Kamis, 01 September 2011

Menangkap Esensi Kehidupan



Saya yakin sudah banyak tulisan yang menceritakan pernak pernik kehidupan. Tapi ada satu yang menarik dari kehidupan yaitu pengalaman kehidupan orang. Ujung-ujungnya bicara tentang cinta. Cinta asmara, cinta keluarga, cinta saudara, cinta teman, cinta tanah air, cinta manusia sampai cinta terlarang. Cinta menjadi rumit apabila manusia belum mampu menangkap esensi kehidupan.


Esensi? Ya, begitulah saya menamainya atau mungkin juga bisa dipakai kata inti. Rahmatan lil alamin, itulah yang diajarkan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Atau bahasa kerennya PEACEFUL LIFE. Sebenarnya kalau kita pelajari lagi lebih dalam maka ada keterkaitan dengan 10 Perintah Tuhan-nya Nabi Musa. Ini juga berkaitan dengan keadilan. Keadilan versi Nabi Musa memang agak berbeda dan rasanya berat untuk dijalankan oleh manusia saat ini. BERSEDIA MENDERITA DEMI KEBAHAGIAAN ORANG LAIN. Menarik dan butuh perenungan untuk memahami kalimat di atas.



Pada akhirnya kita menyadari, kalau esensi kehidupan bukan hanya mempelajari kitab-kitab suci sampai ngelotok tetapi kuncinya adalah istiqomah atau terus melakukan atau just do it sesuai aturan yang diperintahkan Tuhan dengan keyakinan penuh atau haqqul yaqin. Kembali lagi ujungnya adalah WHAT YOU HAVE DONE. Kalau sudah begitu kebenciaan terhadap sesama, sekelompok atau seluruh manusia dapat dihindari. Semua tergantung kepada manusianya.


Mau ke kiri atau ke kanan, atas atau bawah, surga atau neraka, senang atau susah dan seterusnya. Benturan-benturan terjadi karena merasa "ter" atau mengagungkan egosentrisme atau tertutupnya empati dan simpati atau masa bodo dengan situasi kondisi orang di sekitarnya. Yang penting saya senang. Kalau hal tersebut tidak bisa terkontrol maka akan ada "kitab suci" baru versi manusia yang lupa keberadaannya di dunia. Ayat-ayat bisa dibuat seenak udelnya sampai mengabaikan esensi kehidupan yang hakiki. Tidak mau tahu dengan apa yang telah Tuhan perintahkan. Nilai-nilai ibadah ritual dan sosial diabaikan demi kepentingan pribadi. Ketakutan dan keserakahan menjadi sesembahan. Ketakutan akan kehilangan kekuasaan, harta dan "miliknya". Keserakahan yang merajalela karena tidak pernah puas dengan apa yang dimiliki atau lebih tepatnya tidak pernah bersyukur. Keegoan, emosi, spiritualitas harus terukur dan terjaga agar mengerti makna kehidupan, MENGERTI DIMANA POSISINYA DAN BERAPA PORSINYA.


Di negeri kita sudah banyak orang "pintar" dan menduduki tempat empuk. Menariknya umur mereka muda-muda tetapi secara mental dan spiritual mereka rendah atau nol. Yang terjadi kesemena-menaan, nilai menghormati-menghargai antara yang tua dan muda terabaikan, rasa sopan santun hanya kata di mulut tanpa perbuatan sehingga yang ada kenaifan dan omong kosong belaka. EGP dan DL menjadi tren. Berbeda dengan orang tua kita dulu yang ditempa dan terasah intelektual, emosi dan spiritualnya melalui kawah candradimuka kehidupan sesuai Standard Operation Procedure (SOP) Tuhan dan nilai-nilai budaya luhur nenek moyangnya. Satu hal apa yang dijalani mereka lebìh modern dan lebih peaceful life dibandingkan dengan generasi sekarang.

Akhir kata, tak ada kata akhir dalam mengerti kehidupan dan semuanya akan berakhir tatkala telah datang hari akhir pada setiap manusia.

Sumber : Cechgentong dalam Forum Diskusi Komunitas Spiritual Bawah Tanah, 17 Agustus 2010.

NB : Sebetulnya ini tulisan lama yang dipublish di Facebook hari ini oleh teman saya dari Brunei Jaya Permana untuk perenungan Idul Fitri

Selasa, 25 Januari 2011

Semuanya Karena Umur

1295926992700760168
inmystery.blogspot.com

Umur, hmmmm semuanya hanyalah angka-angka. Mengapa harus ada perbedaan. Tua dihormati, muda dihargai. Tetapi tetap saja ada unsur perbedaan antara senior dan yunior.

Ini hanyalah hitungan alam yang memang sudah menjadi kehendak Sang Ilahi. Tetapi manusia terlalu banyak sak waksangka. Bagaimana ke depannya nanti ? Lha manusia sudah diridhoi oleh Allah SWT. Mau bergerak ke kanan atau ke kiri. Monggo, kalian manusialah yang menjalankan dan memilih. "Aku sudah meridhoi dan merestuiNya sejak kau turun ke bumi. Jadi pilihlah pilihan yang tepat. Gunakanlah Iqromu dengan benar. ingat hati-hati, jeli dan teliti. Kembali tiga kata itu yang keluar dan selalu mengingatkan manusia untuk mempertimbangkannya sebelum mengambil keputusan.

Takdir ? Jodoh ? Kalianlah manusia yang menentukan. Kalau kalian diam maka itu tidak akan terjadi kecuali hanya menjadi penonton bahkan penggembira saja di dunia dan hanya bisa melihat manusia-manusia lain menikmati perjalanan hidupnya. Sementara yang diam hanya bisa termanyun dan selalu bingung memikirkan hidupnya.
Ayo bergerak... bergerak dan bergerak . Asah terus rasa dan perasaanmu sebagai manusia. Karena Sang Maha Kuasa telah memberikan peluang, fasilitas dan kemudahan untuk manusia memilih dan melakukan. Intinya adalah lakukan saja tanpa banyak pikiran negatif yang mengganjal manusia untuk tidak mampu bergerak.

Kasih Sayang atau Rahman RahimNya dimana dan bagaimana ? Tumbuhkanlah cintamu terhadap diri, orang tua, kekasih, mertua, keluarga besar dan seluruh umat manusia di dunia maka akan mengerti makna kasih sayang. Kata kuncinya adalah Cinta. Manusia berani menyatakan cinta maka manusia harus berani bertanggung jawab atas apa yang dinyatakan. Buktikan dan buktikan pernyataanmu dengan konsekuensi dan tujuan yang pasti bagi masa depan yang cemerlang.

Jangan hanya sekedar pasrah bungkukan tetapi sebenar-benarnya pasrah yang tawadu ada di dalamnya. Tanpa itu sia-sialah kepasrahan tersebut. Tidak harus berjalan lurus karena Allah tahu apa yang manusia mau dan inginkan. Tinggal bagaimana manusia membaca dan mengambil pelajaran dalam perjalanan hidupnya. Yakin akan satu titik tujuan yang ingin dicapai maka tergapailah satu titik tujuan tersebut. Jangan takut dan tumbuhkan niat serta pikiran positif sehingga memberikan aura dan energi yang positif bagi alam semesta di sekitarnya.

Bagaimana kalau tidak terjadi atau sesuai dengan yang diinginkan ? Jalani saja dan jangan banyak bertanya sambil mempersiapkan segal hal yang terburuk. Ucapkan terus rasa bersyukur kepada Sang Pencipta karena Sang Pencipta selalu memberikan yang terbaik untu CiptaanNya. Hanya pikiran manusialah yang membuat manusia menjadi kalut dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Intinya adalah Tuhan mempunya niat yang Maha Baik bagi CiptaanNya. Jalan terus Sayang... Jangan Menyerah Kawan... Buktikan dan Nyatakan Saudara-Saudari. Tuhan selalu mengijabahi semua keinginan dan kemauan manusia. Setan saja dipenuhi maka Manusia pasti dan pasti dipenuhi dengan segala keikhlasanNya.

Perbedaan umur itu hanyalah kalkulasi semu dan tidak menjadi patokan akan sebuah kegagalan. Umur tinggallah umur. Tergantung bagaimana manusia mampu melalui umurnya dengan nuansa Rahmatan Lil Alamin. Jadi semuanya bukan karena umur dan kebetulan saja ada yang dilahirkan lebih dulu dan paling akhir. Tetap semuanya tergantung kepada kata "IMAN". Tidak ada istilah uzur tetapi yang ada adalah umur yang dimanfaatkan untuk kehidupan.



Jumat, 07 Januari 2011

Kualat

Banyaknya tulisan yang berisi wacana dan polemik tentang Tuhan sungguh menggelitik pemikiran saya. Sungguh aneh dan ajaib manusia selalu saja mempertanyakan Sang Pencipta. Padahal di dalam kitab suci Al Quran jelas-jelaslah dikatakan bahwa untuk mencari Sang Pencipta maka lihat saja ciptaanNya karena sesungguhnya di dalam ciptaanNya terkandung hikmah yang luar biasa bagi orang-orang yang mau berpikir.

Pada tulisan ini saya tidak akan mengupas atau menyajikan ayat-ayat dalam kitab suci karena saya merasa para pembaca lebih memahami dan menguasainya. Jadi saya tidak ingin menggurui tetapi ingin berbagi pengalaman yang berkaitan dengan tema ketuhanan.

Sewaktu kecil dulu, kakek saya pernah mengatakan kepada saya. Orang tua yang melahirkan kita adalah wakil Allah SWT di dunia maka itu kita tidak boleh kualat dengan orang tua. Maksudnya ? Ingatkah waktu kecil pada saat kita bermain dan bercanda dengan teman-teman. Ada candaan yang pantang untuk dilakukan, yaitu menyebut sembarangan nama orang tua terutama nama bapak. Kita pasti marah besar bahkan teman yang menyebut nama bapak kita dengan sembarang akan kita pukul. Tandanya apa ?

Betapa mulia,  dijunjung tinggi dan ada nilai penghormatan yang mungkin sakral terhadap orang tua yang melahirkan kita. Sebuah penghinaan yang tidak bisa ditoleran dan prinsip apabila ada orang yang menyebutnya sembarangan karena kita tidak mau dianggap durhaka dan kualat. Maka itu jaman dulu untuk memanggil bapak-ibunya menggunakan bahasa yang santun seperti rama, bunda, ayahanda, abi, umi dan lain-lain. Dan kita akan dikutuk habis-habisan apabila kita hanya menyebut namanya saja. Kualat !!!

Dari apa yang saya jelaskan di atas maka sudah keharusan untuk tidak sembarangan menyebut nama yang menciptakan kita yaitu Allah SWT. Sebuah keharusan, apabila kita menyebut nama Allah SWT dengan baik. Kita mau menghormati dan menyebut nama orang tua  yang merupakan wakil Tuhan dengan sebutan yang santun maka sudah selayaknya kita menyebut nama Tuhan dengan bahasa yang luhur dan tinggi. 

Maka itu kakek saya mengatakan betapa orang dulu takut sekali sembarangan menyebut nama Tuhan sehingga terciptalah banyak penyebutan terhadapNya dengan sebutan yang  mulia seperti Nur Gusti Maha Agung, Yang Maha Kuasa, Sang Pencipta, Yang Maha Tunggal, Gusti Allah dan masih banyak lagi. Penyebutan nama Tuhan tersebut dilandasi oleh rasa takut atau lebih dikenal dengan takwa atau beriman. Lihat dan belajarlah dengan orang-orang dulu bagaimana mereka memposisikan Sang Pencipta pada kehidupan sehari-hari.

Bagaimana dengan kondisi saat ini ? Makin banyak orang yang keblinger dan seenak udelnya bahkan mengaku menjadi Tuhan. Betapa mudah dan entengnya menyebut nama Tuhan tetapi sikap dan perbuatannya mengecilkan Tuhan. Lucunya, mereka mampu menyebut nama orang yang memiliki jabatan dan kekayaan dengan nama yang seolah-olah merekalah segala-galanya. Padahal tidak ada perbedaan sama sekali karena sama-sama manusia. Apakah mereka sudah tidak takut kualat ? Tidak takut dengan azabNya ? Ingin kualatkah ? Silahkan lihat kondisi negeri ini dan jawablah dalam hati. 

baltyra.com


NB : Kita tahu dengan 20 sifat Allah SWT yang ada dalam diri manusia tetapi kita tidak tahu apa, dimana dan bagaimana sifat 20 tersebut ? Kalaupun paham keberadaannya  paling  hanya 17 yang selalu dilakukan sehari semalam. Pertanyaannya adalah dimana sisa yang 3 nya ? Begitulah Uyut  mengatakan kepada saya dengan nada menasehati dan mengingatkan agar manusia mengerti kemanusiaan yang ada di dalam dirinya. Mangga atuh dicari tetapi dimana dan bagaimana ???

Kamis, 16 Desember 2010

Apakah Berbakti Atau Anak Sholeh ?

Beberapa hari ini saya tanpa sengaja selalu menemukan sekumpulan orang yang berdiskusi tentang kesholehan seorang anak terhadap orang tuanya. Ada satu yang menarik dari kata sholeh tersebut dan ini berkaitan erat dengan kata BAKTI atau ber BAKTI.

Sebetulnya apa sih yang ditinggalkan oleh manusia kelak pada akhir hayatnya nanti ? Banyak orang mengatakan ada 3 hal yaitu Ilmu, Amal dan Anak Sholeh. Dari tiga hal itulah, saya berusaha untuk berpikir dan mencari jawaban yang sederhana untuk meyakinkan diri kalau memang itulah yang harus dipertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah SWT.

Mengapa ? Karena ini berkaitan erat dengan pengalaman pribadi dan orang lain. Banyak teman yang mengatakan demikian setelah tahu kondisi saya saat ini, " Kamu memang anak sholeh, Cech. Karena mau menjaga, merawat, dan berkorban segalanya demi orang tuamu yang sudah mulai lanjut usia dan sakit-sakitan "

Saya hanya bisa tersenyum tetapi bertanya-tanya apakah benar saya ini adalah anak yang sholeh. Tanpa sengaja setelah mendengar beberapa diskusi yang telah disebut di awal tulisan ini maka cap anak sholeh masih menjadi tanda tanya (?) bagi diri saya walaupun tidak mutlak kesimpulannya tetapi hal tersebut masih perlu dibuktikan kelak pada saatnya nanti.

Kapan waktunya ? Kembali beberapa orang teman bertanya. Nanti ketika saya dalam kondisi yang sama dengan orang tua saya saat ini dimana dalam usia lanjut usia, sakit-sakitan dan tak punya daya upaya lagi. Apakah anak saya kelak mau menjaga, merawat, memperhatikan dan mengorbankan segalanya demi saya dan istri kelak. Dalam satu syarat mutlak yaitu keikhlasan seorang anak untuk berbakti kepada orang tuanya. Apabila itu terjadi barulah bisa dikatakan kalau saya termasuk ke dalam ANAK YANG SHOLEH. 

Lho kok begitu kesimpulannya ? Ya memang begitu, karena saat ini saya belum punya anak dan masih mampu untuk menjaga, merawat dan menjaga orang tua yang sakit maka tahapan saya saat ini masih dinamakan Berbakti kepada Orang tua.

Kesholehan itu akan terwujud dan jelas hakekatnya ketika anak saya mau melakukan hal yang sama seperti apa yang saya lakukan terhadap orang tua saya saat ini. Nah disitulah cap kesholehan seorang anak diberikan karena dengan ilmu yang dimiliki maka saya dapat mengamalkannya sehingga menjadi contoh kepada anak-anak saya untuk beramal baik kepada siapapun terutama orang tuanya sendiri. Disitulah keberhasilan saya sebagai orang tua untuk menjadi teladan bagi anak-anak. Barulah cap anak sholeh diberikan kepada saya dan cap berbakti diberikan kepada anak saya. Hal ini terus menerus berkesinambungan layaknya memindahkan tongkat estafet kehidupan ilahi dari satu generasi ke generasi berikutnya sampai akhir jaman.

imamrm.wordpress.com


Ya Allah muluskanlah estafet kehidupan keilahianMu pada anak cucu saya sampai akhir jaman.

Kamis, 25 November 2010

Sebagai Muslim Maka Saya Merayakan Tahun Baru Islam 1432 H

Tanpa terasa beberapa hari lagi, umat Islam di seluruh dunia akan memperingati dan merayakan Tahun Baru Islam 1432 Hijriah. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, bagi saya dan Padepokan Galeuh Pakuan Pajajaran di Sumedang, Tahun Baru Islam yang lebih dikenal dengan 1 Suro mempunyai arti tersendiri.


Hari Raya tersebut bukan hanya sekedar merayakan dengan suka cita tetapi mengandung makna yang luas. Karena pada hari tersebut, setiap tahun kami memperingatinya dengan khusu' dan mempunyai nilai budaya yang khas terutama budaya Sunda (budaya karuhun). Pada malam hari menjelang pergantian tahun Islam, kami berkumpul di padepokan dengan kegiatan melakukan doa bersama (tawasulan) kepada Allah SWT, Rasululllah, dan para karuhun.


Pada keesokan paginya, kami melakukan ziarah ke beberapa makam karuhun yang ada di sekitaran Sumedang dan beberapa daerah di Jawa Barat. Ziarah ke makam karuhun diawali dengan ziarah ke makam Prabu Tajimalela di Gunung Masigit. Seperti diketahui Prabu Tajimalela adalah sosok yang mendirikan Kerajaan Galeuh Pakuan atau orang mengenalnya dengan nama Kerajaan Tembong Agung di Sumedang.


Setelah melakukan ziarah, dilanjutkan dengan acara seni budaya Sunda dan dibunyikannya Gong Renteng Kabuyutan (Pusaka Leluhur Kerajaan Sumedang Larang) yang terkenal dengan kesakralannya dan tidak setiap tahun dibunyikan.


Sebelum saya mengulas tentang apa itu Tahun Baru Islam menurut budaya Sunda, maka saya ingin sedikit memberikan suatu ilustrasi cerita dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan Tahun Baru Islam. Saya menamai 5 waktu kesempatan dalam naungan Rukun Islam sehingga sudah sepantasnya seluruh umat Islam di dunia menyambut datangnya Tahun Baru Islam.


Kesempatan Pertama

" Jang, kalau mau menjadi umat Islam yang baik maka sebaiknya Ujang hafal dan mengerti ucapan dua kalimat syahadat yaitu Syahadat Tauhid dan Syahadat Rasul "

" Ohhhh gitu ya Pak " ujar Ujang menanggapi perkataan Pak Dahlan, seorang pria berumur 40 tahunan yang terkenal dengan rajin menjalankan sholat baik wajib maupun sunah.

" Ya harus gitu dong. Jangan asal ucap tanpa tahu apa maknanya "

Tiba-tiba terdengar suara dari telpon genggam Pak Dahlan.

" OK, Bro. Saya akan siapkan tempatnya dan jangan lupa undang teman-teman pada acara tahun baru " jawab Pak Dahlan.

" Saya dengar Pak Dahlan menyebut tahun baru. Tahun Baru apa Pak ? "

" Masak sich kamu tidak tahu. Itu lho Tahun Baru menjelang akhir tahun. Sudah menjadi tradisi bersama teman-teman kumpul dan pesta di sebuah kafe sambil menghitung detik-detik waktu memasuki tahun yang baru. "

" Ohh gitu ya !!! "

" Lha kamu tahun baru mau kemana, jang ? Apakah kamu dan teman-teman mengadakan acara bersama-sama ? "

" Hehehe tidak Pak, karena itu bukan tahun baru saya yang telah secara aklamasi mengucapkan Syahadat Tauhid dan Syahadat Muhammad. "

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kesempatan Kedua

" Jang, saya perhatikan kamu jarang sekali kelihatan shalatnya "

" Aduh mas perhatian sekali dengan saya "

" Iyalah sebagai sesama umat Islam, kita harus saling mengingatkan apalagi shalat itu khan tiangnya agama kita, Jang "

" Hmm hehehe iya sich "

" Kok malah tertawa. Sudah shalat Maghrib atau belum ? "

Beberapa saat kemudian datanglah seorang anak muda.

" Lagi ngapain nih pada kumpul di sini. Daripada bengong mending kita omongi rencana kita pada acara malam tahun baru. Bagaimana kalau kita keliling kota dengan konvoi sambil membawa beduk. Terus kita kumpul deh di Ancol. Khan seru, kumpul ramai-ramai sambil mendengarkan konser musik dan diiringi kembang api "

" Itu acara apa ya. Kok harus keliling kota dan kumpul di Ancol sampai malam bahkan subuh ? "

" Masa kamu tidak tahu Jang. Itu lho menyambut malam pergantian tahun. "

" Tahun Baru Masehi ? "

" Iya memangnya Tahun Baru apa ? "

" Kirain tahun baru yang memperingati kejadian sejarah perjalanan Rasulullah dalam menjalankan syiar agama dengan melakukan hijrah dari Mekah ke Madinah. "

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kesempatan Ketiga

" Sebagai umat Nabi Muhammad SAW, sudah selayaknya kita melakukan puasa di bulan Ramadhan dan beberapa puasa sunnah dalam Islam terutama puasa senin-kamis. Jangan seperti kamu, Jang. Tidak pernah puasa senin-kamis. "

" Iya nih, saya memang bukan termasuk umat Muhammad SAW yang baik. Masalahnya saya tidak kuat hahahaha "

" Dasarrrrrr !!!!! "

Datanglah seorang wanita muda dan tampak sekali kalau wanita tersebut dekat dengan pemuda yang bicara dengan Ujang.

" Yang, bagaimana besok ? Apa nich acaranya untuk kita berdua pada malam tahun baru ? "

" Apa ya, bagaimana kalau kita nongkrong di kafe di Mall GI. Saya dengar ada acara bagi-bagi hadiah menyambut malam Tahun Baru "

" Jang, kamu ikut nggak ? "

" Nggak ahhh, takut ganggu kalian "

" Nggak apa-apa. Siapa tahu kamu di sana bertemu pasangan yang cocok. "

" Terima kasih. Lagipula saya nggak pernah dan nggak akan merayakan malam Tahun Baru tersebut. "

" Lha emangnya kamu merayakan Tahun Baru apa ? "

" Tahun Baru yang mengingatkan saya akan perjuangan Nabi Terakhir dalam menyebarkan agama yang saya anut yaitu Islam beserta ibadah yang dijalankannya pada hari Senin dan Kamis. "

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kesempatan Keempat

" Senang sekali saya melihat kamu sukses "

" Yaaa ini berkat kerja keras dan rajin membayar zakat, Jang "

" Bayar zakat ? "

" Iya lah. Tahu ga kamu kalau kita sering membayar zakat maka secara tidak langsung kita telah membersihkan harta yang bukan haq. "

" Ohh gitu. Hebat kamu, Boy !!! Pantesan saja kamu bisa jadi eksekutif muda "

" Hehehe kamu aja yang malas bekerja "

Suara telpon berdering.

" Halo, Ok, gue setuju-setuju aja kalau malam tahun baru kita nongkrong di Pantai Phuket. Suasananya romantis lho apalagi kalau ada ceweknya hahahaha... Jadi kapan kita berangkatnya "

" Boy, elo mau pergi ke luar negeri ya ?! Hebat euy "

" Biasalah acara tahunan bersama para eksekutif muda. Itu lho tahun baruan "

" Jauh banget tahun baruan harus ke sana "

" Sudah tradisi. Nah elo tahun baruan mau merayakan dimana ? "

" Gue ga tahun baruan karena gue udah tahun baruan sebelumnya "

" Lha Tahun Baru apaan tuh Jang "

" Tahun Baru untuk memperingati junjungan Nabi Besar dalam menyebarkan ajaran Islam. Salah satunya ibadah zakat. Sederhana sih hanya buat nasi tumpeng atau kalau ada rejeki potong kambing atau sapi. Kemudian setelah berdoa mengucapkan puji syukur, kami bersama-sama menyantap hidangan nasi tumpeng yang berisi lauk pauk seperti telur, ayam atau kambing atau sapi. "

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kesempatan Kelima

" Jang, ane ingatin ya. Elo khan sudah lama belajar baca Qur'an, masak bacanya begitu. Hancur lebur, ga berirama, dan ga masuk di hatiiii "

" Maafkan saya Pak Haji "

" Elo harus belajar dari Iqro-iqroan lagi. Kalau perlu dari awal "

" Baik, Pak Haji. Kalau begitu saya pamit dulu mau pulang "

" Oke, tapi jangan lupa ya nanti sore elo bantu remaja di sini buat layar di lapangan bola. "

" Lah emangnya ada acara apa Pak Haji ? "

" Masak elo nggak tahu. Entar malam khan malam tahun baru. KIta sekampung mau mengadakan nonton bersama sambil makan-makan dan ngopi bareng, Jang. Apa elo nggak tahu atau lupa ? "

" Nggak sih Pak Haji. Masalahnya saya sudah Tahun Baru sebelumnya ? "

" Lha emangnya elo tahun baru apa ? Perasaan gue malam tahun baru ya Tahun Baru Masehi 1 Januari "

" Heheheehe bagaimana sih Pak Haji ? Khan ada Tahun Baru Islam 1 Muharam. Kemarin saya bersama teman-teman padepokan mengadakan acara tadarusan dan tawasulan pada malam Tahun Baru Islam. "

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------

tahun baru hijriah (moes.blog.uns.ac.id)


Kemudian Ujang menjelaskan demikian kepada para saudara sebangsa dan seagama :

" Sebagai orang keturunan Muslim, setiap tahun saya selalu merayakan acara Tahun Baru Islam 1432 H atau lebih dikenal dengan Suroan. Lho kok keturunan muslim sich. Khan saya lahir ke dunia sudah dianggap muslim karena Bapak-Ibu saya beragama Islam. Jadi bisa dikatakan keturunan Muslim yang masih memegang ajaran orang tua-orang tua jaman dulu yang selalu merayakan Suroan (1 Muharram) tiap tahunnya. Lagipula memang inilah tahun baru Islam yang sudah seharusnya dirayakan. "