainan seperti kata bonek-bonekaan, monyet-monyetan, mobil-mobilan dan lain-lain. Akhiran "an" dimaknai dengan hanya sekedar menyerupai atau semu belaka dan bukan nyata. Semuanya harus dinyatakan an dibuktikan dalam perbuatan sehari-hari sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh Nabi Muhammad SAW selama 23 tahun menuju kewaliannya. Rahmatin lil alamin benar-benar dijalankan dengan baik walaupun penuh dengan tantangan dan cobaan.

Dari sekian banyak peristiwa yang terjadi di negeri ini. Ada yang membuat miris hati ini dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kasus korupsi, bencana alam, musibah tabung gas meledak, naiknya harga-harga bahan pokok, listrik dan sebagainya sudah seharusnya para elit kekuasaan mulai melebarkan akal pikirannya agar segala kebijakannya hanya semata-mata demi rakyat dan bukan untuk golongannya terutama elit kekuasaan yang sebulan penuh menjalankan puasa di bulan Ramadhan. Mereka sendiri merasakan bagaimana susahnya rakyat di tingkat bawah yang masih berkutat pada urusan perut.

Sebetulnya Allah SWT banyak memberikan contoh pada saat umat Islam di Indonesia menjalankan puasa. Hikmah yang diperoleh adalah diam. Kenapa harus diam ? Coba diperhatikan bagi yang berpuasa maka orang yang berpuasa akan mengurangi pembicaraan yang tidak penting apalagi membicarakan orang. Lagipula kalau kita berbicara maka banyak energi yang keluar sehingga menguras energi orang yang berpuasa. Orang berpuasa secara tidak sengaja akan mendiamkan diri karena menahan hawa nafsu, makan dan minum.

Hikmah kedua adalah panas. Kenapa panas ? Orang yang berpuasa akan merasakan panas badan yang berbeda dengan panas badan pada saat berpuasa. Tandanya ada energi negatif yang sedang berperang melawan energi positif. Suasana perang itulah yang mengakibatkan panas tersebut. Bagi orang yang berhasil melewati waktu puasa dari saat subuh sampai maghrib maka panas tersebut lama kelamaan akan berkurang seiring dengan perjalanan waktu.

Hikmah ketiga adalah mengantuk. Hanya orang-orang yang tidak mau berpikirlah yang akan mengalami rasa kantuk karena otak tidak digunakan dengan sebaik-baiknya. Justru pada puasa itulah otak kita harus diasah karena ditunjang oleh kerja hati sehingga terasa ada kepuasaan lahir dan batin.

Dari ketiga hikmah tersebutlah maka kita bisa melebarkan apa yang dimiliki untuk lebih keras bekerja dan ibadah. Layaknya burung yang terbang, makin lebar sayapnya maka burung tersebut bisa terbang tinggi dan menjelajah dunia lebih jauh lagi.

Marilah kita melebarkan akal pikiran dan hati kita setelah Lebaran ini sehingga keimanan yang ada dalam diri benar-benar dapat dibuktikan dan dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari. Dan bukan melebarkan euforia lebaran dengan mengumbar uang, keriyaan, pakaian bagus dan tubuh sendiri. Karena semuanya itu adalah "penyakit" untuk 11 bulan ke depan.

Hikmah Puasa : Teman, Teman Dan Teman

Satu minggu yang lalu, benar-benar minggu pertemanan. Tepat hari Kemerdekaan Republik Indonesia, saya bertemu dengan teman lama dari Balikpapan yang sempat dibuatkan tulisanya dengan judul Hikmah Puasa : Buku Dan Teman Lama. Sebuah pertemuan yang sangat menggugah perasaan saya yang didasari oleh pengalaman masa lalu dan cerita tentang buku pemberiannya yang belum sempat saya colek atau buka sama sekali selama 4 tahun.

Tanggal 19 Agustus 2010, merupakan hari penuh dengan suka duka. Karena hari itu saya menemukan dua berita yang saling bertentangan mengenai seorang teman. Yang pertama berita duka dan keprihatinan atas nasib teman yang dilanda kasus plagiat karya milik orang lain. Kasus ini sempat membuat saya kaget dan terkejut. Sepertinya tidak mungkin dilakukan olehnya mengingat adanya keterbatasan fisik pada dirinya. Tetapi itulah sebuah konsekuensi yang harus dihadapi oleh setiap manusia dalam setiap perbuatannya. Sebagai seorang teman, saya menuliskan juga tentang sosok Ramaditya Adikara dengan judul Ramaditya Adikara, Ada Apa Denganmu ? Apa berita sukanya ?

Kejadian pertemuan tersebut adalah sebuah kebetulan saja. Saat itu kalau tidak salah sore hari saya sedang browsing mencari bahan untuk tulisan saya yang lain. Ehhh pas saya sedang mencari teman yang menguasai tema yang ingin saya tulis. Tiba-tiba saya dikejutkan oleh sebuah profil di FB yang sepertinya saya mengenalnya. Dan benar saja, setelah saya buka profil tersebut ternyata sosok tersebut adalah teman saya sewaktu Kuliah Kerja Nyata UGM di Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga pada tahun 1993. Namanya Ibu Kuntari Retno, seorang dokter gigi dan pimpinan Rumah Sakit Global Medika, Tangerang.


Drg. Kuntari Retno (dok.kuntari retno)

Ibu berparas cantik (yang tidak luntur kecantikannya) dengan 2 orang anak dan suami yang ganteng langsung menghubungi saya setelah saya add jadi teman di FB. Beliau sempat menelpon saya dan menanyakan kondisi saya saat ini. Selain itu beliau memberitahukan teman-teman KKN dulu yang ada di FB. Rasanya seperti kembali ke jaman sewaktu KKN dulu dech. Masa-masa penuh canda, kebersamaan, keruwetan dan sebagainya tetapi tetap kompak dalam satu tim yang dulu dipimpin oleh Dosen Pembimbing KKN kami yaitu Pak Toni Prasetiantono, seorang pengamat ekonomi, penulis tetap di Kompas dan olahraga di tabloid bola (pada saat itu).

Pikiran saya langsung melayang pada masa 3 bulan kebersamaan dalam suka dan duka. Apalagi saat saya melihat kembali foto-foto bersama sewaktu menyelenggarakan acara Lomba Klompencapir, Pameran Hasil Karya Mahasiswa KKN UGM dan lain-lain yang dihadiri oleh Bupati Purbalingga saat itu. Sayangnya saya tidak dapat menemukan foto-fotonya karena hampir sebagian besar barang-barang sewaktu kuliah sudah dimasukkan ke dalam dus dan disimpan di Purwokerto. Mungkin suatu saat saya akan posting foto-foto tersebut. Kangen rasanya dan ingin cepat-cepat kumpul kembali dengan teman-teman KKN. Mudah-mudahan kita bisa berkumpul kembali dan semuanya dalam kondisi sehat wal afiat.

Akhir kata, saya ingin mengatakan kalau puasa tahun ini benar-benar temanya tentang pertemanan. Saya yakin sekali semua ini tidak terjadi kalau bukan kehendak Allah SWT. Ini benar-benar hikmah puasa yang saya dapatkan di bulan Ramadhan ini. Sekali lagi mudah-mudahan Allah Memberkati teman-teman saya yang ada di dunia ini. Amin.

Rabu, 25 Agustus 2010

Kekuatan Sebuah Amanah



Sosok Wanardi (koleksi pribadi)


Perjalanan kedua saya ke Sanghyang Sirah kali ini memang agak berbeda. Berbeda dengan yang pertama yang lebih banyak jalan-jalannya alias wisata. Tapi yang kedua ini lebih kepada kontemplasi diri karena tinggal disana selama 10 hari yang disertai dengan 7 hari berpuasa.
Saya tidak akan mengupas tentang kontemplasi diri tapi ingin menceritakan seorang pemuda sederhana yang saya temui di Sanghyang Sirah. Namanya singkat yaitu Wanardi. Pemuda lajang berusia 37 tahun asal desa Kapetakan Pegagan, Cirebon dengan perawakan seperti orang Indonesia umumnya yaitu kulit sawo matang, rambut lurus, tinggi normal dan selalu berpakaian layaknya seorang santri di sebuah pesantren.

Bicara pesantren maka ini ada hubungannya mengapa Wanardi bisa berada sendirian di Sanghyang Sirah. Sebagai seorang santri sebuah pesantren di Banten, sebenarnya Wanardi sedang menjalankan amanah yang diberikan oleh Kyainya. Pada awalnya Wanardi berpikir amanah tersebut bukan ditujukan kepadanya karena saat itu Kyainya mengatakannya di dalam sebuah forum diskusi di pesantren. " Suatu saat saya menginginkan ada satu saja santri saya yang mau berdiam diri di Sanghyang Sirah selama 40 hari "

PUASA 12

Sebetulnya sudah lama saya ingin menulis tentang puasa 12 ini tetapi selalu terkendala oleh kesibukan dan butuh konsentrasi untuk menulisnya karena saya perlu mengingat kembali peristiwa-peristiwa yang saya alami sekitar 10 tahun yang lalu dan itu menjadi sejarah dalam kehidupan manusia.

Kebetulan saat sedang memulai tulisan ini saya mendapat kabar bahwa teman saya masuk rumah sakit karena penyakit parah yang katanya sudah stadium 3 atau 4 (maaf saya tidak dapat menyebut penyakitnya demi kebaikan bersama).

Sekitar 10 tahun yang lalu keluarga kami mengalami peristiwa yang luar biasa. Peristiwa itersebut nantinya akan membuat kami sekeluarga menjadi tegar, ikhlas, sabar dan sebagainya (atau bahasa agamanya Tawadhu). Seperti yang diketahui, usaha almarhum bapak mengalami kebangkrutan akibat krisis ekonomi tahun 1998. Kebangkrutan itu tidak hanya mengakibatkan kami tidak punya apa-apa tetapi juga diikuti oleh tidak kuatnya Ibu saya menghadapi cobaan ini yaitu ibu saya sering kali masuk rumah sakit.

Hal tersebut berlangsung selama 8 tahun. Ibu sering kali keluar masuk rumah sakit mulai dari penyakit maag yang akut, kantung empedu, diabetes,jantung sampai yang terakhir stroke. Dalam 1 tahun Ibu bisa keluar masuk rumah sakit sampai 4-5 kali dan dalam 8 tahun sudah mengalami koma sebanyak 8 kali . Ibarat peribahasa :" Sudah jatuh ketimpa tangga pula"

Hal tersebut membuat saya sampai putus asa dan menantang Allah dalam setiap doa yaitu " Ya Allah habiskan segala yang kami miliki kalau memang ini bukan haq kami dan kami siap untuk menjadi orang miskin agar keluarga kami bahagia dunia akhirat" Doa ini pernah saya sampaikan kepada orang tua saya termasuk kakek buyut di Sumedang. Mereka hampir menangis dan tidak bisa berkata apa-apa.

Singkat cerita, suatu hari saya dipanggil oleh kakek buyut di Sumedang. Beliau mengatakan ada sesuatu yang ingin dibicarakan dan ini penting sekali. Sesampainya di rumah kakek buyut saya, beliau mengatakan kalau mendapatkan ilham atau mimpi yaitu saya harus puasa untuk membersihkan diri dan mungkin ini salah satu jawaban Allah SWT agar kehidupan keluarga kami menjadi lebih baik. Saat itu saya tidak terlalu banyak bertanya dan memang pikiran saya tidak fokus kepada pembicaran Uyut saya. Ketika ditanya apakah saya siap dan sudi melakukannya. Sempat kaget dan bertanya melakukan apa ? Dengan tersenyum dan tidak marah, Beliau menyuruh untuk puasa 12.


Puasa 12 ??? Apa itu? Begitulah pikiran saya pada saat itu karena memang saya kurang perhatian. Kalau puasa Senin Kamis sudah biasa, puasa Nabi Daud sudah biasa, puasa Qurban sudah biasa, apalagi puasa bulan Ramadhan sudah kewajiban.

Sabtu, 22 Agustus 2009

Memaknai Puasa Dan Fitri Dengan Analogi

Tadi pagi selepas Sholat Subuh, saya bertemu dengan seorang Bapak (sebut saja Beliau). Dari sejak azan Subuh ketika saya datang ke mesjid, Beliau selalu duduk di pojokkan saf kedua dan tampak khusu' berdoa. Setelah selesai Sholat, beliau tetap berada di tempatnya dengan terdiam dan tampak sedang bertafakur.

Ketika saya sedang menuju ke bawah (mesjid kami 2 tingkat dimana tingkat dua dipakai untuk ibadah sholat sementara bagian bawah untuk pengajian anak-anak (TPA)), ada suara yang memanggil saya, "Dik sebentar dik!". Saya terkejut dan mencari suara itu datangnya darimana. Ternyata Beliau yang memanggil saya. Kemudian saya menghampirinya. "Ada apa, Pak?"Beliau menjawab,"Boleh mengganggu sebentar". Jawab saya,"Oh tidak apa-apa lagipula ini masih pagi dan masih ada waktu untuk ngobrol-ngobrol". Akhirnya mengucapkan terima kasih atas berkenannya saya untuk menemaninya ngobrol.

"Tahu ga dik? Saya tahu adik dari tadi selalu memperhatikan saya sejak masuk mesjid sampai selesai sholat tadi" kata Beliau. Terkejut saya mendengarnya karena perasaan saya, Beliau dari awal sampai akhir selalu menunduk dan dengan khusu'nya berdoa tapi kok tahu saya memperhatikannya."Kok Bapak tahu sih?" kata saya. Beliau tidak menjawab tetapi hanya tersenyum. Kemudian Beliau memperkenalkan diri dan namanya sama dengan sahabat Rasul SAW yang menjadi Khalifah ke-dua pada jaman setelah Rasul SAW wafat. Beliau juga bertanya nama, alamat dan sudah berapa saya tinggal.

Setelah bicara kesana kemari, Beliau bertanya,"Kapan mulai Puasa Ramadhan?". Jawab saya " Ya tinggal sekitar 1 bulan lagi pak". "Alhamdulillah" jawab Beliau. "Bagaimana puasa ramadhan tahun lalu dik? Lancar?" tanya Beliau. " Puasa Ramadhan tahun lalu saya tidak mendapatkan apa-apa Pak selain lapar dan haus", jawab saya dengan polosnya.

"Jarang saya mendapatkan jawaban seperti ini dik" kata Beliau. Kok bisa sih apa ada yang aneh dalam hati saya. Kata Beliau banyak orang yang belum bisa menjawab apabila ada pertanyaan seperti itu. Setelah itu  Beliau dengan lancarnya menjelaskan tentang analogi puasa. Nah ini cerita serunya (pikir saya saat itu)


Beliau menganalogikan antara puasa dengan Pesta Olahraga seperti Olimpiade, Asian Games, Sea Games, Piala Dunia, Euro sampai Piala Thomas-Uber dan lain-lain. Beliau menjelaskannya seperti ini:

1 Puasa dan Pesta Olahraga pada akhir/ujungnya yang ingin dicapai adalah prestasi. Prestasi dalam olahraga adalah medali (emas,perak dan perunggu), Piala Kejuaraan dan lain-lain. Kalau puasa adalah diterimanya puasa oleh Allah secara utuh tanpa ada yang kurang maupun lebih (maaf saya kurang bisa menjelaskan dengan dalil-dalil dalam Qur'an dan Hadist seperti Beliau jelaskan kepada saya).

2. Bagaimana prestasi dapat diraih dengan hasil yang luar biasa? Prestasi diperoleh dengan latihan/kerja keras dari hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan sampai pada hari H (hari pertandingan) Kalau kita latihannya benar dan mengikuti apa yang telah diprogramkan seperti atlet Cina, Rusia dan Amerika Serikat dengan program yang terstruktur maka tidak heran mereka selalu menjadi nomor satu (wahid). Puasa pun juga begitu, selama 11 bulan sebelum Puasa Ramadhan seharusnya kita latih tanding dengan melakukan puasa Senin-Kamis, puasa Nabi Daud, Puasa Muharram dan lain-lain sehingga ketika pada hari H-nya (bulan Ramadhan) kita akan mendapatkan prestasi yang paling baik dihadapan Allah SWT.

3. Prestasi selama pertandingan juga bisa diperoleh dengan konsentrasi. Nah ini yang kadang-kadang atlet sering blunder yang harusnya dapat emas malah hanya dapat perak atau perunggu atau tidak mendapatkan apa-apa. Puasa pun demikian, konsentrasi kita harus dimulai dari sahur sampai azan maghrib, biasanya yang mengakibatkan konsentrasi puasa kita buyar adalah saat terakhir yaitu menjelang berbuka. Coba kita jujur dengan sendiri, saking sudah laparnya akhirnya kadang-kadang kita selalu lihat jam, bernafsu ingin beli makanan ini itu, dan kadang-kadang nungguin makanan di meja makan. Padahal Rasul mencontohkan kita untuk berbuka dengan teh manis dan tiga butir korma. Perkataan beliau membuat pikiran saya ke pertandingan Piala Champion MU VS Munchen tahun 1999, dimana menit terakhir pada kedudukan 1-1 Ole Gunnar Solkjaer membobol gawang Kahn. Gol itulah memupuskan harapan Munchen menjadi juara karena kurang konsentrasinya pemain-pemain Munchen pada menit-menit terakhir. Hahahahaha kayak pengamat bola aja.

4. Prestasi itu diperoleh melalui kerja keras, latih tanding dan disiplin. Fokusnya adalah ke pertandingan yang sebenarnya dan tidak memikirkan lagi hal-hal yang remeh temeh karena sudah direncanakan secara matang. Itulah gunannya perencanaan yang sistematis menurut versi Beliau. Puasa Ramadhanpun demikian. Beliau menjelaskan bagaimana puasa hanya dijadikan ajang untuk mengumbar umbar uang (coba dipikir besaran mana pengeluaran selama bulan puasa atau bukan bulan  puasa), yang dipikirkan THR, jarang orang bisa beritikaf di mesjid selama 10 hari terakhir karena semua berkonsentrasi mencari uang untuk lebaran (jadi selama 11 bulan ngapain kata Beliau, wah dalam hati saya berat nih karena kebutuhan dan pendapatan tidak seimbang tiap bulannya tapi boleh juga kalau ga dicoba khan ga pernah tahu) Saya berpikir bisa, bagaimana kalau tiap hari saya masukkan ke celengan rata-rata Rp 20 ribu-30 ribu tanpa pernah saya colek-colek tuh celengan sampai bulan Ramadan kalau dihitung bisa mencapai Rp 6-7 juta. Wah benar juga tuh Bapak. Istilah Beliau mengenai  puasa bulan Ramadhan bagi orang jaman sekarang : 10 hari pertama ramai di mesjid, 10 hari kedua ramai di mall-mall/pusat perbelanjaan dan 10 hari terakhir ramai di terminal/stasiun/bandara (yang seharusnya bulan penuh rahmat, penuh pengampunan dan menjauhkan kita dari api neraka)

5. Yang lebih penting lagi, prestasi dapat diperoleh dengan dukungan dan doa dari orang tua, saudara, teman sampai Presiden seperti atlet Indonesia yang mau ke Olimpiade Beijing mohon doa restu dan pamitan dengan Presiden SBY dengan harapan mendapatkan prestasi yang terbaik. Puasa pun juga demikian, sebelum puasa Ramadhan, kita berziarah ke makam orang tua kita yang telah meninggal atau berkunjung ke orang tua yang masih hidup, saudara, teman, dan tetangga disekitar lingkungan kita untuk memohonkan maaf atas kesalahan kita selama 11 bulan, mohon doa restu agar dimudahkan ibadah kita selama bulan puasa karena makin banyak orang yang mendoakan kita makin makbul ibadah kita sehingga dapat diterima Allah SWT.(Sirothol mustaqim - jalan lurus/jalan tol)

6. Jadi kalau sudah prestasi dicapai orang tidak perlu bertanya-tanya lagi karena sudah tersiar di koran-koran, majalah, radio, tv dan internet serta ditambah hadiah dari mana-mana. Semua orang bangga dengan prestasi kita terutama orang tua, orang-orang terdekat sampai Presiden karena membawa nama baik bangsa dan negara. Sama dengan puasa ketika prestasi puasa kita dijalankan dengan baik sesuai dengan Standar Operation Procedur (SOP) dari Allah SWT maka tampak dari penampilan, tingkah laku, amal perbuatan dan rejeki akan selalu mengalir. Jadi kalau ditanya oleh orang tua ataupun orang lain, bagaimana puasa Ramadhan kemarin atau apa yang didapat selama bulan puasa Ramadhan maka kita bercerita dengan lancar, gembira, panjang lebar karena  kita telah mendapatkan puncak prestasi tertinggi dari Allah SWT. Itulah penjelasan Beliau tentang analogi Puasa Ramadhan.

Persis jam 6.30 pagi saya pamitan dan saya katakan nanti saya kembali lagi karena mau pesan kopi dan makanan kecil. Tidak enak dan nikmat ngobrol tanpa kopi dan pisang goreng hehehehe. Sekitar 30 menit kemudian saya kembali lagi ke mesjid dengan harapan akan dapat ilmu pengetahuan dan pengalaman dari Beliau dan sayang untuk dilewatkan. Ternyata beliau sudah tidak ada di tempat ketika saya tanyakan ke penjaga mesjid tentang Beliau. Penjaga mesjid mengatakan sejak selesai subuh tadi mesjid kosong tidak ada siapa-siapa. Lho kok begitu khan dari subuh saya ngobrol dengan seorang Bapak sambil menyebutkan ciri-cirinya. Apakah penjaga tadi tidak mendengar suara kami berbicara. Penjaga mesjid mengatakan tidak mendengar apa-apa dan juga tidak tidur dari subuh serta selalu membersihkan lantai dua setiap selesai sholat subuh. Aneh.

Jadi sejak subuh tadi saya berdiskusi dengan siapa. Manusia atau makhluk gaib. Dalam hati masa bodo lah tetapi saya bersyukur mendapatkan ilmu tentang puasa dan dapat menambah wawasan pikiran tentang agama yang saya anut.  Begitulah ceritanya dan mudah-mudahan mendapatkan manfaat dari cerita ini.

TAQABALALLAH MINNAA WA MINKUM, SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1431 HIJRIAH